Banner 1

Banner 2

Banner 3

Banner 4

Banner 5

Banner 6

Banner 7

Banner 8

Banner 9

Banner 10

Statistik

Hit hari ini : 31
Total Hits : 1,143,911
Pengunjung Hari Ini : 21
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 270,575

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 49 Next > Last >>

Nikmatnya Makan Beseprah


 Tepat pada hari rabu, sebagai rangkaian kegiatan perhelatan Pesta Adat Erau di depan Kedaton Kutai, Jalan Monumen Timur, Tenggarong. Salah satu kegiatan yang di tunggu – tungu oleh masyarakat Kutai Kartanegara, khusunya berada di kota Tenggarong, pada saat Erau Adat Kutai dan 6 Th Internasional Folk Art Festival (EIFAF) 2018. Karna pada hari ini berlangsung pada pagi hari acara Beseprah, Acara beseprah merupakan makan duduk bersama Putra Mahkota Kesultanan Kutai Aji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat dengan warganya, dan hadir pula seluruh Pejabat Pemkab Kutai Kartanegara.

 Baik dari Pihak Kesultanan, Pejabat Pembkab Kutai Kartanegara dan seluruh masyarakat duduk bersila saling berhadap – hadapan untuk menikmati berbagai hidangan tradisional, khususnya makanan khas Kutai disajikan, seperti bongko, sarabai, putu ayu, singkong goreng, kue cincin, tumbi, bingka, nasi kuning dan nasi uduk.

Beseprah pun di mulai setelah di bunyikannya kentongan oleh Putra Mahkota Kesultanan Kutai Aji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat, bersama Plt Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si., Kepala Dinas Pariwisata Kab Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP., serta Director dari peserta CIOFF. Wargapun menikmati semua hidangan sampai habis.




 


 Enam delegasi dari negara asing yang memeriahkan Erau tahun ini ikut pula makan sambil lesehan, yakni Polandia, Rumania, Hongaria, Mexico, India dan Turki.

Dalam kesempatannya Plt Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah. M.Si. menyampaikan, "Acara beseprah merupakan komitmen pemerintah dalam melestarikan tradisi. Beseprah menjadi simbol kedekatan Sultan dan rakyatnya," Lewat beseprah, lanjutnya, antara kesultanan, pemerintah dan masyarakat saling berbagi dan menjalin keakraban. Ide beseprah sendiri datang dari Sultan. Karena Sultan dulu sering beseprah ke tiap kecamatan yang dikunjunginya. Berharap kedepannya Erau bisa melibatkan 18 kecamatan di Kutai Kartanegara. "Kalau dulu Erau, warga mempersembahkan hasil bumi kepada Sultan. Ke depan, kita bisa rancang, tiap perwakilan kecamatan mempersembahkan kesenian masing-masing di hadapan Sultan,".


Tampilan Kesenian Dari India Di Pulau Kumala


 Dalam kegiatan Erau, ada kegiatan yang berpusat dan belangsung di Pulau kumala Tenggarong yang juga menjadi salah satu obyek wisata kebanggaan warga Kutai Kartanegara. Berlangsung kegiatan street performance dari tanggal 23 – 28 Juli 2018, festival keseniaan rakyat internasional VI dalam rangka Erau Adat Kutai 2018. Pada setiap harinya aka di tampiklkan kesenian baik dari tuan rumah Indonesia maupun dari delegasi para peserta CIOFF. Tampil pada hari ini perwakilan dari Negara Indonesia dan India.

