Statistik

Hit hari ini : 15
Total Hits : 277,861
Pengunjung Hari Ini : 11
Pengunjung Online : 1
Total pengunjung : 64,183

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 19 Next > Last >>

Polling Foto Nominasi Beautiful Erau 2014


Lomba Foto Beautiful Erau 2014 garapan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara telah memasuki tahapan pemilihan Foto Favorit dari tanggal 15 Juli sampai dengan 15 Agustus 2014. Untuk Polling dan dukungan foto favorit peserta cukup dengan menyatakan tanda suka        ( jempol ) pada foto nominasi, dengan membuka Facebook Visiting Kutai Kartanegara.  

Sambutan dan antusias masyarakat pada Lomba Foto kali ini cukup tinggi, ada sekitar 70 email peserta dengan jumlah 364 foto, dari 364 foto itu telah di lakukan penilaian oleh Juri sehingga terpilih sebanyak 39 foto yang berhak mengikuti tahapan pemilihan foto favorit. Dari kiriman email dan foto yang masuk pada panitia, peserta lomba foto Beautiful Erau 2014 diikuti dari dalam dan luar Kalimantan Timur.

Sampai dengan hari Jum'at  tanggal 25 Juli 2014, yang sudah memberikan tanda suka atau jempol sebanyak 2.918 orang, posisi sementara foto terbanyak yang mendapatkan tanda suka atau jempol yaitu Foto pertama yang berjudul Di balik lensa Sultan dengan total yang menyukai 388 orang, Foto kedua dengan judul Bebelian dengan total yang menyukai 318 orang, dan foto ketiga ialah dengan judul Tarian Tradisonal Bangladesh dengan total yang menyukai 282  orang. Masih ada waktu sampai tanggal             15 Agustus 2014 bagi  peserta yang fotonya telah masuk nominasi untuk merebut juara favorit lomba foto Beautiful Erau  2014, dengan cara menggalang dukungan sebanyak – banyaknya dari masyarakat. Dukungan terhadap foto nominasi ini, ternyata tidak hanya didukung oleh masyarakat dan pecinta photografi di Kalimantan Timur dan Indonesia tetapi mendapat Apresiasi dari luar negeri yaitu para peserta Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) tahun 2014.

    Lomba Foto Beautiful Erau 2014 akan memperebutkan  total hadiah 21 juta rupiah, tropi dan piagam  penghargaan. Penjurian dilakukan oleh fotografer professional yaitu Ray Bahtiar Drajad yang juga pendiri Kamera Lubang Jarum Indonesia, Bank Kaltim Cabang Tenggarong serta Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kutai Kartanegara Dra. Sri Wahyuni. MPP.



Dalam berita sebelumnya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, Dra. Sri Wahyuni. MPP., mengatakan bahwa “ Penyelenggaraan Lomba Foto  Pariwisata  adalah bentuk dari kepedulian dan pembinaan industri kreatif ( Bidang industri video, film  dan fotografi ) yang dilakukan Pemerintah. Selain menjadi ajang kreatifitas bagi pecinta dan komunitas fotografi juga melalui lomba foto diharapkan dapat memberikan informasi daya tarik wisata budaya kepada wisatawan dan lebih mengenalkan atau memperluas publikasi Potensi Wisata Budaya ini dengan Event Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) ’’.  Lomba foto tahun ini yang berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya. “ Salah satu penilaian pemenang foto favorit  akan ditentukan oleh banyaknya polling masyarakat yang mendukung foto peserta melalui sosial media Facebook Visiting Kutai Kartanegara. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mendorong partisipasi dan menumbuhkan minat para komunitas maupun masyarakat dalam memajukan bidang fotografi di Kabupaten Kutai Kartanegara ’’.



