Statistik

Hit hari ini : 85
Total Hits : 724,142
Pengunjung Hari Ini : 37
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 159,571

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 40 Next > Last >>

Merebahkan Ayu



Merebahkan Tiang Ayu merupakan prosesi sakral terakhir yang menandai berakhirnya perhelatan Erau Adat Kutai Pelas Benua 2016. Pada prosesi ini, pusaka Sangkoh Piatu (Tiang Ayu) yang didirikan di tengah Ruang Stinggil Keraton kembali direbahkan pada posisinya semula, yang berlangsung  Senin 29/8 yang dipimpin langsung oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehuddin II dan Kerabat Kesultanan  bersama camat Tenggarong Mulyadi.






Hadir pada prosesi tersebut Wabup Kukar Edi Damansyah,  Ketua DPRD Kukar Salehuddin, Dandim 0906/Tgr Letkol Ari Pramana Sakti, dan Kabag Humas Protokol Setkab Kukar Dafip Haryanto Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAP Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat,  serta para kerabat kesultanan Kutai.










Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa dan tampak para undangan tampak hikmat mengikuti  nya dalam sambutan nya Sultan Kutai Kartanegara yang diwakili Pangeran Ario Adzuar Poeger mengatakan bahwa dengan direbahkan Tiang Ayu maka berakhir pula seluruh rangkaian acara adat Erau Kutai yang dimulai dari besawai sampai merebahkan tiang ayu ini, dan ucapan terimakasih kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara atas dukungan, dan kepada semua yang terlibat dalam acara ritual adat seperti para Dewa, Belian, Pangkon, serta para pengawal, pungkasnya.






Setelah prosesi Merebahkan Ayu, seluruh Kerabat Kesultanan, Para undangan, Belian, Dewa, Pangkon, dan para abdi tampak bersalaman untuk berpamitan dengan Sultan HAM Salehuddin II dan Putra Mahkota.










Untuk diketahui, menurut sinopsis dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Ayu adalah senjata raja Kutai Kartanegara pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang disebut juga Sangkoh Piatu. Pada Ayu yang menyerupai tombak tersebut diikatkan Tali Juwita dan Kain Cinde dan pada puncaknya dihiasi janur kuning, daun sirih, serta buah pinang yang terbungkus kain kuning.










Rebah Ayu merupakan lambang kerahayuan, yang bermakna sebagai harapan semua masyarakat Kutai hidup sejahtera, makmur, bahagia, rukun, dan damai atas rida Tuhan Yang Maha Esa












Closing Ceremony EIFAF 2016


Seluruh tim delegasi Partisipan EIFAF 2016 serta para undangan menghadiri acara penutupan  Erau Adat kutai dan International Folk Arts Festival  dalam rangkain acara tersebut seluruh delegasi menunjukan performance didepan para undangan dan bahkan group dari Indonesia tampil dua group yaitu jepen dan belian sentiu dan ini adalah penampilan terakhir dari group kesenian mancanegara maupun dari  Indonesia.






 


Dalam kesempatan ini Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari mengapresiasi seluruh panitia yang telah sukses menyelenggarakan Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2016, acara yang berlangsung meriah di Gedung Putri Karang Melenu (PKM) Tenggarong Seberang, Minggu (28/8).






”Terimakasih atas dukungan dan kerja keras semua panitia yang telah sukses menyelenggarakan EIFAF, terkhusus pihak kesultanan Kutai Ing Martadipura yang telah memberikan masukan dan pemikiran, mudah-mudahan ke depannya akan lebih baik lagi,” kata Rita.

Tidak hanya itu, Rita juga menilai pagelaran Erau tahun ini sangat luar biasa. “Saya bahagia sekali bisa mengikuti penutupan Erau, mudah-mudahan tahun depan kita tidak defisit dan bisa menambah banyak lagi negara-negara yang datang ke Kutai Kartanegara. Mari kita bergaul dengan baik dan menghormati budaya bangsa lain,” ujarnya.



 





Ditambahkan Rita, festival budaya ini harus terus dilestarikan sebagai kecintaan kepada warisan leluhur, sekaligus menjadi wadah apresiasi para pecinta seni serta sebagai hiburan bagi masyarakat yang menyaksikannya secara langsung.