 Di awali dari tuan rumah Indonesia, yang menampilkan sanggar seni “Se Kimet “ dari Kecamatan Tabang Kutai Kartanegara, dengan judul tarian Kanjet Uyai Ume atau Tarian Membuka Ladang, tampilan tarian ini menceritakan tarian bersama yang dilakukan oleh masyarakat dayak Kecamatan Tabang pada saat mau membuat ladang atau mulai membuka lahan perladang yaitu di mulai dari pergi melihat lokasi tanah atau rimba yang mau di kerjakan setelah menemukan lokasi yang cocok dan subur lalu nenek moyang kami membuat tip atau tanda sebagai bukti bawa tanah tersebut mau di kerjakan. Setelah itu merekapun membuat suatu acara doa syukur atau doa untuk kesuburan tanah yang mau di kerjakan menurut keyakinan mereka pada saat itu. Lemerek yaitu menebas membersihkan rumput dan akar – akar di lahan, ngade dan menebeng kayu kecil dan kayu besar, metuq artinya mencincang memotong dahan ranting, menutung membakar lahan, mekup membersihkan ranting yang masih tersisa, senuyun nuga artinya bergotong royong menanm benih padi, mafau artinya merumput membersihkan rumput yang tumbuh di antara padi, masau artinya panen padi yang sudah menguning, miyek artinya membersihkan biji padi dari tangkainya. Pergerakan dalam bentuk tarian ini biasanya di tampilkan pada saat upacara Adat pesta panen raya setiap tahunnya.

 Masih dari sanggar seni “Se Kimet “  tampilan kedua menampilkan tarian Peragaan kehidupan jaman dulu, bahwa masyrakat dayak pada jaman dahulu dalam kehidupan sehari – hari melakukan aktifitas mereka dari pagi jam 4 subuh masyarakat dayak sudah bangun pagi setelah merapikan tempat tidur langsung menuju ke sungai sambil membawa tempat untuk ambil air yang mau di masak, tempatnya terbuat dari bambu. Sementara di sungai sambil mencuci pakaian, sabun yang digunakan dari daun, cara memasak menggunakan kayu kering.

 Di lanjutkan dengan penampilan India yang membawakan tari Ghumro yang diketahui bahwa tarian ini sangat terkenal dari Shamlaji di Gujarat. Shamlaji terkenal dengan pameran dan Kuilnya. Bahwa Kui Shamlaji berdiri di tepi sungai Meshwo, dalam pemujaan Dewa Wisnu, di peraya bahwa kuil ini telah ada setidaknya selam 500 tahun. Komunitas Bhil di Gujarat memiliki kepercayaan yang luar biasa dalam kekuatan Shamlaji yang dengan senang hati mereka sebut sebagai Kaliyo Dev ( Dark Divinity ).





 


 Pada perayaan Shamlaji laki – laki dan perempuan mencari pasangan hidup mereka, dan setelah menemukan pasangan hidup, mereka merayakan momen ini dengan sukacita dan kesenangan dan mereka memainkan tarian yang di sebut Ghumro Dance. kemeriahan suasan pun bertambah ketika para penari India mengajak para penonton untuk menari bersamanya. 


Tampilan Dayak Modang Dan Meksiko





 Pada setiap malamnya selama Erau berlangsung maka ada tampilan kesenian di dua tempat yaitu Panggung Erau Expo yang berada di Stadion Rondong Demang dan Lapangan Basket yang berada di Timbau Tenggarong. Kesenian perwakilan dari Indonesia yang di wakili Flepet Indonesia dan Modang. Membawakan Tarian yang menceritakan tentang perjalanan singkat suku dayak lundayeh sejak dahulu kala suku dayak lundayeh mempunyai kepercayaan tentang upacara – upacara permohonan perlindungan kepada yang paling berkuasa.


 Suku dayak lundayeh memiliki kebiasaan berpindah – pindah tempat tinggal sampai di daratan cina demi memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman. Karna ada hal mengenai persaingan sosial disana maka dayak lundayeh pun berpindah – pindah ke daerah borneo dan mereka menetap di hulu sungai borneo untuk membuat ladang sebagai pekerjaan dan sumber makananmereka. Pada saat itu masih ada masa – masa perang karna terjadi perebutan wilayah. Sementara para pria bertarung dan para wanita tetap melakukan aktifitas hingga ada masa mereka mendengar hasil perang bahwa keluarga mereka telah gugur dari masa perang. Nulung merupakan tarian duka gugurnya para pahlawan. Bertahun – tahun suku lundayeh bersekutu dengan alam dan menunjukkan alam palingberkuasa di dunia, sampai masuknya misionaris yang memperkenalkan sang pencipta yaitu Tuhan sebagai kepercayaan yang benar.