 


Nominasi Lomba Foto Beautiful Erau





























   Dukung Foto Pilihan Paforit anda dengan menyatakan tanda suka ( tanda jempol ) pada sosial media Facebook Visiting Kutai Kartanegara



 



 



 


Merebahkan Ayu


Kegiatan terakhir yang di laksanakan oleh pihak Kesultanan Ing Martadipura yaitu merebahkan Ayu, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura secara resmi mengakhiri pelaksanaan pesta Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2014, pada hari Senin pagi, melalui upacara Merebahkan Ayu. Upacara adat Merebahkan Ayu ini berlangsung khidmat dan sederhana yang digelar di ruang Stingkil Keraton Kutai Kartanegara atau Museum Mulawarman, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Acara ini dihadiri mantan Sekkab Kukar Awang Syahrial Setia, Asisten 4 Setkab Kukar Bahrul, Kepala Diskominfo Kukar M Surip, Kabag Humas dan Protokol Setkab Kukar Dafip Haryanto dan Ketua Lembaga Adat Kutai Balikpapan Muhid.

Diketahui bahwa Prosesi Merebahkan Ayu ini dilakukan oleh enam orang, yaitu putra Sultan Kutai, HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adinigrat, HAP Soeryo Adinata, HAP Soerya Manggala, dan HAP Soerya Kesuma serta dua orang keluarga Keraton Kesultanan Kutai, HAP Aryo Adi Putro dan HAP Ario Putro Ami Djoyo.

Dan yang bertugas menyambut ujung atau kepala Tiang Ayu ialah Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adinigrat. Proses tersebut disaksikan oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XX HAM Salehoeddin II bersama para kerabat Kesultanan.

Setelah merebahkan Tiang Ayu, maka dilanjutkan dengan pemberian tempong tawar oleh pimpinan Dewa Bini Arbaenah pertama-tama kepada Tiang Ayu, kepada Sultan Kutai, di Lanjutkan Putra Mahkota serta kerabat Keraton lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan do'a selamat yang dipimpin oleh seorang kerabat Keraton, HM Saidar sebagai tanda rasa Syukur kepada Tuhan yang maha Esa bahwa Erau berlangsung sukses.

Usai melaksanakan upacara Merebahkan Ayu, seluruh kerabat Keraton mulai dari panitia, petugas adat, Belian dan Dewa hingga pasukan Kesultanan, menghaturkan sembah dan menyalami Sultan Kutai bersama keempat putranya.

HAP Puger yang mewakili pihak Kesultanan Ing Martadipura Dengan dilaksanakannya Merebahkan Ayu, maka Erau Adat Kutai Kartanegara resmi berakhir

HAP Azwar Gunadi yang bergelar HAP Puger juga bersyukur karena pelaksanaan Erau tahun ini berjalan lancar dan sukses. Ia juga berterimakasih kepada pihak yang telah membantu dan mendukung terselenggaranya Erau tersebut, terutama Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara serta seluruh masyarakat Tenggarong dan masyarakat Kutai Kartanegara pada umumnya. Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung pesta adat Erau ini.

Suasana pun menjadi ramai ketika Di akhir acara Beras Tambak Karang berwarna-warni yang digunakan sebagai pelengkap berbagai upacara adat sakral keraton yang dipercaya membawa berkah menjadi sasarana rebutan para abdi kesultanan usai acara merebahkan Ayu selesai.



 


Prosesi Belimbur

Prosesi Puncak Kemeriahan Erau Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2014 di tandai dengan prosesi mengulur naga dan Belimbur. Prosesi ini digelar di halaman Keraton Kesultanan Ing Martdipura atau Museum Mulawarman.

Acara Erau yang berlangsung selama satu minggu bertambah meriah dengan hadirnya tamu dari 11 Negara anggota CIOFF, Belanda, Italia, Hungaria, Kroasia, Latvia, Kolombia, Rusia, Mesir, Korea Selatan, Fhilifina, Bhanglades, yang telah mengisi berbagai kegiatan kesenian khas dari masing - masing negaranya.

