Foto 1

Foto 2

Kirab Budaya

Kirab Budaya

Mendirikan Ayu

Seremoni Pembukaan Erau Adat Kutai And International Folk Arts Festival 2016

Foto 3

Closing

Tarian Dewa Erau

Bukit Bangkiray

Statistik

Hit hari ini : 726
Total Hits : 933,885
Pengunjung Hari Ini : 165
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 210,220

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

Prosesi Menjamu Benua Menjelang Erau


Dalam pelaksanaan Upacara Erau Adat Kutai and 5th International Folk Arts Festival 2017, maka empat hari menjelang dilaksanakannya Erau Adat Kutai and International Folk Arts Festival 2017. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura telah menggelar ritual "Menjamu Benua" di beberapa titik di kota Tenggarong. Menjamu Benua dilakukan untuk memohon keselamatan selama Upacara Erau Adat Kutai and International Folk Arts Festival 2017 berlangsung, baik keselamatan Sultan, kerabat, masyarakat Kutai Kartanegara dan wisatawan yang berkunjung ke Tenggarong.

Upacara Menjamu Benua memiliki makna memberi makan kepada para gaib yang mendiami wilayah Kutai Kartanegara. Sekaligus untuk memohon kepada Tuhan yang Maha Esa agar supaya sultan dan kerabatnya diberikan keselamatan, demikian juga masyarakat Kutai Kartanegara atau orang yang berkunjung ke Tenggarong". "Ritual ini untuk memberikan makan gaib yang tinggal di Odah Etam ini, Sekaligus memberitahukan kepada gaib tersebut bahwa erau akan dilaksanakan".

Sebelum ritual Menjamu Benua dimulai, para pelaksana yang terdiri dari 7 orang Belian (ahli mantra laki) dan 9 orang Dewa (ahli mantra perempuan) berangkat dari depan keraton diiringi penabuh gamelan dan gendang serta perlengkapan persembahan berupa 21 jenis kue - kue tradisional, Perapen dan pakaian Sultan, rombongan memasang bendera ( panji - panji ) berwarna kuning dengan lima rumbai di sebelah kiri dan bendera hijau bermotif atau gambar naga di sebelah kanan menuju rumah sultan, menemui Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin II dikediamannya untuk meminta restu, dan Sultan pun memberi restu dengan menghambur beras kuning ke arah pelaksana itu. Sultan juga menyerahkan pakaian sehari-harinya berupa selembar baju, sepotong celana panjang, kopiah untuk dibawa dan disertakan dalam itual menjamu benua. Setelah dilepas oleh sultan, rombongan yang terdiri dari beberapa Belian dan Dewa dengan diiringi tetabuhan alat musik tradisional bergerak maju ke tiga (3) titik di Kota Tenggarong yaitu Tanah Habang Mangkurawang yang disebut Kepala Benua, kemudian depan Museum Mulawarman yang disebut Tengah Benua, dan terakhir di sebelah hilir Jembatan Kutai Kartanegara disebut sebagai Buntut Benua.

Ditiga lokasi Menjamu Benua disediakan semacam balai utama berbentuk kerucut dengan atasnya dasar segi empat yang terbuat dari bambu dan rangkaian janur kuning untuk menaruh sesajian. Pimpinan Belian ini kemudian membacakan Mantra-mantra sambil sesekali menghamburkan beras kuning kearah Balai Bambu yang berisi berbagai macam jajanan tradisional diantaranya ada kue cucur, pulut (ketan), bubur merah, telur rebus, ayam bakar dan aneka kue tradisional lainya


Beluluh Awal Sultan


Beluluh Awal dilakukan di Kedaton Kutai kartanegara pada tanggal 19 Juli 2017, yang hadir pada acara beluluh awal ini antara lain Sultan Kutai Kartanegara H. Aji Muhammad Salehhuddin II, Putra Mahkota H. Aji Pangeran Adapati Prabu Anum Hadiningrat, Pejabat Pemkab Kukar serta Kerabat Kesultanan Kutai, Upacara adat Beluluh ini dimulai sejak pukul 10.00 s/d selesai, Dalam Upacara Ritual Beluluh yang dilakukan seorang Belian terhadap raja/sultan/putera mahkota yang berperan mengucapkan doa memohon kepada yang maha kuasa guna membersihkan diri dari unsur-unsur jahat, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud, maka akan diluluhkan di atas buluh/bambu dan sebagai pertanda dimulainya pelaksanaan Erau. Upacara Ritual Beluluh dilaksanakan pada permulaan sebelum Erau yang dilakukan setiap sore hari selama Erau berlangsung.





