Statistik

Hit hari ini : 515
Total Hits : 918,707
Pengunjung Hari Ini : 147
Pengunjung Online : 4
Total pengunjung : 205,885

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 44 Next > Last >>

Kirab Budaya Internasional 2017


Dalam rangka Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017 yang dilaksanakan mulai tanggal 22 sampai dengan 30 Juni 2017, salah satu rangkaian acaranya yaitu kirab budaya yang dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 22 Juli 2017, acara dimulai dari jam 09.00 – 12.00 WITA.






Hadir pada acara kirab budaya Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.P.Hd, Wakil Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah.,MM, Putra Sultan A.P.A.P.Praboe Anum Surya Adiningrat, Muspida Kabupaten Kutai Kartanegara, Sekretaris Dearah Kab. Kutai Kartanegara Ir. H. Marli.M.,Si, Ketua DPRD Kab. Kukar H. Salehuddin.S.Sos.,Sfill, seluruh  Kepala SKPD, Camat, dan Lurah di lingkungan Kab. Kutai Kartanegara. Kirab budaya ini juga disaksikan oleh seluruh masyarakat Kutai Kartanegara yang ingin menyaksikan kirab budaya Internasional secara langsung.




Kirab Budaya Internasional ini di ikuti oleh 29 paguyuban/sanggar seni lokal yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara dan 8 peserta Foklore. Acara kirab budaya mulai startnya di depan Gerbang Raja yang dibuka oleh  Sekda Kab Kutai Kartanegara Ir. H. Marli.M.,Si dan Kepala Dinas Pariwisata Kab. Kukar Ibu Dra. Sri Wahyuni.,MPP dan Presiden CIOFF Indonesia Said Rachmat. Finis Kirab Budaya Internasioal yaitu di panggung kehormatan di halaman Kedaton, tampilan di depan Kedaton di bagi perjenis, dan diawali oleh prajurut Keraton dan kesultanan memberikan tempong tawar kepada seluruh para undangan.




Kemudian tampilan Marcing Band, kelompok Paguyuban bersalang seling dengan peserta Fokloore, yang pertama dari sanggar tari Gubang Kutai Kartanegara Adecom dan Bunga Mekar. selanjutnya dari Group Negara Jepang, dari kelompok Benuaq Dance dan Group Jepen 2, lalu dari Negara India, kemudian tampil dari group kesenian Dayak Kenyah, lalu dari Negara Polandia, selanjutnya dari Group Jepen 1 dilanjutkan Negara Thailan, tampilan berikutnya dari kerukunan Dayak Modang dan Negara Slowakia, dilanjutkan Group Toraja, dari Negara China Taipei, selanjutnya dari kesenian local dan Negara Korea Selatan, tampilan berikutnya dari Group kesenian KKSU dilanjutkan Negara Bulgaria dan terakhir ditutup oleh kesenian local yaitu Ikatan Keluarga Munang Kukar, dari Group Kesenian Bali, Paguyuban Seni Jaranan (Mekar Asri), Paguyuban Bumi Kutai Kartanegara, Kesenian Gendang Bleg dan Kesenian Reok Ponorogo.






 


 





Upacara Adat Merangin


Dalam Prosesi Adat Erau terdapat didalamnya Ritual Merangin yang digelar tiga (3) malam berturut-turut setiap malamnya sebelum acara Erau dimulai dan juga dilaksanakan dalam pelaksanaan Erau setiap malam kecuali malam Jum`at. Upacara adat Merangin ini dimulai sejak pukul 20.00 wita dipusatkan dilapangan parkiran Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Bangunan tersebut terbuat dari kayu beratapkan daun nipah yang terletak disamping Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman) dengan melibatkan tujuh (7) orang Belian (sebutan untuk laki-laki ahli mantra dalam bahasa Kutai) dan tujuh (7) orang Dewa (sebutan untuk Perempuan).



Acara Merangin ini adalah ritual pendahuluan yang wajib dilaksanakan menjelang Erau, tujuannya adalah mengundang mahluk goib untuk ikut serta dalam kemeriahan Erau Adat Kutai and 5th International Folk Arts Festival 2017. Ritual Merangin malam pertama ini, gunanya untuk memberitahukan mahluk goib yang berada dilangit bahwa sebentar lagi Erau akan dilaksanakan.