 Tampilan dari peserta folklore meksiko yang menceritakan salah satu tempat yang sangat indah di Meksiko adalah Negara Jalisco tanah tempat minuman nasional kami, tequila di produksi dadimana music mariachi berasal. Jalisco memiliki salah satu pakaian tradisional yang paling simbolik di Meksiko, setelan charro, yang di pakai oleh para pria sementara para wanita menggunakan gaun berwarna – warni, penari yang bersemangat, kostum yang rumit dan elegan, music yang ceria, dan gerak kaki yang energik, datang bersama untuk menciptakan selebrasi magis budaya dan tradisi Meksiko.


 

Prosesi Adat Bepelas


 Ritual Bepelas didahului dengan ritual Merangin oleh Dewa dan Belian di Serapo Belian. Usai Merangin, Dewa dan Belian menuju ke keraton dan berputar sebanyak tujuh kali di area Bepelas, kemudian duduk bersila berjajar, Dewa di sebelah kanan dan Belian di sebelah kiri dengan dipimpin oleh Pawang menghaturkan sembah hormat. Ritual dilanjutkan dengan sajian Tari Selendang oleh Dewa dengan diiringi gamelan sambil mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pada saat yang sama Pemangkon Dalam menyalakan lilin di empat sudut. Selanjutnya ditampilkan Tari Kipas dan Tari Jung Njuluk yang dibawakan oleh Dewa. Para penari mengelilingi area Bepelas sebanyak satu kali. Pawang Dewa melakukan Memang di belakang Tiang Ayu diiringi alunan seruling. Memang bertujuan untuk mengundang Dewa Karang dan Pangeran Sri Ganjur untuk menjaga Pohon Ayu dari gangguan roh-roh jahat selama ritual Bepelas berlangsung. Ritual berikutnya adalah penampilan Tari Memuja Panah dengan menggunakan anak panah yang ujungnya dibelah menjadi tujuh mata api. Penari berputar satu kali di area Bepelas, kemudian pada putaran kedua melepaskan busur ke empat penjuru untuk menghilangkan gangguan selama ritual Bepelas berlangsung.

 Pawang Dewa kembali melakukan Memang untuk mengundang Pangeran Sri Ganjur dengan iringan seruling dan dewa meletakkan empat buah ikat kepala dan empat buah gada yang ditempatkan pada dua buah baki. Bersamaan dengan itu, muncul empat orang laki-laki, dua di kiri dan dua di kanan, untuk menarikan Tari Ganjur. Penari memasangkan ikat kepala dan memegang gada sambil menari sekali putaran di keempat sudut ruangan dengan iringan irama Ganjur. Pada putaran kedua, tampil tujuh orang Dewa menari sambil membawa kipas dan diikuti oleh dua orang penari Ganjur untuk berputar sekali putaran. Pawang Dewa Laki dan Bini, Pangkon Laki dan Bini, peniup seruling, dan pembawa perapen bangkit dari duduknya dan menjemput Sultan di ruang salin busana kebesaran. Seruling terus menerus ditiupkan hingga terdengar sayup dan tak lama kemudian rombongan atau utusan ini kembali lagi ke area Bepelas bersama Sultan.

 Usai Tari Kanjar Bini dimainkan, Dewa menyerahkan sehelai Selendang Kuning kepada putra atau kerabat sebagai pemimpin atau kepala penari yang kemudian diikuti oleh kerabat untuk menarikan Tari Kanjar Buah Kamal. Pangkon Dalam Bini menyalakan lilin kecil di empat sudut sambil berdiri hingga tarian sebanyak dua putaran selesai dilakukan.Demong melaporkan kepada Sultan bahwa ritual Bepelas malam pertama telah selesai dilakukan. Sultan kemudian kembali ke tempat peristirahatan, sementara itu alunan gamelan penutup dibunyikan dan lilin dimatikan.   Bepelas dilaksanakan selama tujuh malam. Setiap malam dilakukan ledakan (suara dentuman meriam) sebanyak jumlah malam yang dilaksanakan. Malam pertama hingga keenam dilakukan ledakan sesuai dengan jumlah malam, sedangkan pada malam ke tujuh hanya dilakukan satu kali ledakan.