Upacara Ritual Beluluh sendiri terdiri dari Beluluh Sultan, Beluluh Aji Begorok, dan Beluluh Aji Rangga Titi. Upacara diawali oleh Sultan / Raja / Putra Mahkota duduk sejenak di tilam Kasturi kemudian bangkit menuju Balai atau tempat duduk mirip kursi setinggi tiga tingkat yang dibuat dari bambu kuning bertiang 41 buah yang berada diatas tambak karang melalui Molo / guci kuningan yang berhias bunga / mayang kelapa dan mayang pinang yang terdapat di sebelah kiri dan kananan. Sesampainya di depan balai Sultan menaiki balai dan duduk di tingkat ketiga persis di bawah hiasan daun beringin dan di belakangnya terdapat Balai Persembahan, sedangkan sebelah kiri dan kanan di pagari oleh Pangkon Dalam 7 bini dan 7 laki dan belian serta di setiap sudut terdapat Penduduk.








 

Demong mengatur dewa laki melaksanakan Memang dan Dewa Bini menghidupkan prapen. Sultan di tutupi Kirab Tuhing diatas kepala di bawah daun beringin oleh dua orang pembantu di sebelah kanan dan dua orang di sebelah kiri. Kirab Tuhing di balik sebanyak tiga kali dan di jatuhkan beras kuning kebelakang. Sejenak kemudian Dewa Laki dan Dewa Bini bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Sultan untuk memberi Tepong Tawar dengan air cindera mata dan air kembang di bagian telapak tangan kanan, kiri, lutut,kanan dan kiri dan betis kanan dan kiri dan di sekakan kemuka. Setelah itu baru turun dari balai untuk di sapukan mencari salah seorang petinggi setempat guna melaksanakan Ketikai Lepas, Sultan berdoa bersama sambil beristirahat, pembantu dewa bergeser berjalan duduk sambil membawa air bunga dalam wadah untuk tepong tawar sekalian yang hadir dan dalam prosesi ini di ruangan di mainkan music gamelan salaseh atau marandowo.



Setelah sultan menjalani beluluh, giliran Putra Mahkota Kesultanan Kutai HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat menjalani ritual Beluluh. Apabila sultan telah melakukan Beluluh, maka Sultan tidak boleh menginjakan tanah atau Betuhing sampai berakhirnya perayaan erau yang ditandai dengan belimbur.


Persiapan Liasion Officer EIFAF 2017

Koordinator Bidang I Seksi Liasion Officer (LO) mengadakan rapat sebagai persiapan dalam menyambut Erau Adat Kutai & 5th International Folk Art Festival (EIFAF) 2017 pada hari ini, Senin, 17 Juli 2017 bertempat di Sekretariat EIFAF “Jam Bentong”.




Rapat dipimpin oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra, Sri Wahyuni, MPP. didampingi Penanggung jawab Koordinator Bidang II H. Syahliansyah, S. Sos., M. Si, Koordinator Bidang I Seksi Acara Drs. Triyatma dan Koordinator Bidang II Seksi  Parade Opening dan Closing Ceremony H. Surya Admadi dihadiri oleh peserta Liasion Officer (LO) dan Staf Dinas Pariwisata Kab. Kukar.




Rapat membahas masalah tugas dan tanggung jawab yang akan diberikan kepada setiap Liasion Official dan Negara peserta EIFAF 2017 yang akan di damping oleh masing-masing Liasion Officer.




Dalam kesempatan itu Ibu Kepala Dinas juga memperkenalkan setiap Koordinator Panitia yang  bertanggungjawab pada bidang mereka masing-masing dan juga memperkenalkan Peserta Liasion Officer yang telah terpilih. Berikut nama- nama peserta Liasion Officier yang terpilih untuk mendampingi para peserta International Folk Art adalah :

1. Wahyu Aulia Wati = Slovakia  

2. Aldi Riandana = Bulgaria       

3. Sandi Mulya Cipta = Thailand           

4. Sherlington Kalapadang = Polandia

5. Heru Wahyu Prasetya = Korsel

6. Dedy Purwa Nugraha = Taiwan

7. Utari Citra Ihsani = Jepang

8. Fajar Siddiq = Vanila Island  

9.Aftia Putri Lovelia = India

Kegiatan ini diakhiri dengan pembagian perlengkapan bagi setiap peserta Liasion Official dan acara makan siang.