Acara Belimbur tersebut di hadiri Seluruh kerabat kesultanan, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM., beserta jajaran Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, pimpinan dan tim dari ke sebelas negara anggota International Council of Organization of Folklor Festivals and Folk Art ( CIOFF ).

Acara yang berawal dari prosesi mengulur naga yang di bawa menggunakan kapal menyusuri sungai mahakam ke Kutai Lama, dan Pada saat yang bersamaan di tenggarong, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAM Salehuddin II menjalani prosesi Beumban dan Begorok, di lanjutkan dengan Sultan naik ke RanggaTiti ( Balai yang terbuat dari bamboo kuning ). Pada prosesi ini Sultan memercikan Air Tuli ke dirinya sendiri, setelah itu dengan payung pinang, Air Tuli dipercikkan Sultan ke orang - orang di sekelilingnya, maka pada saat itulah acara Belimbur yang di tunggu – tunggu masyarakat Tenggarong dimulai.

Belimbur adalah acara siram – siraman. Di awali dengan sultan memercikkan air tuli, yakni air yang di ambil dari Kutai Lama sebagai asal muasal kerajaan Kutai Kartanegara kepada seluruh hadirin, baik di tempat acara, di jalan – jalan, semua masyarakat akan melakukan siram – siraman atau belimbur. Pada acara belimbur ini semua orang akan membiarkan dirinya basah menerima siraman air, tetapi air tersebut tidak boleh disiramkan kepada orang tua, bapak ibu yang membawa anak kecil. Belimbur bermakna penyucian diri dari pengaruh jahat sehingga orang orang yang di limbur kembali suci dan menambah semangat dalam membangun daerah, serta lingkungan dan sekitarnya juga bersih dari pengaruh jahat.   

Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM, mengatakan Belimbur adalah salah satu budaya asli Kutai yang unik dan harus di lestarikan, namun jangan sampai mengurangi makna belimbur, yaitu penyucian, harus menyiram sewajarnya dan menggunakan air bersih.

selain warga yang turun ke jalan untuk Belimbur, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM., beserta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah ( FKPD ) dan Kepala Dinas Instansi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara turut Berlimbur di Pendopo Bupati Kutai Kartanegara.  

Mengulur Naga 2014


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara yang bekerjasama dengan instansi terkait yang selama satu minggu menyelenggarakan Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2014, Acara Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2014 itupun berakhir dengan di tandai prosesi mengulur naga dan di lanjutkan prosesi belimbur.

selam satu minggu Erau di isi dan di meriahkan dengan berbagai macam aktifitas kegiatan baik dari Kesutanan Ing Martdipura maupun Pemerintahan Kabupaten Kutai Kartanegara, acara Erau juga bertambah meriah dengan hadirnya tamu dari 11 Negara anggota CIOFF, Belanda, Italia, Hungaria, Kroasia, Latvia, Kolombia, Rusia, Mesir, Korea Selatan, Fhilifina, Bhanglades. Prosesi Puncak Kemeriahan Erau Erau Adat Kutai International Folk Art Festival ( EIFAF ) 2014 di tandai dengan prosesi mengulur naga dan Belimbur. Prosesi ini digelar di halaman Keraton Kesultanan Ing Martdipura atau Museum Mulawarman, dan Replika Naga akan menyusuri sungai Mahakam dan berakhir di Kutai lama, Anggana. acara tersebut di hadiri Seluruh kerabat kesultanan, jajaran Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, pimpinan dan tim dari ke sebelas negara anggota International Council of Organization of Folklor Festivals and Folk Art ( CIOFF ) dan Sebelum acara di tutup oleh Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari. S.Sos. MM., maka di ceritakan terlebih dahulu riwayat tentang mengulur naga tersebut, Diketahui bahwa dua ekor naga yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian kepala terbuat dari kayu yang di ukir mirip kepala naga dan di hiasi sisik warna warni dan di atas kepala terpasang ketopong ( mahkota ), di bagian leher terdapat kalung yang dihiasi kain berumbai warna – warni. Bagian leher yang berkalung di sambungkan kebagian badan yang terbuat dari rotan dan bambu, dan di bungkus dengan kain kuning. Padakainkuninginidisusunsisik – sisik ular besar. Badannya seakan – akan seekor naga yang siap berjalan kearah tujuannya, bagian ekor terbuat dari kayu yang telah diukir menyerupai seekor naga.