 


 Bepelas ini dilaksanakan pada pukul 20.00 sampai dengan selesai di Keraton Kukar atau Museum Mulawarman. Hadir dalam upacara Bepelas ini bergantian setiap malamnya, baik dari pejabat Pemkab kukar maupun perwakilan dari perwakilan peserta folklore, diantaranya dihadiri Putra Mahkota A.P.A.P Praboe Anum Surya Adiningrat, kerabat sultan, camat tenggarong dan perwakilan peserta folklore Dan undangan yang hadir turut serta juga dalam tarian Kenjar Laki dan Kenjar Bini bergantian setelah prosesi bepelas tersebut berlangsung.








Seremony Pembukaan Erau Adat Kutai Dan 6th International Folk Arts Festival (EIFAF) 2018


 Seremony pembukaan Erau Adat Kutai dan 6th International Folk Arts Festival (EIFAF) 2018 telah berlangsung di stadion Rondong Demang Tenggarong, dan secara resmi dibuka Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran (BP21) Kementerian Pariwisata RI Prof. I Gede Pitana Brahmananda.

 Acara berlangsung meriah dengan diawali penampilan dari ke 6 delegasi CIOFF dan tuan rumah Indonesia. Kemudian 6 negara delegasi kesenian rakyat mancanegara yakni, Hongaria, India, Meksiko, Polandia, Rumania dan Turki, termasuk 78 grup kesenian rakyat daerah di Kukar serta dari daerah nusantara.

Pembukaan Erau ini dihadiri langsung Deputi Pemasaran I Kemenpar I Gede Pitana, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Plt Bupati Kukar Edi Damansyah, Putra Mahkota Adji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Cagub Kaltim terpilih Isran Noor dan pasangannya Hadi Mulyadi, dan Wakil Ketua Komisi X DPR RI asal Kaltim-Kaltara, Hetifah Sjaifudian, serta para tamu undangan lainnya.

 Dalam sambutannya, Deputi BP21 Kemenpar RI I Gede menyambut baik atas digelarnya Erau Adat Kutai tahun ke enam yang berskala Internasional. "Saya bangga dan mengapresiasi kepada semua masyarakat, Pemkab Kukar dan Kaltim beserta segenap kepentingan lainnya yang telah sukses melestarikan adat budaya sebagai warisan nusantara yang kini mendunia," beliau juga mengakui, prestasi pariwisata Kutai Kartanegara sudah diakui di kancah Nasional, tentunya ini semua pelecut bagi jajaran pemkab Kukar untuk terus melakukan perlindungan akan budaya. "Saya juga mengucapkan selamat atas perhelatan akbar ini. Budaya Erau ini sendiri telah meraih penghargaan sebagai budaya terpopuler di tanah air Tahun 2016. Lestarikan dan lindungi budaya adat Erau ini demi Kemajuan pariwisata dan perekonomian di daerah. Plt Bupati Kukar Edi Damansyah mengatakan, pada tahun 2017, tercatat lebih dari 1,7 juta wisatawan yang berkunjung di Kabupaten Kutai Kartanegara. "Ini merupakan angka terbesar kedua bagi kunjungan wisatawan di Kalimantan Timur, meskipun Kutai Kartanegara belum memiliki bandara sendiri, sebuah fasilitas infrastruktur yang menjadi daya saing utama dan pertama dalam menarik kunjungan wisatawan," Adapun Kota Tenggarong menjadi pusat wisata budaya dan wisata buatan di Kaltim yang memiliki daya tarik wisata dengan kunjungan wisatawan nusantara tertinggi.