Lomba Foto Eksotika Erau Meriahkan EIFAF 2017


Menyandang Festival Budaya Terpopuler Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016, Erau Adat Kutai & The 5th International Folk Arts Festival kembali akan dilangsungkan pada tanggal 22 - 30 Juli 2017 di Tenggarong Kutai Kartanegara, dan  bagi para pecinta fotografi dapat langsung menyaksikan sekaligus memotret keunikan dan pesona wisata budaya yang dimiliki Kabupaten Kutai Kartanegara, tidak hanya itu, tapi juga dapat mengikuti Lomba Foto Eksotika Erau 2017 dengan total hadiah Rp.18.000.000,-.

Kepala Dinas dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni, MPP mengatakan lomba foto Eksotika Erau 2017 tersebut terbuka untuk umum, lomba foto tersebut disponsori oleh PT. Anugerah Bara Kaltim Menurut nya ketentuan lomba foto sendiri sudah diatur sesuai ketentuan lomba. Adapun pemenang lomba akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai.“Bagi juara I pemenang lomba foto mendapatkan uang tunai Rp. 5 juta. Juara II Rp.  4 juta, Juara III Rp. 3 Juta , Juara Favorit Rp. 3 Juta serta Juara Terunik Rp. 3 Juta,

Melalui lomba foto ini diharapkan dapat memberikan informasi yang luas sehingga menjadi daya tarik kunjungan wisata, sehingga potensi wisata yang ada di Kutai Kartanegara akan dikenal para wisatawan baik lokal maupun mancanegara melalui pagelaran EIFAF 2017.Ketentuan lomba Eksotika Erau  yang harus diperhatikan oleh peserta diantaranya, peserta tidak diperkenankan foto kolase dan montase. Editing diperkenankan hanya sebatas warna, kontras, dodging, burning, rotating dan cropping. Pengambilan foto dilakukan  pada semua kegiatan EIFAF mulai tanggal 22 s/d 31 Juli 2017.

Pengiriman foto sendiri dapat melalui email lombafotoeifaf@gmail.com, peserta boleh mengirim hasil karya foto maksimal 5 foto dengan ukuran sisi panjang 1.500 pixel (foto horizontal) dan 1.000 pixel (foto vertical), atau maksimal 1 MB, format file dalam bentuk JPEG dengan resolusi 300 dpi. Penulisan nama file sebagai berikut kategori Erau Nama Peserta_Judul Foto_Kategori_No HP Contoh Dody_Belimbur_Erau_081347476750. Begitupun dengan kategori On The Spot.

Penjurian dilakukan oleh fotografer nasional professional, pihak PT. Anugerah Bara Kaltim, dan Kadispar Kukar. Adapun untuk poling foto favorit, peserta tidak diperkenankan menggunakan fasilitas Auto like/bom like ataupun fasilitas sejenisnya.Pemasukan foto dilakukan pada tanggal 1 s/d 11 Agustus 2017  penentuan nominasi 14 s/d 18 Agustus 2017, Poling foto favorit 21 Agustus s/d 21 September 2017. Penjurian 29 September 2017, pengumuman pemenang 30 September 2017 dan penyerahan hadiah pada tanggal 1 Oktober 2017.






Pembentukan Kelompok Sadar Wisata Desa Jembayan.


Bertempat di Balai Pertemuan Umum  Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu diadakan Pembentukan Kelompok Sadar Wisata yang hadiri Kepala Bidang Pemasaran Drs. Witontro dan Kasi Promosi Drs. Triyatma, serta Kasi Pemberdayaan Masyarakat Wisata Airin Susanti, SE. MM, dari perwakilan Kecamatan, Desa, LPM dan Lembaga Adat, yang berlangsung pada hari kamis 18/5/2017.