Upacara adat Merangin ini diawali dengan pembacaan "Memang"(mantra) oleh salah satu dari tujuh (7) Belian Laki yang mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan. Sementara pimpinan Dewa ikut dalam lingkaran tersebut membakar kemenyan tampak sesekali menghamburkan beras kuning. Binyawan adalah alat utama dalam ritual Merangin berbentuk tiang tersebut dari bambu, dan dibalut janur kuning yang disusun dari bawah hingga keatas sebanyak tujuh (7) tingkat. Dibagian atas Binyawan terdapat replika kura-kura yang juga dibuat dari kayu.



Peralatan lainnya yaitu disisi pinggiran Keraton Belian terdapat dua ayunan yang terbuat dari kayu dengan rotan sebagai penggantungnya. Salah satu ayunan diukir dengan ornamen Buaya yang disebut Romba, sedangkan satu ayunan lagi disebut Ayun Dewa.

Bunyi tetabuhan gendang dan gong berirama terus menerus mengalun mengiringi ritual itu menambah suasana magis semakin terasa dalam upacara adat itu. Apalagi ketika tujuh (7) orang Belian mulai berputar mengelilingi Binyawan yang terletak ditengah bangunan.



Ketika para Belian terus berlari keliling sambil sambil memegangi batang Binyawan, tiang Binyawan itu pun ikut berputar. Para Belian tampak sesekali menaiki Romba yang berputar makin lama semakin cepat. Sementara itu, para Dewa yang terdiri dari tujuh (7) orang wanita sesekali melemparkan beras kuning kearah para Belian yang terus berputar mengelilingi Romba dengan cepat.



Upacara adat Merangin diakhiri dengan tarian Dewa Bini yang juga ikut mengelilingi Romba namun berbeda dengan para Belian, tarian Dewa ini dibawakan secara lemah gemulai, yang merupakan rangkaian dari ritual adat Menjamu Benua yang telah dilakukan pada siang harinya, dengan tujuan memberitahukan kepada mahluk goib lainnya bahwa acara Erau akan digelar.


Persiapan Liasion Officer EIFAF 2017



Koordinator
Bidang I Seksi Liasion Officer (LO) mengadakan rapat sebagai persiapan dalam
menyambut Erau Adat Kutai & 5th International Folk Art Festival (EIFAF)
2017 pada hari ini, Senin, 17 Juli 2017 bertempat di Sekretariat EIFAF “Jam Bentong”.



 



Rapat
dipimpin oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra, Sri Wahyuni, MPP. didampingi Penanggung
jawab Koordinator Bidang II H. Syahliansyah, S. Sos., M. Si, Koordinator Bidang
I Seksi Acara Drs. Triyatma dan Koordinator Bidang II Seksi  Parade Opening dan Closing Ceremony H. Surya
Admadi dihadiri oleh peserta Liasion Officer (LO) dan Staf Dinas Pariwisata
Kab. Kukar.






Rapat
membahas masalah tugas dan tanggung jawab yang akan diberikan kepada setiap
Liasion Official dan Negara peserta EIFAF 2017 yang akan di damping oleh
masing-masing Liasion Officer.






Dalam
kesempatan itu Ibu Kepala Dinas juga memperkenalkan setiap Koordinator Panitia
yang  bertanggungjawab pada bidang mereka
masing-masing dan juga memperkenalkan Peserta Liasion Officer yang telah
terpilih. Berikut nama- nama peserta Liasion Officier yang terpilih untuk mendampingi para peserta
International Folk Art adalah :



1.
Wahyu Aulia Wati = Slovakia   



2.
Aldi Riandana = Bulgaria        



3.
Sandi Mulya Cipta = Thailand            



4.
Sherlington Kalapadang = Polandia



 



5.
Heru Wahyu Prasetya = Korsel 



6. Dedy
Purwa Nugraha = Taiwan 



7.
Utari Citra Ihsani = Jepang 



8.
Fajar Siddiq = Vanila Island   



9.Aftia
Putri Lovelia = India






Kegiatan
ini diakhiri dengan pembagian perlengkapan bagi setiap peserta Liasion Official
dan acara makan siang.



