Statistik

Hit hari ini : 229
Total Hits : 376,893
Pengunjung Hari Ini : 92
Pengunjung Online : 5
Total pengunjung : 90,397

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 26 Next > Last >>

18 NEGARA SIAP BERPARTISIPASI DI EIFAF 2015

Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata dan CIOFF Indonesia  menggelar rapat persiapan Erau Internasional Folklore & Art Festival.(EIFAF) tahun 2015 pada selasa 24/2/2014 di ruang rapat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang dihadiri seluruh pejabat struktural serta Presiden Cioff Indonesia Said Rachmat beserta Tim

Kepala Dinas Kebudayaan dan Parwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan rapat ini dilaksanakan dalam rangka mengatahui berapa jumlah peserta EIFAF tahun  2015, sehingga panitia pelaksana mempunyai rancangan awal dalam hal penyiapan Akomodasi serta transportasi peserta, serta evaluasi pelaksanaan EIFAF 2014 untuk dilakukan pembenahan dan perbaikan sehingga pelaksanaan EIFAF Tahun 2015 berjalan maksimal sesuai dengan harapan

Semantara itu  Presiden International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF Indonesia) Said Rachmat mengatakan kedatangan tim CIOFF Indonesia selain melakukan rapat koordinasi dengan pihak Dinas Kebudayaan dan Parwisata Kab. Kukar juga melakukan survey tempat-tempat yang akan di gunakan dalam pelaksanaan EIFAF 2015,

ia menilai pelaksanaan EIFAF tahun lalu berjalan sukses berdasarkan laporan dari para peserta EIFAF dan ia  mengapresiasi kinerja Panitia, hal ini terbukti pada acara “Culture Appreciation Night” 2015, (malam apresiasi seni budaya ) yang digelar pada 20/2/2015 CIOFF Indonesia memberikan penghargaan khusus kepada Bupati Kutai Kertanegara yang telah berhasil menjadi host festival folklore di Indonesia melalui Erau Internasional Folklore & Art Festival 2014.

Dalam kesempatan ini juga dijelaskan bahwa pihak CIOFF Indonesia telah memberikan  undangan ke nagara-negara anggota CIOFF, hasilnya ada 18  negara yang siap mengikuti EIFAF 2015, adapun Negara-negara tersebut adalah : Turki, Polandia, Bulgaria, Latvia, Jerman, Litania, Rusia, Hawai, Philipina, Italia, Estonia, Slovania, Yunani, Malaysia, Mesir, Afrika Selatan, Georgia, dan Korea Selatan, dengan jumlah peserta sebanyak 228 orang, selain itu pihak CIOFF Indonesia juga akan mengundang group kesenian yang tergabung dalam UNISCO.

Dibagian akhir rapat Presiden CIOFF Indonesia Said Rachmat mengatakan pihak CIOFF dan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menginginkan agar pelaksanaan Festival EIFAF tahun 2015 yang berkualitas dan Festival terbaik Dunia,

Catatan Dari Festival Budaya Sei Mahakam (3) Seminar Budaya Dan Pariwisata Kutai Kartanegara


Selain kekayaan alamnya, budaya dan potensi pariwisata Kutai Kartanegara menjadi daya tarik tersendiri. Guna memenuhi penasaran pengunjung akan hal tersebut, dalam rangkaian Festival Sei Mahakam di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), secara khusus Yayasan Total menggelar Seminar dan Talkshow tentang budaya dan pariwisata Kutai Kartanegara.




Talkshow khusus tentang Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menghadirkan narasumber Sekretaris Keraton HAPM Hariyanto Bahroel. Sementara seminar potensi pariwisata Kutai Kartanegara dengan narasumber Staf Ahli bidang pemerintahan Suriansyah dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kutai Kartanegara. Seminar yang  berlangsung di salah satu ruang BBJ ini dihadiri oleh awak media, pengunjung dan pemerhati budaya dan pariwisata nusantara.