Menurut Hartono yang merupakan ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa mengatakan Jembayan merupakan Kampung Tuha sebagai pendahulu desa-desa yang ada sehingga meninggalkan berbagai peninggalan yang bersejarah, seperti situs makam, monumen perjungan, gua dan bangunan jaman jepang, serta situs sejarah lainnya. Ditambahkannya potensi –potensi tersebut perlu dikelola dan diberdayakan dengan maksimal maka salah satunya dengan membentuk kelompok Masyarakat sadar wisata atau POKDARWIS yang peduli dan komitmen membangun Desa Jembayan.

Semantara itu dalam sesi pembekalan oleh Kabid Pemasaran Drs. Witontro mengatakan bahwa Sadar Wisata, adalah suatu kondisi yang menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi atau wilayah.

Menurutnya Kelompok Sadar Wisata, selanjutnya disebut dengan Pokdarwis, adalah  kelembagaan di tingkat masyarakat yang anggotanya terdiri dari para pelaku kepariwisataan yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab serta berperan sebagai penggerak dalam mendukung terciptanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta terwujudnya Sapta Pesona dalam meningkatkan pembangunan daerah melalui kepariwisataan dan manfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat sekitar, pungkasnya.


Setelah melakukan diskusi dan Musyawarah maka terbentuklah kelompok sadar wisata desa Jembayan dengan nama “Rindu Kampung Tuha” dengan ketua Hartono, Wakil Ketua Sony, Sekretaris Emmi Dehmi, Bendahara Hamisah dan harapannya agar para pengurus yang terbentuk ini melakukan koordinasi untuk membentuk seksi-seksi dalam pokdarwis.

 



Penutupan Pelatihan Kerajinan Anyaman Di Desa Wisata Kedang Ipil


Setelah satu minggu kegiatan pelatihan Kerajinan Anyaman berlangsung maka Pada hari Rabu, 17 Mei 2017 pukul 09.30 Wita bertempat di Balai Adat Desa Kedang Ipil dilakukan Penutupan Pelatihan Kerajinan Anyaman Kerjasama Dinas Pariwisata, Pemerintah Desa Kedang Ipil dan Pokdarwis Kandua Raya. Penutupan dilakukan oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni, MPP, yang di dampingi oleh Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Ir. H. Muhammad Bisyron, Kasi Pengembangan Daya Tarik Wisata, Kepala Desa Kedang Ipil, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan peserta pelatihan.

Kepala Dinas Pariwisata dalam sambutannya mengatakan bahwa jika Desa Wisata Kedang Ipil ingin tetap eksis dan selalu dikunjungi wisatawan harus selalu menjaga kekompakan antara Pemerintah Desa, Pokdarwis dan Masyarakat. Selain itu beliau juga mengharapkan untuk terus menjaga nilai-nilai Budaya Adat Kutai Lawas dan menurunkannya ke generasi yang ada sekarang sehingga budaya dan adat kutai lawas yang terpelihara dengan baik ini tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman.

Di akhir sambutannya beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada 2 (dua) orang narasumber Ibu Anasfasia Esah dan Ibu Maretha yang telah membagikan ilmunya, kepada peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang didapat selama mengikuti pelatihan ini serta mengajarkannnya kepada teman-teman yang belum sempat ikut dalam pelatihan.




Pelatihan Pelaku Usaha Sarana Rumah Makan Dan Restoran


Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara mengadakan Pelatihan pelaku sarana rumah makan dan restoran yang telah terlaksana di Hotel Liza Tenggarong, dalam pelatihan ini Dinas Pariwisata mengundang para pelaku usaha seperti pemilik Rumah makan dan restoran yang berada di Tenggarong Kutai Kartanegara.




Kegiatan Pelatihan ini juga di juga dihadiri oleh seluruh pejabat Dinas Pariwisata, acara yang berlangsung selama satru hari mendatangkan dua orang  narasumber yang berkompeten di bidangnya, seperti  ibu Nurul yang juga sebagai Auditor bidang usaha hotel, auditor bidang usaha jasa perjalanan wisata, auditor bidang usaha MICE, auditor jasa konsultan pariwwisata, asesor kompetensi bidang perhotelan.