Lomba Foto Eksotika Erau Meriahkan EIFAF 2017


Menyandang Festival Budaya Terpopuler Anugerah Pesona Indonesia (API) 2016, Erau Adat Kutai & The 5th International Folk Arts Festival kembali akan dilangsungkan pada tanggal 22 - 30 Juli 2017 di Tenggarong Kutai Kartanegara, dan  bagi para pecinta fotografi dapat langsung menyaksikan sekaligus memotret keunikan dan pesona wisata budaya yang dimiliki Kabupaten Kutai Kartanegara, tidak hanya itu, tapi juga dapat mengikuti Lomba Foto Eksotika Erau 2017 dengan total hadiah Rp.18.000.000,-.

Kepala Dinas dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni, MPP mengatakan lomba foto Eksotika Erau 2017 tersebut terbuka untuk umum, lomba foto tersebut disponsori oleh PT. Anugerah Bara Kaltim Menurut nya ketentuan lomba foto sendiri sudah diatur sesuai ketentuan lomba. Adapun pemenang lomba akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai.“Bagi juara I pemenang lomba foto mendapatkan uang tunai Rp. 5 juta. Juara II Rp.  4 juta, Juara III Rp. 3 Juta , Juara Favorit Rp. 3 Juta serta Juara Terunik Rp. 3 Juta,

Melalui lomba foto ini diharapkan dapat memberikan informasi yang luas sehingga menjadi daya tarik kunjungan wisata, sehingga potensi wisata yang ada di Kutai Kartanegara akan dikenal para wisatawan baik lokal maupun mancanegara melalui pagelaran EIFAF 2017.Ketentuan lomba Eksotika Erau  yang harus diperhatikan oleh peserta diantaranya, peserta tidak diperkenankan foto kolase dan montase. Editing diperkenankan hanya sebatas warna, kontras, dodging, burning, rotating dan cropping. Pengambilan foto dilakukan  pada semua kegiatan EIFAF mulai tanggal 22 s/d 31 Juli 2017.

Pengiriman foto sendiri dapat melalui email lombafotoeifaf@gmail.com, peserta boleh mengirim hasil karya foto maksimal 5 foto dengan ukuran sisi panjang 1.500 pixel (foto horizontal) dan 1.000 pixel (foto vertical), atau maksimal 1 MB, format file dalam bentuk JPEG dengan resolusi 300 dpi. Penulisan nama file sebagai berikut kategori Erau Nama Peserta_Judul Foto_Kategori_No HP Contoh Dody_Belimbur_Erau_081347476750. Begitupun dengan kategori On The Spot.

Penjurian dilakukan oleh fotografer nasional professional, pihak PT. Anugerah Bara Kaltim, dan Kadispar Kukar. Adapun untuk poling foto favorit, peserta tidak diperkenankan menggunakan fasilitas Auto like/bom like ataupun fasilitas sejenisnya.Pemasukan foto dilakukan pada tanggal 1 s/d 11 Agustus 2017  penentuan nominasi 14 s/d 18 Agustus 2017, Poling foto favorit 21 Agustus s/d 21 September 2017. Penjurian 29 September 2017, pengumuman pemenang 30 September 2017 dan penyerahan hadiah pada tanggal 1 Oktober 2017.






Pembentukan Kelompok Sadar Wisata Desa Jembayan.


Bertempat di Balai Pertemuan Umum  Desa Jembayan Kecamatan Loa Kulu diadakan Pembentukan Kelompok Sadar Wisata yang hadiri Kepala Bidang Pemasaran Drs. Witontro dan Kasi Promosi Drs. Triyatma, serta Kasi Pemberdayaan Masyarakat Wisata Airin Susanti, SE. MM, dari perwakilan Kecamatan, Desa, LPM dan Lembaga Adat, yang berlangsung pada hari kamis 18/5/2017.

Menurut Hartono yang merupakan ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa mengatakan Jembayan merupakan Kampung Tuha sebagai pendahulu desa-desa yang ada sehingga meninggalkan berbagai peninggalan yang bersejarah, seperti situs makam, monumen perjungan, gua dan bangunan jaman jepang, serta situs sejarah lainnya. Ditambahkannya potensi –potensi tersebut perlu dikelola dan diberdayakan dengan maksimal maka salah satunya dengan membentuk kelompok Masyarakat sadar wisata atau POKDARWIS yang peduli dan komitmen membangun Desa Jembayan.