 "Bila EIFAF mendapat Anugerah Pesona Indonesia 2016 sebagai Festival Budaya Terpopuler di tanah air, maka Pulau Kumala, wisata buatan di tengah Sungai Mahakam, mendapat Anugerah Pesona Indonesia 2017 sebagai Juara II Tempat Tujuan Wisata Baru Terpopuler di tanah air,".

 menyukseskan penyelenggaraan festival ini. Demikian pula, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Kementerian Pariwisata RI yang telah mendukung penyelenggaraan festival ini, sebagai bagian dari Wonderful Event di tanah air. Saya berharap, kedepan, para pihak lainnya juga dapat mengambil peran untuk bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan festival ini," .
"Semoga Kutai Kartanagera, makin maju dan berkembang pariwisatanya, serta makin harmonis dan sejahtera kehidupan masyarakatnya. Saya juga berharap agar masyarakat Kukar dapat menjadi tuan rumah yang baik, ikut menjaga dan memelihara ketertiban dan keamanan khususnya selama festival ini belangsung,".

  




Prosesi Adat Mendirikan Ayu


 Pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memulai secara resmi pelaksanaan Erau dengan ritual adat mendirikan Ayu, yang berlangsung di Keraton atau Museum Mulawarman Tenggarong, pada pagi hari. Acara ini di Hadiri Gubernur Kaltim, Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim, Seluruh Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

 Erau pun di mulai dengan upacara adat Mendirikan Ayu, Sedangkan “Ayu” adalah sebuah tiang yang berbentuk tombak dan terbuat dari kayu ulin yang biasa disebut dengan nama “Sangkoh Piatu”. “Sangkoh Piatu” merupakan senjata Raja Kutai Pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang pada batangnya diikatkan Tali Juwita  yang menyimbolkan berbagai lapisan pada masyarakat dan Cinde yang menyimbolkan keluarga Sultan Kutai. “Mendirikan Ayu” merupakan sebuah simbolisasi dari upaya untuk mencari atau mendirikan kerahayuan (keselamatan atau ketentraman). Upacara adat “Mendirikan Ayu” dimulai dengan menyiapkan peralatan upacara, yaitu sebidang Jalik yang dihamparkan dan diatasnya  dihiasi Tambak Karang bermotif naga biasa dan naga kurap, serta seluang mas berwarna-warni. Pada Tambak Karang ini terdapat  empat ekor naga yang masing-masing menghadap ke empat sudut luar dan di bagian tengah bermotif taman, sedangkan bagian lainnya terisi dengan seluang mas.

 Empat kepala naga yang menghadap ke sudut luar masing – masing bertaringkan “Pisang Ambon”, dengan  mulut terbuka sedang menggigit “Kemala” yang disimbulkan dengan sebutir telur ayam kampong serta terdapat lilin besar, lilin kecil, peduduk, piring sebagai alas baju salinan dan jambak dari daun kelapa muda (Janur).

Di atas Tambak Karang dihamparkan  kasur berwarna kuning dan di atas kasur kuning ini dihamparkan kain kuning motif merah yang disebut Tapak Liman. dan di atas Tapak Liman ini diletakan Gong Raden Galuh yang dibungkus kain kuning berdekatan dengan Batu tija’an. Di atas Gong Raden Galuh inilah berdiri Sangkoh Piatu atau “Tiang Ayu”. Pada Bagian bawah belakang tersedia Perapen (Persepan) yang dilengkapi dengan lampu tembok, suman dan tepung tawar. Sebelah kanan  Tiang ayu terdapat Balai / Tiang persembahan yang berisi satu buah peduduk dan pakaian persalinan sultan dan jabangan mayang nyiur, sedangkan sebelah kiri terdapat jabangan mayang pinang dan guci / molo tertutup berisi Air Kutai Lama. Dewa Belian menempatkan diri di sisi kiri dan kanan Tambak karang duduk bersila. Lapisan kiri kanan untuk undangan, kerabat dan di bagian belakang sisi kanan keluar di isi oleh Pangkon Dalam dan Pemukul Gamelan, sedangkan sisi kiri keluar di isi juga oleh Pangkon Dalam. Para pejabat / petinggi dan Putra Sultan duduk bersila di bagian depan dan di tengah-tengah terdapat Kursi Sultan.