Dra. Sri Wahyuni. MPP., selaku Kepala Dinas Pariwisata, membuka secara resmi Pelatihan pelaku sarana rumah makan dan restoran. Dalam pemaparannya saat membuka pelatihan beliau mengatakan bahwa agar para pelaku usaha seperti restoran dan rumah makan agar dapat mengambil peluang karna Tenggarong sudah menjadi kota wisata, bahkan dari enam daya tarik wisata Kutai Kartanegara dan kunjungan terbanyaknya ada di Tenggarong yaitu Pulau Kumala, dalam hal ini restoran dan rumah makan harus berbenah untuk menjadi lebih baik dari pelayanan maupun penyajian makanan, serta dapat mendaptarkan restoran dan rumah makannya, agar terdata sehingga mudah untuk bekerjasama dengan pihak terkait seperti travel saat ada rombongan kunjungan ke Tenggarong.






Berlanjut pada tahap pemberian materi oleh narasumber mengenai hygine sanitasi makanan yaitu upaya kesehatan dalam memelihara dan melindungi kebersihan makanan, melalui pengendalian factor lingkungan dari makanan yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit dan atau ganguan kesehatan.  Para pelaku usaha juga di bekali enam prinsip Higiene Makanan dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan makan masak yang benar, cara pengangkutan makanan yang siap santap, dan cara penyajian makanan yang baik.  

Pelatihan Kerajinan Anyaman Di Desa Wisata Kedang Ipil


Pada hari Kamis, 11 Mei 2017 pukul 09.00 Wita di Balai Adat Desa Kedang Ipil dilakukan Pembukaan Pelatihan Kerajinan Anyaman Kerjasama Dinas Pariwisata, Pemerintah Desa Kedang Ipil dan Pokdarwis Kandua Raya. Hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Pariwisata yang diwakili oleh Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Ir. H. Muhammad Bisyron yang membuka secara resmi dengan didampingi oleh Kasi Pengembangan Daya Tarik Wisata, Kepala Desa Kedang Ipil, tokoh adat dan masyarakat dan peserta pelatihan. Jumlah perajin yang mengikuti pelatihan ini adalah sebanyak 12 orang. Kegiatan ini merupakan program pengembangan destinasi pariwisata dalam meningkatkan keterampilan anyaman bagi pengurus pokdarwis dan masyarakat Kedang Ipil. Kepala Dinas Pariwisata melalui Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dalam sambutannya mengatakan bahwa Pemerintah Daerah juga akan terus menumbuh kembangkan potensi kerajinan rakyat, sehinggah budaya kerajinan anyaman masyarakat tidak akan hilang. Selain itu Dinas Pariwisata memberikan dalam bentuk dukungan berupa fasilitasi pelatih yang didatangkan dari Kutai Barat, peningkatan pemanfaatan sumber daya alam, bimbingan yang bersifat dasar industri kerajinan berbahan dasar rotan dan bambu. Pelatihan akan berlangsung selama 7 hari (11-17 Mei 2017), adapun instruktur atau pelatih dalam kegiatan ini ada 2 (dua) yang memang sudah berpengalaman melatih, baik untuk wilayah Kaltim maupun provinsi lainnya.sedangkan materi pelatihan 20% teori dan 80% praktik. Materi diklat yang disampaikan adalah sebagai berikut :

1. Pengetahuan bahan dan alat

2. Pengetahuan desain kerajinan

3. Pengetahuan pewarnaan (teori)

4. Pengetahuan pewarnaan (praktik)

5. Praktik pembuatan produk kerajinan rotan/bambu.




Mecaq Undat, Pesta Panen Suku Dayak Kenyah


Acara Mecaq Undat yang sudah masuk Kalender Event Pariwisata, tahun ini dilaksanakan pada 5 s/d 6 Mei 2017 dilamin adat Bioq yang diikuti 3 desa yaitu Ritan Baru, Umaq Tukung dan Tukung Ritan, hadir pada acara tersebut Sekretaris Camat Tabang, Kasi Data Info Dinas Pariwisata Kukar, Kepala Desa, Dewan Adat Dayak Tabang, Kepala Adat serta Masyakarat umum lainnya.



Upacara Mecaq Undat  diawali dengan pembacaan mantra oleh orang yang dituakan di suku Dayak Kenyah Muara Ritan Di sekelilingnya beberapa tetua adat yang lain mendengarkan dengan saksama. Mantra dibacakan memohon ijin  untuk  dewa-dewa yang sudah berjasa memberikan perlindungan dan tanah yang subur bagi mereka untuk berladang.



acara dilanjutkan pemukulan gong oleh Sekretaris Camat Tabang , sebagai tanda acara mecaq undat dimulai. Setelah itu dilanjutkan menumbuk beras pada sebuah lesung panjang yang berada ditengah - tengah lamin adat, disini  masyarakat Dayak Kenyah bersama - sama para pejabat, tamu undangan menumbuk beras  hasil panen tahun ini hingga menjadi tepung.