Semantara itu dalam sesi pembekalan oleh Kabid Pemasaran Drs. Witontro mengatakan bahwa Sadar Wisata, adalah suatu kondisi yang menggambarkan partisipasi dan dukungan segenap komponen masyarakat dalam mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan di suatu destinasi atau wilayah.

Menurutnya Kelompok Sadar Wisata, selanjutnya disebut dengan Pokdarwis, adalah  kelembagaan di tingkat masyarakat yang anggotanya terdiri dari para pelaku kepariwisataan yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab serta berperan sebagai penggerak dalam mendukung terciptanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan serta terwujudnya Sapta Pesona dalam meningkatkan pembangunan daerah melalui kepariwisataan dan manfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat sekitar, pungkasnya.


Setelah melakukan diskusi dan Musyawarah maka terbentuklah kelompok sadar wisata desa Jembayan dengan nama “Rindu Kampung Tuha” dengan ketua Hartono, Wakil Ketua Sony, Sekretaris Emmi Dehmi, Bendahara Hamisah dan harapannya agar para pengurus yang terbentuk ini melakukan koordinasi untuk membentuk seksi-seksi dalam pokdarwis.

 



Penutupan Pelatihan Kerajinan Anyaman Di Desa Wisata Kedang Ipil


Setelah satu minggu kegiatan pelatihan Kerajinan Anyaman berlangsung maka Pada hari Rabu, 17 Mei 2017 pukul 09.30 Wita bertempat di Balai Adat Desa Kedang Ipil dilakukan Penutupan Pelatihan Kerajinan Anyaman Kerjasama Dinas Pariwisata, Pemerintah Desa Kedang Ipil dan Pokdarwis Kandua Raya. Penutupan dilakukan oleh Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni, MPP, yang di dampingi oleh Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Ir. H. Muhammad Bisyron, Kasi Pengembangan Daya Tarik Wisata, Kepala Desa Kedang Ipil, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan peserta pelatihan.

Kepala Dinas Pariwisata dalam sambutannya mengatakan bahwa jika Desa Wisata Kedang Ipil ingin tetap eksis dan selalu dikunjungi wisatawan harus selalu menjaga kekompakan antara Pemerintah Desa, Pokdarwis dan Masyarakat. Selain itu beliau juga mengharapkan untuk terus menjaga nilai-nilai Budaya Adat Kutai Lawas dan menurunkannya ke generasi yang ada sekarang sehingga budaya dan adat kutai lawas yang terpelihara dengan baik ini tidak akan tergerus oleh kemajuan zaman.

Di akhir sambutannya beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada 2 (dua) orang narasumber Ibu Anasfasia Esah dan Ibu Maretha yang telah membagikan ilmunya, kepada peserta diharapkan dapat menerapkan ilmu yang didapat selama mengikuti pelatihan ini serta mengajarkannnya kepada teman-teman yang belum sempat ikut dalam pelatihan.




Pelatihan Pelaku Usaha Sarana Rumah Makan Dan Restoran


Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara mengadakan Pelatihan pelaku sarana rumah makan dan restoran yang telah terlaksana di Hotel Liza Tenggarong, dalam pelatihan ini Dinas Pariwisata mengundang para pelaku usaha seperti pemilik Rumah makan dan restoran yang berada di Tenggarong Kutai Kartanegara.




Kegiatan Pelatihan ini juga di juga dihadiri oleh seluruh pejabat Dinas Pariwisata, acara yang berlangsung selama satru hari mendatangkan dua orang  narasumber yang berkompeten di bidangnya, seperti  ibu Nurul yang juga sebagai Auditor bidang usaha hotel, auditor bidang usaha jasa perjalanan wisata, auditor bidang usaha MICE, auditor jasa konsultan pariwwisata, asesor kompetensi bidang perhotelan.




Dra. Sri Wahyuni. MPP., selaku Kepala Dinas Pariwisata, membuka secara resmi Pelatihan pelaku sarana rumah makan dan restoran. Dalam pemaparannya saat membuka pelatihan beliau mengatakan bahwa agar para pelaku usaha seperti restoran dan rumah makan agar dapat mengambil peluang karna Tenggarong sudah menjadi kota wisata, bahkan dari enam daya tarik wisata Kutai Kartanegara dan kunjungan terbanyaknya ada di Tenggarong yaitu Pulau Kumala, dalam hal ini restoran dan rumah makan harus berbenah untuk menjadi lebih baik dari pelayanan maupun penyajian makanan, serta dapat mendaptarkan restoran dan rumah makannya, agar terdata sehingga mudah untuk bekerjasama dengan pihak terkait seperti travel saat ada rombongan kunjungan ke Tenggarong.