Diskusipun mengalir selama seminar. Mulai dari sejarah Kesultanan Kutai, keberadaan buaya muara di pesisir Mahakam dan pengalaman teknis saat pengawetan sepasang buaya muara untuk keperluan edukasi, hingga paparan tentang pola-pola perjalanan wisata berdasarkan lokasi dan atraksi wisata di Kutai Kartanegara.

Selain itu, keberadaan pesut mahakam melalui video drone kompas.com yang juga hadir di Festival Sei Mahakam diperkuat dengan seminar pelestarian Pesut Mahakam dengan narasumber Dr Daniel, Ketua Yayasan RASI (Rare Aquatic Species Indonesia), peneliti ITB, Manajer lingkungan Total E & P dan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kukar Sri Wahyuni.





Para peserta talkshow dan seminar sangat antusias dengan informasi yang mereka dapatkan. "Ada banyak hal yang belum saya ketahui sebelumnya tentang Kukar tapi diulas panjang lebar di forum ini" ujar mahasiswa UNDIP yang kebetulan berada di Jakarta dan tertarik mengunjungi festival Sei Mahakam.

Sesuai dengan namanya, Festival Sei Mahakam ini digelar oleh Yayasan Total Indonesia untuk mengenalkan dan mempromosikan kehidupan masyarakat dan seni budaya di kawasan sungai Mahakam, khususnya Kutai Kartanegara. "Pengembangan dan pelestarian budaya adalah komitmen kami. Selain festival ini, bekerjasama dengang Disbudpar Kukar kami juga rutin menyelenggarakan workshop tari kreasi Jepen Kutai dan festival tari kreasi Jepen se-Kaltim. Baru-baru ini kami juga menyokong rekonstruksi drama tradisional Kutai Mamanda" ujar Eddy Mulyadi selaku Ketua Yayasan Total Indonesia.    





Catatan Dari Festival Budaya Sei Mahakam (2) Menghentak Jakarta Dengan Budaya Keraton, Pesisir Dan Pedalaman


Menghentak Jakarta dengan Budaya Keraton, Pesisir dan Pedalaman



Suara gamelan Kesultanan Kutai mengalun syahdu. Di atas pentas terbuka beratapkan langit, lengan-lengan mungil itu memulakan tari Topeng Kemindu. Begitu topeng terpasang di wajahnya, penonton terkesima. Penari mungil itu benar-benar memukau dengan topengnya dan tak ragu-ragu dengan gerakannya menarikan Topeng Kemindu bersama tiga penari dewasa lainnya.



Penampilan tari Topeng Kemindu ini merupakan bagian dari Upacara Perkawinan Adat Kebangsawanan Kutai pada Festival Sei Mahakam di BBJ beberapa waktu lalu atas prakarsa Yayasan Total Indonesia. Pengunjung diperkenalkan serangkaian tradisi adat mulai dari pertemuan mempelai laki-laki dan wanita, hingga prosesi adat di dalam Geta (pelaminan). Sajian upacara adat ini diawali dengan tarian Dewa Memanah. Setelah dibacakan Tarsul dan tari Topeng Kemindu, kedua mempelai menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.




Berikutnya upacara adat Kesultanan berlanjut lagi dengan prosesi Tasmiyah Naik Ayun atas kelahiran anak. Upacara ini pun menarik perhatian karena rangkaian prosesi dan perlengkapan upacara adatnya termasuk rupa-rupa makanan dan sajian adat yang menyertainya. Keseluruhan prosesi ini dilakonkan oleh kerabat kesultanan.

Sepanjang Festival Sei Mahakam, pengunjung dimanjakan dengan pertunjukkan seni di halaman BBJ. Selain budaya keraton, pengunjung juga dikenalkan dengan tarian dan musik tradisional pesisir maupun pedalaman Kutai. Ragam gerak tari kreasi Jepen dengan musik kreasi tingkilan dibawakan dengan hentakan musik dan kelembutan gerak penari ditambah dengan padu gerak properti kipas dan payung yang dibawakan oleh tim kesenian Yayasan Gubang Tenggarong.