“Budaya itu tidak mengenal politik, budaya itu hanya mengenal kegembiraan, kebahagiaan dan juga persaudaraan sehingga siapapun yang menonton dan mencintai seni budaya pasti memiliki pesona dan menyampaikan kedamaian di daerah dan mencintai warisan leluhur,” ujar Rita.


 





Hadir pada acara malam closing ceremony tersebut Kapolda Kaltim Irjen Pol Safaruddin, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar, Wakil Bupati Kukar Edi Damansyah, Plt Sekda H Marli, kepala SKPD di lingkungan Pemkab Kukar.


 





Di akhir acara, Bupati Kukar Rita Widyasari menyerahkan piagam penghargaan kepada seluruh delegasi peserta EIFAF, dilanjutkan dengan menari tarian jepen.


 



 


Ngulur Naga Erau 2016









Erau Adat Kutai And International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2016, telah berlangsung selama sepekan di Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara, di hadiri Sultan Kutai H. Adji Mohamad Salehoeddin II, Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Kerabat Kesultanan Ing Martadipura dan Jajaran Pemkab Kutai Kartanegara, Kasdam, Kejaksaan Tinggi Kaltim, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,P.Hd, Wakil Bupati Drs. Edi Damansyah,M.Si, Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Kapolres Kutai Kartanegara, Dandim 0609 Tenggarong, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni, MPP., dan Pimpinan serta tim kesenian 10 negara anggota International al Council of Organizations of folklore Festivals and Folk Art ( CIOFF ).






Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari,P.Hd., menutup secara resmi Erau Adat Kutai And International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2016, Prosesi Puncak Kemeriahan Erau Adat Kutai and International Folklore And Art Festival ( EIFAF ) di tandai dengan prosesi mengulur naga. Prosesi ini di gelar di halaman Keraton Kesultanan Ing Martdipura, Replika Naga akan menyusuri sungai mahakam dan berakhir di Kutai lama, Anggana.




Dua ekor naga yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kepala terbuat dari kayu yang di ukir mirip kepala naga dan di hiasi sisik warna warni dan diatas kepala terpasang ketopong ( mahkota ), di bagian leher terdapat kalung yang dihiasi kain berumbai warna warni. Bagian leher yang berkalung di sammbungkan kebagian badan yang terbuat dari rotan dan bambu, dan di bungkus dengan kain kuning. Pada kain kuning ini disusun sisik - sisik ular besar. Badannya seakan - akan seekor naga yang siap berjalan kearah tujuannya, bagian ekor terdiri terbuat dari kayu yang telah diukir menyerupai seekor naga.






Selama tujuh hari tujuh malam dua ekor naga ini telah di semayamkan di bagian serambi kanan keratin untuk naga laki, dan di bagian bawah sekitar dada di taruh / di tempatkan masing - masing penduduk lengkap dengan isinya di hadapan serambi kiri kanan tempat naga bersemayam terdapat titian di sebut rangga titi tempat naga di turunkan yang di hampari kain kuning untuk menuju sungai, sebelum naga di turunkan dari persemayamannya ada prosesi persembahan oleh dewa belian memberi jamuan dan besawai bahwa naga akan di turunkan. Selesai ritual oleh dewa belian 17 orang laki - laki berpakaian lengkap ( celana panjang batik, baju cina lengan panjang putih, sarung diikatkan di pinggang dan di kepala diikatkan potongan kain batik di sebut pesapu ). Mulai bergerak mengangkat kedua naga tersebut bersamaan dan mulai menuruni titian menuju sungai, sedangkan dewa belian berjalan di bagian muka sebagaian muka sebagai kepala jalan sebagai kepala jalan sambil membawa perapen / persepan.