Berlanjut pada tahap pemberian materi oleh narasumber mengenai hygine sanitasi makanan yaitu upaya kesehatan dalam memelihara dan melindungi kebersihan makanan, melalui pengendalian factor lingkungan dari makanan yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan penyakit dan atau ganguan kesehatan.  Para pelaku usaha juga di bekali enam prinsip Higiene Makanan dari pemilihan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, penyimpanan makan masak yang benar, cara pengangkutan makanan yang siap santap, dan cara penyajian makanan yang baik.  

Pelatihan Kerajinan Anyaman Di Desa Wisata Kedang Ipil


Pada hari Kamis, 11 Mei 2017 pukul 09.00 Wita di Balai Adat Desa Kedang Ipil dilakukan Pembukaan Pelatihan Kerajinan Anyaman Kerjasama Dinas Pariwisata, Pemerintah Desa Kedang Ipil dan Pokdarwis Kandua Raya. Hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Pariwisata yang diwakili oleh Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Ir. H. Muhammad Bisyron yang membuka secara resmi dengan didampingi oleh Kasi Pengembangan Daya Tarik Wisata, Kepala Desa Kedang Ipil, tokoh adat dan masyarakat dan peserta pelatihan. Jumlah perajin yang mengikuti pelatihan ini adalah sebanyak 12 orang. Kegiatan ini merupakan program pengembangan destinasi pariwisata dalam meningkatkan keterampilan anyaman bagi pengurus pokdarwis dan masyarakat Kedang Ipil. Kepala Dinas Pariwisata melalui Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dalam sambutannya mengatakan bahwa Pemerintah Daerah juga akan terus menumbuh kembangkan potensi kerajinan rakyat, sehinggah budaya kerajinan anyaman masyarakat tidak akan hilang. Selain itu Dinas Pariwisata memberikan dalam bentuk dukungan berupa fasilitasi pelatih yang didatangkan dari Kutai Barat, peningkatan pemanfaatan sumber daya alam, bimbingan yang bersifat dasar industri kerajinan berbahan dasar rotan dan bambu. Pelatihan akan berlangsung selama 7 hari (11-17 Mei 2017), adapun instruktur atau pelatih dalam kegiatan ini ada 2 (dua) yang memang sudah berpengalaman melatih, baik untuk wilayah Kaltim maupun provinsi lainnya.sedangkan materi pelatihan 20% teori dan 80% praktik. Materi diklat yang disampaikan adalah sebagai berikut :

1. Pengetahuan bahan dan alat

2. Pengetahuan desain kerajinan

3. Pengetahuan pewarnaan (teori)

4. Pengetahuan pewarnaan (praktik)

5. Praktik pembuatan produk kerajinan rotan/bambu.




Mecaq Undat, Pesta Panen Suku Dayak Kenyah


Acara Mecaq Undat yang sudah masuk Kalender Event Pariwisata, tahun ini dilaksanakan pada 5 s/d 6 Mei 2017 dilamin adat Bioq yang diikuti 3 desa yaitu Ritan Baru, Umaq Tukung dan Tukung Ritan, hadir pada acara tersebut Sekretaris Camat Tabang, Kasi Data Info Dinas Pariwisata Kukar, Kepala Desa, Dewan Adat Dayak Tabang, Kepala Adat serta Masyakarat umum lainnya.



Upacara Mecaq Undat  diawali dengan pembacaan mantra oleh orang yang dituakan di suku Dayak Kenyah Muara Ritan Di sekelilingnya beberapa tetua adat yang lain mendengarkan dengan saksama. Mantra dibacakan memohon ijin  untuk  dewa-dewa yang sudah berjasa memberikan perlindungan dan tanah yang subur bagi mereka untuk berladang.



acara dilanjutkan pemukulan gong oleh Sekretaris Camat Tabang , sebagai tanda acara mecaq undat dimulai. Setelah itu dilanjutkan menumbuk beras pada sebuah lesung panjang yang berada ditengah - tengah lamin adat, disini  masyarakat Dayak Kenyah bersama - sama para pejabat, tamu undangan menumbuk beras  hasil panen tahun ini hingga menjadi tepung.