Yang unik, kesenian drama tradisional Mamanda juga turut tampil dengan pesan-pesan heroik dalam lakonnya dalam rangka spirit hari Pahlawan, dengan dialog-dialog khas Mamanda yang kocak dan unik.

Sementara tim kesenian Pokan Takaq, selain menampilkan demonstrasi Tenun Ulap Doyo dan Sulam Tumpar, juga secara khusus mempersembahkan ragam gerak tari masyarakat Dayak Benuaq, mulai dari tari lilin, tari seraong hingga tari pengobatan belian yang mendapat sambutan yang meriah dari pengunjung yang hadir.

Selaku manajer BBJ, Dinar menyatakan rasa bangga dan puas atas pertunjukkan seni yang digelar selama Festival Sei Mahakam. “Pertunjukkan seni keraton, pesisir dan pedalaman Kutai ini bener-bener mewarnai suasana petang hingga malam hari di BBJ. Nuansa seni budaya Kutai Kartanegara ini memberikan warna yang berbeda disini dan mendapat antusias pengunjung” ujarnya.






Catatan Dari Festival Budaya Sei Mahakam (1) Menguak Budaya Dan Kehidupan Masyarakat Di Sungai Mahakam


Menguak budaya dan kehidupan Masyarakat di Sungai Mahakam



Ada yang berbeda di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) November lalu. Kali ini BBJ menjadi miniatur ragam budaya Kutai Kartanegara yang mengetengahkan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, budaya pesisir dan budaya pedalaman Kutai Kartanegara melalui Festival Budaya Sei (Sungai) Mahakam yang digagas oleh Yayasan Total Indonesia. Sajian budaya yang tampil di sini selalu dikemas secara eksklusif, mengingat BBJ  menjadi tempat rujukan kegiatan budaya di jakarta.




Selama 10 (sepuluh) hari penuh, pengunjung dimanjakan dengan sajian informasi tentang Kutai Kartanegara melalui pameran yang menyajikan berbagai koleksi Kesultanan Kutai, peralatan tradisional masyarakat Kutai dan para nelayan yang melaut ke Sungai Mahakam termasuk sepasang buaya muara yang diawetkan koleksi Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong yang menjadi perhatian pengunjung.




Sementara di halaman BBJ, terdapat panggung seni dimana budaya Kutai Kartanegara setiap sore dan malam hari memancar disini, baik budaya Kesultanan Kutai Kartanegara, budaya pesisir maupun budaya pedalaman. Pertunjukkan seni budaya ini benar-benar menghangatkan suasana malam di BBJ dibawah taburan bintang di langit Jakarta.




Ketua Yayasan Total Indonesia Eddy Mulyadi mengatakan bahwa Festival Budaya Sei Mahakam ini dimaksudkan untuk memperkenalkan secara luas tentang kebudayaan dan adat istiadat ketiga kelompok masyarakat yang sudah sejak lama tinggal bersama- sama dengan rukun dan harmonis disepanjang Sungai (Sei) Mahakam guna meningkatkan pariwisata di daerah ini.

Sementara Wakil Bupati Kutai Kartanegara HM Gufron Yusuf yang turut hadir saat pembukaan festival menyambut baik dan mengapresiasi Yayasan Total Indonesia atas kegiatan tersebut agar budaya Kutai Kartanegara lebih dikenal oleh masyarakat ibukota Jakarta dan sekitarnya.




Pembukaan Festival Sei Mahakam ini dilakukan oleh Kadisbudpar Provinsi Kaltim mewakili Gubernur, dan dihadiri oleh Direktur Promosi Dalam Negeri Kementerian Pariwisata, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Putra Mahkota Pangeran Adipati Anom Surya Adiningrat beserta kerabat, Presiden & General Manager Total E & P Indonesie Hardy Pramono, Vice CEO Kompas Gramedia Liliek Oetama dan undangan lainnya.