Saat di Kutai Lama, Sebelum naga tenggelam, bagian kepala naga tepatnya di daerah kalung naga harus di sembelih atau dipotong, begitupun di bagian ekor di potong. Bagian kepala dan ekor naga yang telah di potong di bawa kembali ke Tenggarong untuk di semayamkan hingga acara ngulur naga yang akan datang. Saat prosesi inilah air tuli di ambil untuk belimbur.Badan naga yang telah terpotong, menjadi perebutan masyarakat yang menghadiri prosesi ini dengan mengambil“ sisik – sisiknya “ dengan berbagai macam tujuan yang bersifat mistis. Ada yang berperahu dan berenang mendekati badan naga yang siap di sisiki oleh para pengunjung, secara perlahan, kerangka badan naga tenggelam di tutup gelombang / riak – riak air menghantarkannya ke dasar sungai. Kapal pembawa naga kembali ke Tenggarong dan di semua  kampong/ desa yang di lewati terjadi acara belimbur massal sebagai unsur kehidupan.

setelah pembacaan riwayat prosesi mengulur naga, acara berlanjut dengan sambutan Bupati Kutai Kartanegara, beliau menyampaikan bahwa Erau bukan sekedar ungkapan rasa sukur dan ajang mempererat persatuan, tapi juga sebagai usaha pelestarian dan pengembanagan adat istiadat. beliau juga mengajak generasi muda Kutai Kartanegara, untuk kemudian di tonjolkan, selain seni budaya, makanan khas daerah juga punya potensi daya tarik pariwisata. partisipasi tim kesenian negara anggota CIOFF, selain menyemarakkan Erau juga memperkaya khazanah kesenian, serta menjalin persahabatan.


Permainan Tradisional Begasing

Bertempat di halaman parkir Pulau Kumala Tenggarong Kutai Kartanegara, olahraga tradisional begasing yang merupakan bagian dari rangkaian Erau Adat Internasional Folk Art and Festival (EIFAF) 2014, Permainan Bagasing yang mendapat perhatian masyarakat yang ingin menyaksikan permainan olahraga tradisional ini sangatlah tinggi dan menjadi tontonan mengasikkan. Bahkan permainan ini sangat sulit dipisahkan dari keseharian masyarakat Kutai Kartanegara, mulai dari kalangan anak-anak, dewasa hingga orang tua beradu ketangkasan dalam memainkan gasing yang sudah ada sejak puluhan tahun silam.

Begasing merupakan permainan yang dilakukan menggunakan alat berupa gasing dan tali penarik, sebongkah kayu berbentuk lonjong (simetris radial) dengan diameter sekitar 10 hingga 15 centimeter, tinggi sebuah gasing 15 sampai 20 centimeter, salah satu ujung dibuat lancip dan memiliki permukaan yang licin. Pada ujungnya dipasang bahan logam sebagai poros putaran, biasanya menggunakan paku jenis kayu yang digunakan kayu benggris atau ulin. Sementara tali penarik berdiameter 0,5 centimeter dengan panjang 1 hingga 1,5 meter.

Kemudian tali ini dililitkan ke gasing dengan bagian ujung tali dikaitkan ke jari sang pemain. Setelah itu dilemparkan ke bawah seperti membanting sesuatu, sehingga tali melilitnya membuat gasing berputar dan gasing dapat berputar sekitar 2 sampai 7 menit. Area permainan yang digunakan berupa dua buah lingkaran dengan diameter 1 meter.  Lingkaran luar berdiameter 5 meter setiap lingkaran memiliki nilai yang berbebeda.