Dalam kehidupan masyarakat Dayak Kenyah, setelah beras menjadi tepung, akan dimasak dengan cara dimasukkan kedalam bambu dan dimasak dengan cara dibakar, itulah yang dinamakan Undat. Menurut ketua panitia Santo, Mecaq undat merupakan pesta adat masyarakat Dayak Kenyah yang dilaksanakan setiap tahun setelah panen, dan telah dilaksanakan secara turun temurun dari nenek moyang dahulu hingga saat ini.



Maksud dan tujuan Mecaq Undat tambahnya sebagai ungkapan rasa  syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas  berkat dan rahmatnya yang diberikan kepada para petani ladang sehingga memperoleh hasil melimpah, juga  sebagai upaya untuk melestarikan nilai - nilai adat dan budaya yang ada dimasyarakat dayak kenyah khusus  yang ada di kecamatan Tabang, sehingga semangat kegotong royongan yang ada dimasyarakat Dayak Kenyah tetap terpelihara.



Ditempat yang sama pada malam harinya dilaksanakan malam kesenian   dengan menampilkan tarian Datun Sun Bulak yang memperagakan periode  atau masa kehidupan nomaden suku Dayak Kenyah lepok tukung yang sekarang berdomosili di sungai Belayan, yang periode perpindahannya terdapat 6 tempat atau tahap dan setiap tahap tergambar pada pakaian yang dikenakan oleh penari




Nutuk Beham “Pesta Panen Padi Muda” Di Desa Kedang Ipil


Sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas panen padi yang diperoleh, para tetua Adat dan Masyarakat Desa Kedang Ipil melaksanakan acara Nutuk Beham yang dilaksanakan pada 28 sampai 30 April 2017, hadir pada acara puncak tersebut  Dinas Pariwisata Prov Kaltim, Dinas Pariwisata Kukar, Camat Kota Bangun serta unsur Muspika, para Komunitas Budaya dan Masyarakat Kedang Ipil.Menurut Ketua Panita Pelaksana acara Nutuk Beham yang artinya adalah menumbuk Beham, merupakan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat desa Kedang Ipil pada saat permulaan musim panen raya. Ritual ini dilaksanakan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat, Prosesi adat Nutuk Beham berlangsung Pelataran yang dibangun sebelah balai desa selama 3 hari 3 malam tanpa henti dengan jumlah padi yang ditumbuk sebesar 2,5 Ton,  Di awali dengan memanen padi ketan hitam dan putih, padi atau gabah tersebut kemudian direndam dalam air selama tiga malam. Kemudian padi yang telah direndam diangkat dan disangrai dalam wajan berukuran besar diatas tungku yang digali pada permukaan tanah yang disebut ngehantuhui.Padi atau gabah yang telah disangrai itulah yang disebut dengan istilah beham. Beham kemudian didinginkan dan dilanjutkan dengan menumbuk untuk melepaskan kulit ari pada beham. Prosesi menumbuk beham inilah yang kemudian menjadi asal muasal nama ritual nutuk beham. Keunikan yang ada pada proses nutuk beham adalah menggunakan lesung yang dibuat dari batang pohon cempedak dan diatur sedemikian rupa diatas panggung. Warga secara bergantian dan berkelompok mulai menumbuk atau menutuk beham dan pada saat alu di tumbukkan, lesung mengeluarkan bunyi khas dan berirama sesuai kekuatan yang menumbukkan alu pada lesung. Beham yang telah ditumbuk kemudian di tampi untuk membuang sisa-sisa kotoran dan kemudian langsung diolah menjadi kue, yaitu dengan menyiramkan air panas atau merang, lalu dicampur dengan parutan kelapa dan gula habang (merah) dan di aduk sampai merata dan disebut dengan bungkal beham. Bungkal beham yang telah jadi diletakan pada wadah dan baru boleh disantap setelah para dewa (dukun) bememang (membaca mantra) memanggil para leluhur untuk ikut bersantap sebagai wujud rasa syukur warga karena hasil panen yang melimpah.