Grafis kegiatan Festival Budaya Sei Mahakam di BBJ

No.    Kegiatan

1.    Pameran koleksi Museum Mulawarman, Museum Kayu Tuah Himba Tenggarong dan koleksi Galeri Yayasan Total Indonesia

2.    Demo pembuatan perahu ketinting

3.    Demo pembuatan tenun Ulap Doyo, sulam tumpar dan anyaman masyarakat pedalaman

4.    Pemutaran Film tentang Pesut Mahakam & Sentra Pembuatan Ketinting dan Kehidupan Masyarakat Sepanjang Sungai Mahakam

5.    Penayangan 360° Virtual Tour tentang Kabupaten Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman, Kedaton, Danau Semayang, Bukit Bengkirai dll).

6.    Pementasan Tari pedalaman dan tari pesisir

7.    Pementasan tari & upacara adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura

8.    Pementasan Teater Rakyat “Mamanda”

9.    Peragaan busana adat Dayak dan adat Kutai & peragaan busana modern dengan sentuhan desain motif Dayak oleh rumah mode “Batik Chick”.

10.    Demo memasak kuliner Dayak dan kuliner Kutai didampingi oleh “Majalah Saji”.

11.    Mengajarkan tarian pedalaman kepada para siswa yang datang berkunjung

12.    Seminar/talkshow mengenai kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, pariwisata di Kukar, pelestarian Pesut Mahakam dan buaya muara

13.    Acara temu pengrajin (meet the maker) dengan para pengrajin anyaman, ulap doyo, sulam tumpar dan perahu ketinting.




PENAYANGAN FILM ERAU KOTA RAJA


Pada hari senin tanggal 5 Januari 2014 di XXI Epicwalk Kompleks Epicentrum Jakarta, telah di lakukan gala premier " Film Erau Kota Raja ", dan penayangan serentak pada bioskop XXI dan studio 21 di seluruh Indonesia mulai kamis tanggal 8 Januari 2015. Film Erau Kota Raja produksi East Cinema Picture ini disutradarai Bambang Drias, dengan pameran utama dan artis antara lain Nadine Chandrawinata, Denny Sumargo, Ray Sahetapy, Jajang C Noer dan Donnie Sibarani.





    Film ini mengisahkan tentang seorang jurnalis bernama kirana, diperankan Nadine Chandrawinata yang bertugas meliput Festival Erau di Tenggarong. Selama bertugas sebagai jurnalis, kirana bertemu reza yang di perankan Denny Sumargo seorang penduduk lokal yang mendampingi dan membantu selama peliputan hingga menjadi tambatan hati.





    Kisah cinta jurnalis ini menjadi salah satu alur cerita dengan latar belakang event tahunan Festival Erau dengan maksud mempromosikan pesta rakyat yang menyajikan beragam seni, tradisi, keindahan alam dan budaya Kabupaten Kutai Kartanegara.

    "Film ini benar - benar mempromosikan Kebudayaan Kutai Katanegara". Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. S. Sos. MM. Phd., beharap Film Erau Kota Raja bisa memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa Kutai Kartanegara merupakan daerah eksotis yang kaya seni budaya ... Nah, film ini sebagai sarana promosi agar banyak investor yang datang sekaligus menjadikan Kutai Kartanegara pilihan destinasi wisata. Rita Widyasari. S. Sos. MM. Phd., berharap " Film ini menularkan adat dan budaya Erau ke daerah lain, sekaligus cemin refleksi sejauh mana batas - batas dan ikatan kearifan lokal di lebur pada era modern".  

    Sutradara film Erau Kota Raja, Bambang Drias mengatakan "film ini kami ingin memperkenalkan acara festival Erau yang sudah di laksanakan setiap tahun di Kutai Kartanegara. Meski Erau ini acara besar, tapi gaungnya belum banyak orang yang tahu. Padahal acara ini sudah di hadiri beberapa negara". Lebih lanjut Bambang mengungkapkan bahwa "film ini sebagai hadiah karya perfilman di Kutai Kartanegara".  