 Prosesi  “Mendirikan Ayu”, perapen dinyalakan dengan aroma wangi dan alunan suara gamelan di dengarkan sambil menunggu sultan di tempat acara. Sultan dengan mengenakan pakaian kebesaran menuju Tiang Ayu, para hadirin semua berdiri member penghormatan dan kehidmatan. Dewa belian melakukan Sawai dan Tiang Ayu didirikan. Setelah itu, hadirin duduk kembali dan sultan duduk di kursi  singgasana yang telah disediakan.


 Dalam upacara adat Mendirikan Ayu ini, dilakukan juga pengukuhan dan penyerahan gelar kesultanan yaitu kepadacalon gubernur Kaltim Isran Noor dengan gelar Wira Paraja


Ngatur Dahar Di Kesultanan Kutai Kartanegara


 Ada acara Ritual yang dinamakan upacara mengatur dahar yang dilakukan oleh kerabat kesultanan Kutai  Kartanegara sebelum pesta Erau di mulai. Upacara ini pada intinya adalah menyajikan makanan ringan berupa jajanan terdiri 41 jenis, hal ini bertujuan selain sebagai ungkapan rasa syukur  kepada Tuhan yang maha esa juga  mengajak  tokoh warga dan tokoh alam gaib agar selama Erau berlangsung  tidak sungkan untuk  menikmati hidangan setiap hari yang disajikan Sultan dan kerabatnya  di Keraton.


 Upacara ini juga bisa dilakukan di luar Erau terutama untuk  mengawali  hajatan   yang skalanya lebih besar seperti pesta kemeriahan perkawinan raja atau putra mahkotaDalam pelaksanaan Erau Adat Kutai upacara mengatur dahar ini  digelar  di ruang pertemuan keluarga Keraton Sultan Tenggarong pada Sabtu malam (2/7)  sebelum Erau dimulai. Dalam pelaksanaan   dilakukan setelah makan malam dengan menyajikan  sejumlah kue khas daerah. Seperti wajik  warna-warni,  pais, lempar dan lemang, ada pula Buah - buahan seperti pisang juga disajikan, bahkan bahan makanan masih mentah seperti biji kacang hijau dan  pipilan jagung yang sudah dipecahpun disajikan.  Tersedia pula ikan gabus   dan ayam panggang namun sayur  dan nasi tidak tampak di hidangkan pada upacara ini.




 


 Pawang upacara Mengatur Dahar mengatakan  upacara ini masih tetap dilestarikan karena banyak segi positif ketimbang aspek negatifnya. Sebab  semua mahluk tuhan   pasti senang dan suka  jika    menikmati hidangan. Terlebih yang menyajikan adalah Sultan dan kerbatnya. Dengan suasana senang dan suka cita tentu akan berbuah rasa damai dan tenteram. Turut hadir dalam acara mengatur dahar ini Ir. Marli. M.Si dan tokoh masyarakat serta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara.


Kirab Budaya Internasional


 Ribuan masyarakat tumpah ruah kejalan untuk menyaksikan Kirab Budaya Internasinal yang di adakan Panitia Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) 2018, yang diikuti peserta EIFAF yaitu dari negara Hongaria, Rumania, Polandia, India dan Turki.

 Kirab budaya yang berlangsung pada pukul 09.00 Wita ini, dimulai dari depan Sekretariat Gerbang Raja, yang di buka oleh Plt Bupati Kutai Kartanegara, Kepala Dinas Pariwisata, dan Perwakilan CIOF, yang akan berjalan melintasi Jalan KH Akhmad Muksin, Jenderal Sudirman, S Parman, Jembatan Besi dan berakhir di halaman Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

 Sesampainya di halaman Kedaton, masing-masing peserta menyuguhkan kesenian daerah dihadapan Putera Mahkota Kesultanan Kutai HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Plt Bupati Kukar Edi Damansyah, Sekda H Marli, Dandim 0906/Tgr Letkol Czi Bayu Kurniawan Wakapolres Kukar Kompol Wiwit Adisatria, serta tamu undangan.  