Begasing dilombakan secara berpasangan atau satu lawan satu, kedua pemain harus berusaha agar gasingnya berputuar selama mungkin dan tetap berada di area permainan dalam beberapa babak. Para pemain gasing secara bergantian menjatuhkan gasing milik lawan, gasing yang terlempar keluar area atau lebih dulu berhenti berputar dinyatakan kalah, poin diberikan pada pemain berhasil mengeluarkan gasing lawan atau gasingnya mampu berputar paling lama.

Tabli, S.Pd yang menjadi Koordinator acara mrngatakan olahraga tersebut terdiri dari beberapa kategori, diantaranya beradu turai dengan sistem gugur. "Jadi sistem permainannya sistem gugur, mana yang berputar lama itu yang jadi pemenang. Kegiatan ini diikuti 170 orang khusus untuk beturai dari 18 kecamatan dan 5 Kabupaten atau kota di Kalimantan Timur." Beliau juga menjelaskan dari permainan beturai akan diambil pemenangnya 1 (satu) sampai 4  (empat), siapa yang paling lama memutar itu juara satu. Sementara kreteria lainnya dinamakan berajaan dengan tiga orang pemain dan yang paling lama berputar akan jadi raja dengan durasi 10 menit, dan durasi finalnya selama 15 menit. Dan ada juga begasing beregu namanya memepal siapa banyak dapat nilai itu yang menang. Dan Saya berharap kelestarian budaya olahraga tradisional ini bisa terus dilestarikan, dan  diberikan ruang dengan menyelenggarakan turnamen antar 18 kecamatan dan tidak hanya orahraga begasing melainkan semua olahraga tradisional dapat dilestarikan diantaranya, permainan engrang, lomba perahu dan permainan tradisional lainnya.

Penampilan Seni Tradisi Etnis Kutai Kartanegara

Indonesia yang menjadi tuan rumah khususnya Kutai Kartanegara dalam gelaran Erau International Folk Art Festival 2014 ( EIFAF ), juga menampilkan sedikitnya empat seni tradisi   etnis yang ada di Kutai Kartanegara. diantaranya ialah tari    tradisionl suku pedalaman Mahakam Dayak Benuaq, penampilan tersebut di laksanakan di Panggung  utama yang berada di Jalan Ahkmad Muksin.

Panggung utama tersebut setiap malamnya diisi oleh sebelas peserta Erau International Folk Art Festival 2014 dari mancanegara, bagi tuan rumah Indonesia didedikasikan untuk seni dan budaya dari berbagai suku, seperti yang tampil saat ini suku Dayak Benuaq.

Di ketahui bahwa Dayak Benuaq yang memiliki mayoritas dan bermukim di Kutai Kartanegara ini menyuguhkan  seni tari khas Dayak Benua yaitu tari Gantar, Belian Sentiuw  dan Tari Belian Bawo.  Adapula Kelompok Seni Budaya Pondok Karya Desa Pondok Labu Tenggarong yang membawakan  drama tari  yang telah dikolaborasi antara   tari Gong dari suku Dayak Kenyah dipadu dengan tari  Gantar dan Belian Bawo khas Benuaq berjudul Gong Siluq.

pimpinan kelompok Ameng menjelaskan makna tari ini bercerita tentang   putri jelita yang tersesat di hutan belantara. Kemudian ditemukan dua pemuda. Kedua pemuda ini ingin merebut hati sang putri namun  tidak dapat menerima cinta keduanya. Kedua pemuda sepakat  bertarung siapa yang menang   akan mendapatkan   sang putri.