RUMAH DARI KULIT KAYU, JADI PERHATIAN PENGUNJUNG EXPO FESTIVAL KEMILAU SENI BUDAYA ETAM 2014


Pada hari Rabu 12/11/2014 pukul 20.00 Wakil Guburnur Kaltim H.M Mukmin Faisal membuka Expo Festival Kemilau IX tahun 2014 ditandai dengan pengguntingan Pita di dampingi Kadis Budpar Kaltim H.M. Aswin serta Kepala Daerah dari Kabupaten Kota se Kaltim, setelah itu dilanjutkan mengunjungi Stand-Stand Pameran di Arena Expo.






Pada Kesempatan itu para rombongan Wagub langsung menghampiri Stand dari Dinas kebudayaan Dan Pariwisata Kukar, para rombongan langsung disambut oleh Kabid Pemasaran Disbudpar Kukar, Drs. Witontro, dan Kasi Promosi Wisata Drs. Heri, wagub beserta rombongan sangat menikmati dan betah dengan suasana stand dari Disbudpar yang mengambil konsep Rumah kutai tempo dulu yang terbuat dari kulit Kayu, ditambah lagi para tamu di suguhi Kue (jajak) khas Kutai berupa rebusan ubi, jagung, bolu, dan jajak Cincin, wagub pun menyantap satu persatu kue yang disuguhkan sesekali wagub melihat dan bertanya tentang rumah ini, cukup lama wagub beserta rombongan berada di Rumah Kutai tempo dulu ini , hingga pihak Panitia mengingatkan bahwa masih banyak stand expo yang akan ditinjau. Kepala Disbudpar Kaltim H.M Aswin sangat mengapresiasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar yang menghadirkan rumah Kutai tempo dulu di Expo ini



Keberadaan Kampung Kutai tempo dulu di Expo Kemilau tahun ini menyedot perhatian para pengunjung expo tidak sedikit dari  pengunjung yang mengabadikan dengan kamera ponsel, maklum stand Disbudpar Kukar tampil beda dengan yang lain, para pengunjung di sambut ramah oleh para Teruna dan Dara Kukar 2014, dan dipersilahkan mencicipi kue  khas kutai. Salah satu pengunjung yang bernama ibu Aisyah yang semasa kecil bermukim di wilayah pedalaman sungai Mahakam  mengatakan bahwa bangunan rumah dari kulit kayu mengingatkan ia pada masa behuma (sawah) yang mana pondok huma nya terbuat dari kulit kayu,






Semantara itu Kasi Promosi Wisata Disbudpar Kukar Drs. Heri mengatakan bahwa  stand Pameran disbudpar kukar mengambil Konsep rumah kutai tempo dulu yang sesuai dengan tema pada Expo Kemilau tahun ini yaitu  Expo Seni Budaya,  pada momen ini disbudpar kukar mempromosikan objek-objek wisata yang ada dikukar, melalui brosur, pamflet yang di bagikan kepada pengunjung


TIM PENILAI PANJI-PANJI KEBERHASILAN PEMBANGUNAN BIDANG KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KUNJUNGI KUKAR

Tim penilai Panji-Panji keberhasilan Pembangunan Bidang Kebudayaan dan Pariwisata  Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai melakukan penilaian di Kukar. Senin 10 November 2014,  tim terdiri  dari para akademisi dan swasta di antaranya Prof. Dr. Suharno. SE., MM, Ak. Guru Besar Fakultas Ekonomi Unmul, Sudarsono. SE Kasi Niaga / Jasa BPS Provinsi Kaltim, Ashari dari Disbudpar Kaltim, dan sebagai ketua Tim Drs.H.M Zulkipli. MA selaku Sekretaris Jenderal PHRI Kaltim



Kegiatan Tim di Kabupaten Kutai Kartanegara diawali dengan mendengarkan presentasi Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP tentang  pengembangan Pariwisata dan Kebudayaan Kukar Tahun 2014, menanggapi pemaparan tersebut tim menanyakan beberapa hal, namun secara umum tim puas atas penjelasan yang begitu lengkap dan detail