 Prajurit keraton mengawali persembahannya, yang dirangkai prosesi adat Tepong Tawar, lalu penampilan Marching Band PDBI, tari Jepen Kutai dari sanggar Bunga Mekar binaan Yayasan Gubang, tarian Dayak Benuaq oleh Sempekat Takaq & Pokan Takaq. Tari Jepen Kutai pun kembali ditampilkan, namun tari ini dibawakan oleh sanggar LSBK, Serai Wangi dan Karya Budi. Disusul tari khas Dayak Kenyah dari sanggar Bening-Uyai. Dalam kirab budaya ini, juga ditampilkan tari khas Dayak Modang, kemudian persembahan tari oleh Ikatan Kerukunan Keluarga Minang, Toraja, Bali, Kerukunan Keluarga Sulawesi Utara, IKETIM, IKAPAKARTI, serta Banyuwangi. partisipan mancanegara yakni Hungaria, India, Polandia, Rumania dan Turki turut menampilkan kesenian tradisional khas negaranya.

Dari 28 grup yang tampil, pihak panitia tetap berusaha menyuguhkan sajian seperti kirab pada EIFAF sebelumnya.


 kita tetap berupaya agar komposisi Kirab Internasional mulai dari budaya Kukar, budaya nusantara dan internasional tetap tersajikan Kehadiran kesenian negara lain untuk ikut memeriahkan EIFAF 2018, juga dimanfaatkan untuk bertukar informasi tentang kebudayaan masing - masing, juga sebagai sarana mempererat tali silahturahmi antar negara melalui kebudayaan


Ritual Merangin


 Dalam Prosesi Adat Erau terdapat didalamnya Ritual Merangin yang digelar tiga (3) malam berturut-turut setiap malamnya sebelum acara Erau dimulai dan juga dilaksanakan dalam pelaksanaan Erau setiap malam kecuali malam Jum`at. Upacara adat Merangin ini dimulai sejak pukul 20.00 wita dipusatkan dilapangan parkiran Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman).


 Bangunan tersebut terbuat dari kayu beratapkan daun nipah yang terletak disamping Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman) dengan melibatkan tujuh (7) orang Belian (sebutan untuk laki-laki ahli mantra dalam bahasa Kutai) dan tujuh (7) orang Dewa (sebutan untuk Perempuan). Acara Merangin ini adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau, tujuannya adalah mengundang mahluk goib untuk ikut serta dalam kemeriahan Erau Adat Kutai and 6th International Folk Arts Festival 2018. Ritual Merangin malam pertama ini, gunanya untuk memberitahukan mahluk goib yang berada dilangit bahwa sebentar lagi Erau akan dilaksanakan. Upacara adat Merangin ini diawali dengan pembacaan "Memang"(mantra) oleh salah satu dari tujuh (7) Belian Laki yang mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan.





 


 Sementara pimpinan Dewa ikut dalam lingkaran tersebut membakar kemenyan tampak sesekali menghamburkan beras kuning. Binyawan adalah alat utama dalam ritual Merangin berbentuk tiang tersebut dari bambu, dan dibalut janur kuning yang disusun dari bawah hingga keatas sebanyak tujuh (7) tingkat. Dibagian atas Binyawan terdapat replika kura-kura yang juga dibuat dari kayu. Peralatan lainnya yaitu disisi pinggiran Keraton Belian terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu dengan rotan sebagai penggantungnya. Salah satu ayunan diukir dengan ornamen Buaya yang disebut Romba, sedangkan satu ayunan lagi disebut Ayun Dewa. Bunyi tetabuhan gendang dan gong berirama terus menerus mengalun mengiringi ritual itu menambah suasana magis semakin terasa dalam upacara adat itu. Apalagi ketika tujuh (7) orang Belian mulai berputar mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Ketika para Belian terus berlari keliling sambil sambil memegangi batang Binyawan, tiang Binyawan itu pun ikut berputar. Para Belian tampak sesekali menaiki Romba yang berputar makin lama semakin cepat. Sementara itu, para Dewa yang terdiri dari tujuh (7) orang wanita sesekali melemparkan beras kuning kearah para Belian yang terus berputar mengelilingi Romba dengan cepat. Upacara adat Merangin diakhiri dengan tarian Dewa Bini yang juga ikut mengelilingi Romba namun berbeda dengan para Belian, tarian Dewa ini dibawakan secara lemah gemulai, yang merupakan rangkaian dari ritual adat Menjamu Benua yang telah dilakukan pada siang harinya, dengan tujuan memberitahukan kepada mahluk goib lainnya bahwa acara Erau akan digelar.