Petarunganpun selesai pemenangnya  salah satu  pemuda, namun tiba tiba sang putri jatuh sakit.  Untuk mengobati sakit sang putri dua pawang melakukan ritual pengobatan tradisional   melalui upacara Belian, dan melalui upacara belian inilah kemudian pawang melakukan ritualnya dengan cara berputar sambil mengucapkan mantra mengelilingi sang putri sehingga  sehat seperti sediakala. Sedang kelompok Dayak Benuaq   Tonyoi Sempekat dari Kutai Barat menampilkan Tari Menyambut Tamu dan Belian Sentiuw. Antara Belian Sentiuw maupun Belian Bawo tidak jauh berbeda keduanya sama sama digunakan untuk upacara ritual pengobatan. Hanya saja  Belian Sentiuw    lebih dikenal oleh suku Tunjung Benuaq yang banyak bermukim di   Kecamatan Melak Kabupaten Kutai Barat.  Kedua sajian seni tradisi suku dayak ini sangat menghibur pengunjung panggung Erau International Folk Art Festival 2014, apalagi bagi para wisatawan asing, yang memang menyukai kesenian dan kebudayaan pedalaman Kalimantan.

Pagelaran Seni Hongaria

Masih dalam kemeriahan Erau International Folk Art Festival 2014, pagelaran seni yang yang di tampilkan setiap malamnya berlangsung meriah, Satu diantaranya yang tampil memukau di pentas pertunjukan seni tradisional rakyat  yang dibawakan kelompak The Hajdu Folk Dance Ensemble of Debrecen asal   Hongaria. Kelompok  ini menampilkan 2 jenis pertunjukkan rakyat yang hingga kini masih eksis di kalangan rakyat yang bermukim di sekitar taman nasional  negara itu.  Keduanya berjudul Shepards dance from Hortobagy dan Dance from Nagyivan. Dan di ketahui bahwa empat dari sebelas  Peserta Erau International Folk Art Festival 2014 yang saat ini sedang berlangsung di kota Tenggarong Kutai Kartanegara berasal dari negara di kawasan Eropah Timur.

Tampilan seni tari ini menggambarkan Budaya berternak hewan peliharaan bagi warga Hongaria di kawasan Eropah Timur merupakan lahan penghidupan sekaligus mata pencaharian paling dominan dan utama. Sehingga beternak bagi mereka  identik dengan kehidupan sehari-hari. Tanpa ternak hidup terasa hampa.

Menurut pimpinan kelompok Jozsef tarian Shepards dance ini menceritakan tentang para pengembala ternak yang sedang menjaga binatang mereka di ladang terbuka sambil memegang tongkat untuk menghalau ternak. Dalam pekerjaannya  peternak sering dihinggapi  rasa jenuh. Untuk menghilangkan kejenuhan   mereka sepakat  memghibur diri dengan tarian sambil memutar mutarkan  tongkat penghalau. Kebiasaan menari ini lah kemudian menjadi tradisi kesenian rakyat   terutama yang ada di kawasan sekitar Taman Nasional Hongaria.

Sedangkan tari Dance from Nagyivan merupakan kelanjutan tari sebelumnya dimana dalam tari tradisi rakyat ini lebih dititik beratkan pada rasa suka cita setelah ternak mereka sudah bias dijual ke pasar. Nah uang hasil penjualan ternak  kemudian digunakan untuk melakukan pesta rakyat di kampung halaman mereka. Kedua tarian ini berdurasi masing masing lima belas menit, tarian yang merupakan tarian para keluarga peternak Hongaria yang bersuka ria setelah berhasil memanen hasil ternak mereka tampilan setiap tarian dan kolaborasi music ini membuat seluruh pengunjung yang hadir merasakan kegembiraan, sama seperti maksud dari tari tersebut yang bertujuan menghilangkan kejenuhan saat berternak.