Ditempat   yang sama  Ketua Tim Penilai Drs.H.M Zulkipli. MA mengatakan bahwa Kabupaten / Kota dapat melengkapi data tentang kendala dan hambatan dalam mengembangkan industri Pariwisata dan Kebudayaan. Selain itu memberikan saran kepada pemerintah daerah dalam mengembangkan pariwisata hendaknya memperhatikan manajemen waktu dengan baik atau informasi yang benar dilapangan kepada wisatawan. Juri lain yaitu Sudarsono. SE menyarankan dalam mengembangkan Pariwisata jangan hanya memprioritaskan sisi pembangunan saja, tapi juga yang harus diperhatikan sisi pemeliharaan, dan pembangunan dunia pariwisata harus berdampak atau bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Semantara itu menurut Prof. Dr. Suharno. SE, MM Kepariwisataan ini menurutnya harus mencakup berbagai hal, baik dari sisi keunikan maupun akses yang mudah, aman, dan yang terpenting adalah sejauh mana peran masyarakat dalam pariwisata serta yang terpenting menurutnya adalah adanya manfaat Ekonomi bagi masyarakat sekitar.



Setelah itu dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa objek wisata yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara, antara lain Planetarium Jagad Raya  Tenggarong dan sungai Kedang Rantau Cagar Alam Muara Kaman. Didampingi Kepala  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar, Dra. Sri Wahyuni. MPP dan Kasi Pengelolaan Destinasi Wisata Aji Ali Husni. AB. SE., M.Si. Tim langsung mengunjungi Planetarium Jagad Raya dan melihat pertunjukan Film 3 dimensi tanpa kaca mata dalam kunjungan ini tim begitu antusias melihat perkembangan Planetarium Jagad Raya yang pertama di Kalimantan ini.

Setelah mengunjungi Planetarium Tim penilai melanjutkan kunjungan ke Kecamatan Muara Kaman bersama Kadis Budpar Kukar Dra. Sri Wahyuni, dan Kasi Data Dan Informasi Drs. Yanto Haryanto. M.Si untuk melihat secara langsung Habitat Pesut Mahakam, Burung Enggang, Bekantan dan Flora serta Fauna di kawasan cagar alam Muara kaman

Ditemui di sela-sela penilaian, Ashari dari Disbudpar Provinsi Kaltim  mengatakan bahwa Disbudpar Provinsi Kaltim sebagai pelaksana program kegiatan penilaian akan memberikan penghargaan kepada Kabupaten / Kota yang telah melaksanakan pembangunan dibidang Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2014 yaitu sebagai pemenang dan penerima Panji-Panji Keberhasilan Pembangunan Bidang Kebudayaan dan Pariwisata untuk kategori kabupaten / Kota. Dalam melakukan penilaian keberhasilan pembangunan akan melibatkan para Akademisi dan Swasta, yaitu penilaian dilakukan secara menyuluruh baik wisata maupun budaya. pungkasnya



PENJURIAN DAN PENENTUAN PEMENANG LOMBA PEDULI DAN KREATIF SAPTA PESONA 2014 (Pemanfaatan Daur Ulang Sampah Menjadi Barang Berguna)

 Dinas Kebudayaan Dan Parwisata Kab. Kutai Kartanegara, kembali menggelar Lomba Peduli Dan Kreatif Sapta Pesona 2014 ( Pemanfaatan Daur Ulang Sampah Menjadi Barang Berguna) lomba ini merupakan rangkaian acara dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong yang ke 232 dan mensukseskan Kukar Sehat 2015. Tujuan dilaksanakannya lomba ini adalah agar masyarakat lebih Kreatif dalam mengolah sampah yang bisa dipakai dan di daur ulang, sehingga bisa dijadikan produk-produk yang bisa digunakan dan bernilai ekonomis.



Setelah melewati beberapa tahapan dari pendaftaran dan pengumpulan hasil karya, kemarin pada senin 3/11/2014 bertempat di ruang serba guna lantai 3 gedung B, dilaksanakan penjurian dan penentuan pemenang Lomba, adapun jumlah peserta yang mengikuti lomba ini sebanyak 55  peserta yang terdiri dari beberapa Katagori yaitu Tingkat SD sebanyak 3 Peserta, Tingkat SLTP 21 peserta, Tingkat SLTA 21 peserta, dan Tingkat Umum dan Mahasiswa 10 peserta.