Saat perjalanan naga menuju ke sungai di hantar oleh empat orang pangkon laki dan empat orang pangkon bini dan seorang membawa molo / guci untuk untuk mengambil air tuli yang di apit oleh dewa belian laki bini yang membawa perapen / persepan. Sedangkan di kiri dan kanan dua naga di apit oleh prajurit yang berpakaian lengkap dan membawa tombak. Sesampainya di tepi sungai ( pelabuhan ) dewa belian melakukan memang dan dua ekor naga di naikkan keatas kapal ( perahu motor ) dengan posisi menghadap kehaluan / depan kapal. Kapal dan pengiring naga bertolak ke ulu sungai menuju kepala benua sebagaimana titik awal prosesi menjamu benua dan berputar - putar sebanyak tiga kali baru menuruni sungai ke hilir. Dalam perjalanan tepatnya di pamerangan desa jembayan loa kulu, perjalanan kapal di tampatkan, alunan gamelan di bunyikan dan dewa belian be mamang untuk pemberitahuan kepada sekalian penghuni / penduduk / masyarakat gaib di sekitar pamerangan bahwa naga sedang di turunkan menuju tepian batu kutai lama, anggana. Selepas wilayah pamerangan, kapal membawa naga melaju kembali hingga di tepian aji samarinda seberang, di tepian aji ini di sambut dengan acara ritual tokoh - tokoh suku bugis, kapal melambat dan dewa belian bemamang sambil mengalunkan gamelan, juga sebagai pemberitahuan bahwa prosesi naga sedang di turunkan di kutai lama, sesampainya di kutai lama dewa belian bemamang dan alunan gamelan di mainkan, kapal berputar di tepian batu kutai lama, di Tepaian Batu ritual penyambutan di lakukan oleh para tokoh - tokoh masyarakat kutai Lama dan para pengiring naga sambil menurunkan / melaboh dua ekor naga di tengah masyarakat Kutai Lama.






Sebelum naga tenggelam, bagian kepala naga tepatnya di daerah kalung naga harus di sembelih / di potong, begitupun di bagian ekor di potong. Bagian kepala dan ekor naga yang telah di potong di bawa kembali ke Tenggarong untuk di semayamkan hingga acara ngulur naga yang akan datang. Saat prosesi ini air tuli di ambil untuk belimbur. Badan naga yang telah terpotong, menjadi perebutan masyarakat yang menghadiri prosesi ini dengan mengambil sisik - sisiknya dengan berbagai macam tujuan yang bersifat mistis. Ada yang berperahu dan berenang mendekati badan naga yang siap di sisiki oleh para pengunjung, secara perlahan, kerangka badan naga tenggelam di tutup gelombang / riak - riak air menghantarkannya ke dasar sungai. Kapal pembawa naga kembali ke tenggarong dan di semua kampong/ desa yang di lewati terjadi acara belimbur massal sebagai unsur kehidupan.




Belimbur bermakna penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga orang orang yang di limbur kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah, serta lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat.


Tampilan Terakhir Pentas Seni






Tampilanan terakhir pada sabtu tanggal 27 Agustus 2016 yang dimulai pada pukul 19.30 Wita. Pentas seni yang berlokasi di Taman Ulin Tenggarong ini mampu menyedot perhatian penonton yang datang menyaksikan pertunjukan pentas seni  tersebut. Tampilan yang disuguhkan pada malam itu dari delegasi Indonesia ditampilkan dari Kecamatan Tabang dan dari group kesenian Handil Borneo Etam dari Kecamatan Muara Jawa, sedangkan dari delegasi folklore yaitu dari Negara Urainian, dan Negara Taiwan A.




Tampilan pertama disuguhkan dari tuan rumah Indonesia yaitu dari Kecamatan Tabang, kemudian dari Negara Ukrainian yang menampilkan tarian dan nyanyian , yanyian yang dinyanyikan oleh Negara Ukrainian dengan tiga (3) bahasa yaitu Bahasa Ukrainian, Bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia, serta perwakilan dari Ukrainian Nona Larisa dengan fasihnya bebahasa Kutai, dia menyebutkan “saya gawal dengan orang kutai” tepuk tangan penonton pun riuh dengan ucapan Nona Larissa tadi.



  


Selanjutnya tampilan dari tuan rumah lagi yaitu dari Handil Borneo Etam yang menampilakn tari jepen pesisir, tari ini menceritakan kegiatan gadis – gadis pesisir yang menjalani keseharian di pinggiran sungai Mahakam etam seperti mencuci dan bermain .