Dayak Modang Meriahkan EIFAF 2014

Kerukunan Keluarga Dayak Modang Tenggarong (KKDMT) melaksanakan upacara adat pelekatan nama di sekitar panggung seni depan sekretariat gerbang Raja, Timbau Tenggarong. Prosesi tersebut sekaligus untuk memeriahkan Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2014. Nama bukan hanya merupakan identitas bagi sesorang, tetapi juga merupakan doa dan harapan agar sesorang yang menyandang Nama tersebut mendapatkan kebaikan dalam kehidupan. Di Indonesia, pemberian Nama biasanya diiringi prosesi. Karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, ras dan agama, maka upacara pemberian nama bentuk pelaksanaannya juga sangat beragam. Salah satunya adalah adat pelekatan nama oleh suku Dayak Modang di Tenggarong Kutai Kartanegara. Prosesi tersebut diawai dengan ritual Nen Kaeg Heig Metae atau permohonan kepada Yang Maha Kuasa, yang dilakukan oleh pemimpin KKDMT, F Jiu Luay. Setelah membacakan mantera atau doa-doa dengan menghadap ke sungai Mahakam, F Jiu menaruh sembilan telur ayam kampung ke ujung masing-masing tongkat mambu yang sudah ditancapkan berjejer, yang dibagian bawahnya terdapat sirih, rokok dan beras. Kemudian seekor ayam jantan berwarna merah pun disembelih, darahnya di sangga dalam piring putih berisi beras dan telur, untuk kemudian ditaruh di Mahakam. Bunyi tetabuhan gong dan gendang mengiringi seluruh rangkaian ritual pelekatan nama tersebut. Setelah itu anak laki-laki yang akan diberi nama dibawa orangtuanya ketempat pelaksanaan adat atau disebut Hewat yang beralas tikar purun. Anak lalu dipasangi gelang manik oleh ibunya, sebagai makna ikatan hubungan. Kemudian dilakukan prosesi Me Et Jiem atau pemotongan rambut anak oleh tetua adat, yang bermakna penataan awal tata adat keidupan merupakan ungkapan proses pertumbuhan. Berikutnya dilaksanakan ritual Net Leug atau memohon calon nama anak lewat sarana daun pisang ambon yang dibentuk kotak berukuran 3x4 cm sebanyak tiga rangkap. Dua potong daun pisang ambon itu lalu dipegang F Jiu dalam posisi berdiri, sambil mengucap doa daun tersebut dilemparkan keatas dan dibiarkan jatuh ketanah. Kemudian posisi daun yang baru jatuh tersebut dilihat, apabila dua-duanya terlentang atau tertelungkup berarti merupakan pertanda Tidak, maka prosesi dilakukan lagi. Pada saat itu ternyata posisi daun pisang yang dijatuhkan F Jiu satu terlentang dan satunya tertelungkup, itu berarti nama yang sudah diajukan pihak keluarga mendapat jawaban Ya dari leluhur mereka atau disetujui. Ritual Ensoet Kenean atau pemasangan pakaian adat dan pusaka warisan kepada anak dilakukan oleh para tetua, ini merupakan simbol ikatan hubungan kekerabatan turun temurun yang bermakna penguatan identitas. Sebagai rasa syukur, kemudian dilakukan ritual Newag Jip Edat atau pemotongan hewan berupa babi jantan yang diganti dengan dua ekor ayam jantan. Ritual pemotongan hewan ini menurut F Jiu adalah penghantar adat yang telah dikukuhkan kepada Yang Maha Kuasa dan leluhur. Darah ayam tersebut lalu dioleskan ke kepala, tangan dan kaki anak dan orang tuanya, serta dioleskan juga ke benda-benda pusaka keluarga, diantaranya yaitu Mandau, sebagai simbol pengukuhan secara spiritual. Kemudaian dilaksanakan tarian adat Ngewai, yaitu para tetua dan seluruh keluarga menari sebanyak delapan kali putaran mengelilingi tempat ritual adat tersebut. F Jiu mengatakan tarian tersebut merupakan simbol tahapan proses kehidupan alam fana hingga alam baka. Prosesi pemberian nama itu ditutup dengan ritual penetral lingkungan dari hal-hal yang akan mengganggu kehidupan. Pada prosesi ini setelah membaca mantera, seorang tetua adat mengibas-ngibaskan rangkaian daun temali, daun bambu, peredang dan anak ayam kelingkungan sekitar, termasuk kepada keluarga yang hadir pada ritual itu. Masing-masing anggota keluarga juga diminta meludahi dedaunan tersebut. Kemudian anak ayam itu disembelih di bawah tongkat bambu lalu dilihat isi perutnya oleh tetua adat, untuk mengetahui berkenan atau tidaknya para leluhur atas upacara adat yang sudah dilakukan. F Jiu usai ritual tersebut mengatakan "Kami bersyukur setelah dilihat dari isi perut anak ayam tadi tidak terdapat kelainan apa-apa, berarti apa yang kami lakukan hari ini direstui,". F Jiu mengatakan ritual yang dilakukannya tersebut sekaligus untuk melesarikan adat mereka ditengah gencarnya arus moderenisasi. "Adat tidak boleh kita tinggalkan, ini bentuk kejujuran kita kepada leluhur yang tentunya harus dilestarikan,". Prosesi ini di anggap unik oleh para wisatawan asing yang hadir dan turut menyaksikan acara tersebut.