Untuk menilai lomba ini Panitia Pelaksana menghadirkan Dewan juri yang terdiri dari 5 orang yang berasal dari Dinas pendidikan, Badan Lingkungan Hidup Daerah, Dinas Perindustrian perdagangan dan Koperasi, Forum Kabupaten Sehat dan Dinas kebudayaan Dan Pariwisata, aspek yang dinilai dalam lomba ini adalah Jenis Bahan Baku, Kuantitas Bahan Baku, Metode Pembuatan, Manfaat, Kreatifitas, Kerumitan, Biaya, Ergonomi



Setelah dewan juri melakukan Penilaian akhirnya terpilihlah juara untuk masing-masing katagori, untuk pemenang tingkat SD Juara I, Hanifah  Nama Karya Tempat Permen, Juara II, Siwa Salsabila Nama Karya Pot Bunga. Juara III Salsa Nama Karya Taplak Meja. Pemenang tingkat SLTP. Juara I Minawati dan Iqbal Nama Karya Keranjang Minuman, Juara II Nur Alifiya Taisha Nama karya Vas Bungan, Juara III Adillah Tshabiitah. S nama karya Vas Bunga. Pemenang Tingkat SLTA Juara I Alda Agustina nama karya Tas Tangan Kresek, Juara II Devi Lianawati nama karya tempat tisu daur ulang ku,  Juara III Eskul Kriya Cemerlang nama karya Bingkai Foto Tempat Pensil. Juara Tingkat Umum dan Mahasiswa. Juara I Heny Triana nama karya Burung Merak, Juara II Nia Regianya Setyawati nama karya Kap Lampu. Juara III Ropingi. S.Pd nama karya Tugu Sapta Pesona. Untuk masing pemenang lomba akan diberikan Tropy, Sertifikat dan Uang Pembinaan.

ULANG TAHUN SULTAN YANG KE – 90

 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kukar pada Jum’at, 31/10/2014 menggelar “ Kaseh Selamat” atau perayaan Ulang tahun ke 90 Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehoeddin II, yang dilaksanakan di kampong Koetai.

 Perayaan Ulang tahun ke 90 Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehoeddin II merupakan syukuran setelah dilaksanakannya Festival Kota Raja (FKR III) guna memeriahkan hari jadi Kota Tenggarong yang 232 yang telah berjalan lancar dan sukses, dan hal ini tidak lepas dari doa restu dari Sultan, hal ini dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP.

 Semantara itu Sekretaris Daerah Drs. Edi Damansyah yang hadir dalam acara itu mengucapkan selamat Ulang tahun yang ke 90 kepada Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehoeddin II, dikatakan bahwa  keberadaan Sultan telah banyak memberikan nasihat dan Bimbingan dalam hal melaksanakan tugas sebagai pemerintah untuk melayani masyarakat serta Nasihat dalam kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga.

 Sultan sangat menyukai keberadaan Kampung Kutai ini, bahkan beliau pernah dua hari berturut datang kesini untuk sekedar menikmati suasana kampung Kutai. Selain hal itu kegiatan ini juga merupakan kejutan bagi sultan, karena sebelumnya beliau belum mengetahui bahwa acara syukuran yang dilkaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata sekaligus merupakan acara Kaseh Selamat, jadi beliau sangat terkesan ungkap Dedi, yang merupakan ajudan Sultan Haji Aji Muhammad Salehoeddin II

Acara tersebut selain dihadiri beberapa kepala bagian dilingkungan Sekretariat Daerah Kukar, juga dihadiri Pimpinan Bankaltim dan BRI Tenggarong sekaligus mengucapkan selamat Ulang Tahun kepada Sultan

DIALOG BUDAYA MASYARAKAT KUTAI

 Bertempat di area Festival Kampung Kutai, pada Senin  malam 13/10/2014  digelar acara dialog Budaya dengan menghadirkan tokoh budayawan dan Seniman dari Kota Raja Tenggarong, dialog ini membahas tentang Seni Budaya yang ada di Kutai Kartanegara, dan hal ini berkaian dengan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong yang ke 232, ada pun narasumber yang dihadirkan adalah Sekretaris Kedaton Kutai Kartanegara HAP Gondo Prawiro, Erhamsyah Sadi, Adi Kuswara, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP yang juga sebagai Moderator pada diskusi ini.