Tak kalah juga penampilan dari NegaraTaiwan yang menampilkan 3 tarian sekaligus, tarian pertama bertema tarian bunga yang bertebaran di Negara Taiwan, tarian berikutnya bertema tarian seorang putri yang turun dari langit, dan tarian terakhir dari Taiwan ini adalah tarian kegembiraan masyarakat Taiwan dalam menyambut tahun baru cina.


Upacara Adat Ngamen



Group Kesenian dari Uyai Tiga Tampil di Amin Biok Pulau Kumala pada hari Sabtu  tanggal 27 Agustus  pukul 01.00 Wita dengan membawakan Persembahan Upaca Adat Ngamen yang artinya Membuka Lahan Baru untuk Desa Suku Dayak Kenyah. Upacara Adat ini biasanya dilakukan pada saat suku dayak kenyah yang ingin berpindah dari satu desa ke desa lainnya. Tujuan dari Upacara Adat ini dilaksanakan yaitu agar desa yang baru ditempati tersebut makmur dan sebagai ritual untuk mengusir dan melindungi desa dari roh jahat yang ingin menggangu desa mereka tersebut.




Upacara adat ini mampu menyedot pengunjung yang datang menonton dan membuat penonton terpukau melihat penampilan mereka, walau pun cuaca yang cukup panas tidak menyurutkan minat penonton untuk menyaksikan penampilan acara adat Ngamen yang artinya “membuka lahan baru tuk desa mereka”.

Tampilan acara adat ini adalah rangkaian dari acara Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival Tahun 2016 yang dilaksanakan di Tenggarong Kutai Kartanegara.



Polandia Menari



Group Kesenian Asal Negara Polandia  hadir dalam Pelaksanaan  Pesta Adat Erau dan Internasional Folk Art Festifal (EIFAF) Tahun ini. Group Kesenian yang berdiri sejak 71 tahun yang lalu ini merupakan satu dari tiga group tertua di Polandia, bertempat di Lapangan Basket Turapan Sungai Mahakam Tenggarong pada hari Jum’at tanggal 26 pada pukul 19.30. Group Kesenian asal Polandia tampil memukau dengan mempersembahkan tarian Tradisi yang ada di Szamotuly. Group ini terdiri dari anak-anak dan orang dewasa yang berusia 6 – 72 Tahun. Group ini menyampaikan tariannya dengan bahasa halus dan santun yang didalamnya memasukan ritual nyayian, tarian dan irama.




Polandia juga terkenal dengan tarian yang mempunyai ciri khas Spontanitas, dinamika, langkah yang cepat dan juga kebebasan dalam bergerak dan sangat riang, Bagian yang sangat diperlukan dalam tarian ini adalah busana yang penuh warna tarian ini mempertontonkan keindahan.




Selain Polandia tampil Juga Group Kesenian dari Samarinda Indonesia, yang menampilkan tarian Karnia Anak Dayak Warisan Budaya Leluhur, Taiwan mempersembahkan tarian The Beautiful Orshid (anggrek yang Indah), The Haste Universe (ketergesaan alam semesta), Pleasures (kesenangan) di akhir persembahannya taiwan membawakan tarian Back to my lovely country (kembali kenegara saya indah). Lithuania tampil membawakan tarian khas berupa Kas Man Sopa, Perluti Ry Tato, Duosiv Pertul, Indonesia dari Tenggarong Kutai Kartanegara tampil dengan Tari Jepen Bunga Perangai. Pentas Seni Lapangan Basket selalu ramai oleh penonton yang ingin menyaksikan aksi seni para para seninamdalam dan luar Negeri.


Sanggar Tari Tonyoi Dayak Benuaq






Tampilan dari tuan rumah sendiri adalah dari Sanggar Tari Tonyoi Dayak Benuaq dan Sanggar Tari Serai Wangi Tenggarong. Tampilan seni ini adalah rangkaian dari acara Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival Tahun 2016 yang dilaksanakan di Panggung Seni Aji Imbut Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara pada hari Jum’at tanggal 26 Agustus 2016 pukul 19.30. Selain dari sanggar tari Tonyoi dan Sanggar Tari Serai Wangi tampil juga dari Negara delegasi diantaranya dari Canada (Ukrainian), Negara Bulgaria dan Negara Rusia.