Pagelaran Seni Italia

Penampilan Seni yang selalu berganti setiap malamnya dari sebelas negara anggota CIOFF, memang sangat mengesankan bagi warga masyarakat yang hadir, tidak terkecuali Penampilan anggota kelompok Accademia Tradizioni Popolari Citta Di Tempio asal Pulau Sardinia Itali di panggung terbuka Jl Ahmad Muksin Tenggarong berlangsung dengan sangat baik karna banyaknya pengujung yang hadir dan memberikan tepuk tangannya setiap kali Kelompok seni ini melakukan sebuah gerakantariannya, tampilan Negara Itali di even  Erau International Folk Art Festifal 2014, yang mengirimkan delegasinya   berasal dari Pulau Sardinia yang berada di laut tengah.  Kendati mayoritas   Katolik namun  pengaruh Islam masih terasa terutama pada wanitanya yang suka berjilbab, karena pulau ini tidak jauh dari Tunisia yang muslim.

Jilbab merupakan asoseris sehari - hari  bagi kaum perempuan di pulau kedua terbesar setelah pulau sisilia di selatan negara Itali ini. Walaupun  penampilan wanita mereka layaknya seorang muslimah namun secara religi mereka adalah penganut katolik yang  puritan atau yang selalu menjaga kemurnian doktrin dan tata cara peribadatan.  Hal itu nampak pada penampilan anggota kelompok Accademia Tradizioni Popolari Citta Di Tempio  asal Sardinia Itali ini.

Dalam aksi panggungnya kelompok Seni dari Itali ini menyajikan dua nomer tari  yaitu pertama berjudul Baddu  A Trunfa O Serio dan Passu Trincatu. Keduanya seni tari ini pekat dengan nuansa religiositas yang mereka yakini yaitu katolik. Tari Baddu A Trunfa O Serio misalnya adalah tari yang mengambarkan karakter keseriusan umat memuji tuhanya namun dikemas lebih ceria baik dalam gerak maupun  musik pengiring yang terasa  lincah dan dinamis.  Sedang tari kedua Passu Trincatu berkisah tentang curahan ekspresi umat katolik Sardinia dalam tradisi ritual pastoral.

Kedua tarian ini diiringi alat musik harpa, biola dan suling khas bangsa Yahudi. Kedua tarian takyat dari Pulau Sardinia Itali ini ditarikan 6 pasang pria dan wanita. Dalam gerakannya terkadang meloncat, berputar sambil berpegangan tangan membuat formasi memanjang, bundar berkeliling juga sesekali diagonal.  meskipun tampilan tari ini terasa asing buat warga di Kalimantan dan Tenggarong khususnya namun cukup memberikan hiburan bagi penonton erau yang sedang berlangsung di kota Raja Tenggarong.