Ritual Menjamu Benua


 Empat hari menjelang dilaksanakannya Erau Adat Kutai and 6th International Folk Arts Festival 2018. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura telah menggelar ritual "Menjamu Benua" di beberapa titik di kota Tenggarong. Menjamu Benua dilakukan untuk memohon keselamatan selama Upacara Erau Adat Kutai and International Folk Arts Festival 2018 berlangsung, baik keselamatan Sultan, kerabat, masyarakat Kutai Kartanegara dan wisatawan yang berkunjung ke Tenggarong.


 Upacara Menjamu Benua memiliki makna memberi makan kepada para gaib yang mendiami wilayah Kutai Kartanegara. Sekaligus untuk memohon kepada Tuhan yang Maha Esa agar supaya sultan dan kerabatnya diberikan keselamatan, demikian juga masyarakat Kutai Kartanegara atau orang yang berkunjung ke Tenggarong". "Ritual ini untuk memberikan makan gaib yang tinggal di Odah Etam ini, Sekaligus memberitahukan kepada gaib tersebut bahwa erau akan dilaksanakan".


 Sebelum ritual Menjamu Benua dimulai, para pelaksana yang terdiri dari 7 orang Belian (ahli mantra laki) dan 9 orang Dewa (ahli mantra perempuan) berangkat dari depan keraton diiringi penabuh gamelan dan gendang serta perlengkapan persembahan berupa 21 jenis kue - kue tradisional, Perapen dan pakaian Sultan, rombongan memasang bendera ( panji - panji ) berwarna kuning dengan lima rumbai di sebelah kiri dan bendera hijau bermotif atau gambar naga di sebelah kanan menuju rumah sultan, menemui Sultan Kutai Kartanegara Aji Muhammad Salehuddin II dikediamannya untuk meminta restu, dan Sultan pun memberi restu dengan menghambur beras kuning ke arah pelaksana itu.


 Sultan juga menyerahkan pakaian sehari-harinya berupa selembar baju, sepotong celana panjang, kopiah untuk dibawa dan disertakan dalam itual menjamu benua. Setelah dilepas oleh sultan, rombongan yang terdiri dari beberapa Belian dan Dewa dengan diiringi tetabuhan alat musik tradisional bergerak maju ke tiga (3) titik di Kota Tenggarong yaitu Tanah Habang Mangkurawang yang disebut Kepala Benua, kemudian depan Museum Mulawarman yang disebut Tengah Benua, dan terakhir di sebelah hilir Jembatan Kutai Kartanegara disebut sebagai Buntut Benua.


 Ditiga lokasi Menjamu Benua disediakan semacam balai utama berbentuk kerucut dengan atasnya dasar segi empat yang terbuat dari bambu dan rangkaian janur kuning untuk menaruh sesajian. Pimpinan Belian ini kemudian membacakan Mantra-mantra sambil sesekali menghamburkan beras kuning kearah Balai Bambu yang berisi berbagai macam jajanan tradisional diantaranya ada kue cucur, pulut (ketan), bubur merah, telur rebus, ayam bakar dan aneka kue tradisional lainya

Even Tahunan

Even

Unduh Gratis