Penampilan pertama di suguhkan dari sanggar tari tonyoi yang berjudul tari Gantar. Tari gantar sendiri  merupakan jenis tarian pergaulan antara muda mudi yang berasal dari Suku Dayak Benuaq  Kalimantan Timur. Tarian ini melambangkan kegembiraan dan juga keramah-tamahan suku Dayak  dalam menyambut tamu yang datang berkunjung, baik sebagai wisatawan, investor, atau para tamu yang dihormati.




Tari Gantar ini dahulunya hanya ditarikan pada saat upacara adat saja, menurut versi cerita yang lain bahwa tari gantar merupakan tarian yang dilaksanakan pada saat upacara pesta tanam  padi Properti tari sebuah tongkat panjang tersebut adalah kayu yang digunakan untuk melubangi tanah pertanian dan bambu pendek adalah tabung benih padi yang siap ditaburkan pada lubang tersebut. Gerakan kaki dalam tari ini menggambarkan cara menutup lubang tanah tersebut. Muda-mudi dengan suka cita menarikan tari tersebut dengan harapan panen kelak akan berlimpah ruah hasilnya.





TARI SUI TEMENGANG



Sanggar Tari BENING dari Indonesia Tampil memeriahkan Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) pada hari Jum’at  tanggal 26 Agustus pukul 19.30 Wita di taman Ulin, dengan menampilkan tari Sui Temengang merupakan salah satu tarian tradisional Dayak Kenyah yang gerakannya menggambarkan kehidupan burung enggang. Tari Burung Enggang sangat lekat kaitannya dengan masyarakat dayak di Kalimantan. Di Kalimantan Timur burung ini menjadi inspirasi dalam sebuah tarian, yang biasa disebut tari enggang atau tari Sui Temengang. Gerakan dalam tarian ini adalah semua seakan mengumpamakan penari seperti burung enggang. Pada gerakan tangan terbentang, penari menari seperti burung enggang sedang terbang. Sedangkan pada gerakan bulak balik dan putar memutar, penari menari seperti burung yang berpindah tempat. Selain itu gerakkan menari  yang merupakan gerakan utama atau gerakan Khas Dayak menyerupai burung enggang yang membuka dan menutup sayapnya. Pada saat menari para penari menggunakan bulu burung enggang di tangan sebagai property dalam menari dan di balut dengan busana adat khas dayak dan ikat kepala.


Pada Sesi Berikutnya Group Kesenian Gubang Kids Community, menampilkan Jepen Lenggang Mustika yang menceritakan latar belakang budaya melayu kutai, dibawakan kanak-kanak halus atau anak-anak kecil dengan lenggang atau gerak yang di tarikan nantinya akan menjaadi mustika atau permata keindahan yang lembut serta enegik dalam pesona lenggang mustika.




Dari Manca negara Juga Group Kesenia Estonia dan Rumania yang turut menyemarakan pentas seni Taman Ulin Lapangan Pemuda Tenggarong.





Tari Pemburu Enggang Kreasi




Sanggar Tari Merak Mekar dari Indonesia Tampil memeriahkan Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) pada hari Jum’at  tanggal 26 Agustus pukul 04.00 wita bertempat di Pulau Kumala Tenggarong , dengan menampilkan Tari Pemburu Enggang Kreasi,tari pemburu enggang ini menceritakan keadaan burung enggang yang berada dihutan pulau kalimantan yang merasa terusik oleh ulah pemburu-pemburu satwa ini dan menjadikannya ajang bisnis mewah yang marak di ceritakan di media sosial sekarang ini.