 Ketika ditanya tentang Festival Kampung Kutai, HAP Gondo Prawiro mengatakan Diera globalisasi yang serba modern, Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Dan Pemda Kukar masih ingat dengan Kampung Kutai, sebab miniatur Kampung Kutai ini sangat menarik dan mengingakan tentang kehidupan Kampung Kutai jaman dulu, dan kedepanya mungkin perlu untuk berdiskusi dengan arsitek kampung kutai, sebab bentuk-bentuk rumah kutai ada beberapa bentuk, menurut nya karena ini kampung kutai jaman dulu sebaiknya ada kegiatan seperti orang membuat / masak lemang, ngawah ( masak nasi di tempat kawah  besar) yang dilakukan secara bersama yang dilakukan oleh para pria. Karena ini merupakan budaya, dan budaya menghasilkan misalnya makanan, seperti jajak cincin dan lainnya, dan kalau perlu ada pohon buah bolok yang sering dinyanyikan namun tidak pernah melihat bentuk pohon dan buahnya yang terkenal itu.

 Begitu pun dengan Narasumber yang lain mengapresiasi keberadaan  dengan adanya kampung kutai ini, menurut seniman Erhamsyah Sadi (caca) ia kagum dengan desain kampung kutai jaman dahulu, namun karena ini baru awal ada beberapa hal yang diperhatikan, seperti rumah daun, dindingnya menggunakan dinding kajang, dan kedepanya, agar bisa menghadirkan kampung kutai sebenarnya, karena ini kampung kutai maka budaya dan adat istiadat kutai juga harus ada didalamnnya

Semantara itu menurut seniman yang juga budayawan kutai Adi Kuswara mengatakan Perkampungan kutai ini cukup bagus, ada 2 pondok pehumaan dan rumah rantauan Perkampungan kutai merupakan gambaran perkampungan masa lalu, dan ini sebagai upaya pelestarian budaya, supaya anak cucu kita tahu tentang rumah-rumah kutai tempo dulu. Dan menghimbau kepada para seniman agar bersama-sama membina dan mengembangkan seni dan Budaya Kutai.

 Dalam kesempatan itu sekretaris kedaton menampik bahwa ada anggapan  orang kutai itu “Pembayut” (Pemalas), dan hal itu tidak benar ini dibuktikan  pada abad ke II sudah berdiri kerajaan di tanah kutai yang merupakan kerajaan tertua di Indonesia, menurut dia mana mungkin orang pembayut bisa membangun sebuah kerajaan, adanya kota Balikpapan, samarinda, tenggarong dan kota bangun itu semua dibangun oleh orang kutai, jadi tidak benar bahwa orang Kutai Itu pembayut (Pemalas) dan orang pendatang merasa hebat, mungkin kata pembayut sebagai pemacu supaya orang kutai lebih maju lagi, pungkasnya

Semantara itu Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP mengatakan  rumah-rumah yang ada di kampung Kutai ini hanya bersifat semantara dan dalam jangka panjang, nantinya akan ada Perkampungan Kutai yang sebenarnya, dengan kehidupan dan adat istiadat Kutai didalamnya, menanggapi tentang Pembayut, Dra. Sri Wahyuni. MPP menmbahkan bahwa dari 10 Kabupaten / Kota di Kaltim 8 kota diantaranya merupakan eks Wilayah Kesultanan Kutai, itu mengambarkan betapa besarnya wilayah Kutai sehingga tidak benar bila orang Kutai dikatakan Pembayut,untuk itu jangan mau di katakan pembayut dan mari tunjuk kan kalau orang kutai bisa menjaga dan memelihara Kejayaan.