Dalam kehidupan masyarakat Dayak Kenyah, setelah beras menjadi tepung, akan dimasak dengan cara dimasukkan kedalam bambu dan dimasak dengan cara dibakar, itulah yang dinamakan Undat. Menurut ketua panitia Santo, Mecaq undat merupakan pesta adat masyarakat Dayak Kenyah yang dilaksanakan setiap tahun setelah panen, dan telah dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang dahulu hingga saat ini.



Maksud dan tujuan Mecaq Undat tambahnya sebagai ungkapan rasa  syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas  berkat dan rahmatnya yang diberikan kepada para petani ladang sehingga memperoleh hasil melimpah, juga  sebagai upaya untuk melestarikan nilai - nilai adat dan budaya yang ada dimasyarakat dayak kenyah khusus  yang ada di kecamatan Tabang, sehingga semangat kegotong royongan yang ada dimasyarakat Dayak Kenyah tetap terpelihara.



Ditempat yang sama pada malam harinya dilaksanakan malam kesenian   dengan menampilkan tarian Datun Sun Bulak yang memperagakan periode  atau masa kehidupan nomaden suku Dayak Kenyah lepok tukung yang sekarang berdomosili di sungai Belayan, yang periode perpindahannya terdapat 6 tempat atau tahap dan setiap tahap tergambar pada pakaian yang dikenakan oleh penari




Nutuk Beham “Pesta Panen Padi Muda” Di Desa Kedang Ipil


Sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas panen padi yang diperoleh, para tetua Adat dan Masyarakat Desa Kedang Ipil melaksanakan acara Nutuk Beham yang dilaksanakan pada 28 sampai 30 April 2017, hadir pada acara puncak tersebut  Dinas Pariwisata Prov Kaltim, Dinas Pariwisata Kukar, Camat Kota Bangun serta unsur Muspika, para Komunitas Budaya dan Masyarakat Kedang Ipil.Menurut Ketua Panita Pelaksana acara Nutuk Beham yang artinya adalah menumbuk Beham, merupakan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Kedang Ipil pada saat permulaan musim panen raya. Ritual ini dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, Prosesi adat Nutuk Beham berlangsung Pelataran yang dibangun sebelah balai desa selama 3 hari 3 malam tanpa henti dengan jumlah padi yang ditumbuk sebesar 2,5 Ton,  Di awali dengan memanen padi ketan hitam dan putih, padi atau gabah tersebut kemudian direndam dalam air selama tiga malam. Kemudian padi yang telah direndam diangkat dan disangrai dalam wajan berukuran besar diatas tungku yang digali pada permukaan tanah yang disebut ngehantuhui.Padi atau gabah yang telah disangrai itulah yang disebut dengan istilah beham. Beham kemudian didinginkan dan dilanjutkan dengan menumbuk untuk melepaskan kulit ari pada beham. Prosesi menumbuk beham inilah yang kemudian menjadi asal muasal nama ritual nutuk beham. Keunikan yang ada pada proses nutuk beham adalah menggunakan lesung yang dibuat dari batang pohon cempedak dan diatur sedemikian rupa diatas panggung. Warga secara bergantian dan berkelompok mulai menumbuk atau menutuk beham dan pada saat alu di tumbukkan, lesung mengeluarkan bunyi khas dan berirama sesuai kekuatan yang menumbukkan alu pada lesung. Beham yang telah ditumbuk kemudian di tampi untuk membuang sisa-sisa kotoran dan kemudian langsung diolah menjadi kue, yaitu dengan menyiramkan air panas atau merang, lalu dicampur dengan parutan kelapa dan gula habang (merah) dan di aduk sampai merata dan disebut dengan bungkal beham. Bungkal beham yang telah jadi diletakan pada wadah dan baru boleh disantap setelah para dewa (dukun) bememang (membaca mantra) memanggil para leluhur untuk ikut bersantap sebagai wujud rasa syukur warga karena hasil panen yang melimpah.