Tari pemburu enggang ini di kutip dari tari enggang yang asli. Disesi kedua Merak Mekar menampilkan TARI ENGGANG yang merupakan Tarian suku dayak kenyah, tari enggang menjadi tarian wajib dalam setiap Upacara Adat suku dayak kenyah, menurut kepercayaan orang Dayak Kenyah nenek moyang mereka barasal dari langit dan turun kebumi menyerupai burung enggang, oleh karena itu masyarakat dayak kenyah sangat menghormati, memuliakan burung enggang, sehingga tari enggang dapat dimaknakan sebagai penghormatan suku dayak kenyah terhadap asal-usul leluhur mereka. Bulu-bulu enggang ini selalu memegang peranan yang penting pada setiap upacara-upacara adat dan tarian-tarian adat kenyah.




Pada Street Perpormace di pulau kumala juga turut di meriahkkan dengan tampilan Group kesenial dari luar Negeri IDAHO – USA dan Taiwan A di setiap akhir pertunjukan para peserta mengajak para penonton baik itu anak-anak maupun orang dewasa untuk menari bersama.





UPACARA ADAT LAEUM NGELEIN






Kerukunan Keluarga Dayak Modang Tenggarong ikut menyemarakkan Pesta Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Art Festival (EIFAF) bertempat lapangan Basket Turapan Mahakam  pada hari Jum’at 26 Agustus jam.02.00 wita dengan megusung tema  UPACARA ADAT LAEUM NGELEIN PELEKATAN DAN PENGUKUHAN NAMA KETURUNAN SEORANG ANAK MENURUT TRADISI ADAT MODANG. Upacara Adat ini biasanya dilakukan pada saat kelahiran seorang anak, karunia ini menjadi kebanggaan dan kegembiraan dan disambut dengan suka cita, tidak hanya oleh ayah dan ibunya tetapi oleh seluruh keluarga dan kerabat sang anak itu sendiri. Kelahiran seorang anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya saja tetapi menjadi tanggung jawab keluarga besar dan komunitas. Dengan demikian peranan kepala adat, pengurus adat, pemangku adat benar-benar dijalan sebagaimana  mestinya.




Sebelum di beri nama sang anak dan kedua orang tuanya akan menjalani berbagai prosesi adat dimana anak yang akan dilekatkan nama bersama orang tua dan pendamping berangkat dari rumah menuju tempat pelaksanaan Adat (gueng teuh) setibanya ditempat pelaksanaan adat, kaki kanan seorang anak akan diinjakkan pada dapur adat, lalu duduk ditempat yang telah di tentukan. Rangkaian upacara adat dilanjutkan dengan monolog (nyekaeng) kepada tuhan yang maha esa (Poq Metae) dan leluhur, untuk menyatakan keinginan tentang pelaksanaan adat pelekatan nama pada tempat ritual adat oleh pemangku adat. Dilanjutkan pemotongan rambut sianak simbolik pelepasan, pembersihan diri anak dari hal-hal yang dipandang dapat berakibat kesialan, merugikan, menghambat pertumbuhan dan perkembangan sianak.







Prosesi Net Leug mengajukan permintaan nama yang akan dilekatkan pada sang anak, lewat ritual net leung dengan sarana daun pisang ambon hingga di kabulkan, pelekatan nama kepada sang anak dengan simbolik mengikatkan gelang manik pada pergelangan tangan serta memasang topi adat (TEPAE), pengukuhan nama sang anak dilengkapi dengan ritual menginjakan kaki kanan anak pada babi, pengukuhan nama yang telah dilekatkan pada anak disampaikan kembali oleh sang babi kepada leluhur dialam baka dan kepada tuhan yang maha esa. Kemudian babi jantan disembelih, darah ditampung dalam tempat yang sudah disediakan, pengolesan darah babi pada sang anak, pakaian adat, barang adat dan tempat ritual untuk memasak sesajen adat dalam bambu berupa darah, jantung, hati, limpa, ginjal, telur dimasukkan dalam bambu lalu dimasak, kemudian sesajen dibungkus dalam daun pisang ambon sebanyak 8 bungkus dilletakkan dalam kelengkang (Legeag) digantung pada bambu dekat Tenkaeg/Telesag dibawah kelengkang di gantung tulang rahang dan persendian leher babi, Nyekaeng penyerahan sesajen masak PAKEAN SAIG kepada leluhur dan yang maha kuasa.