Statistik

Hit hari ini : 459
Total Hits : 986,454
Pengunjung Hari Ini : 118
Pengunjung Online : 2
Total pengunjung : 223,943

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 47 Next > Last >>

Kongres CIOFF Dunia Ke 47 Ditutup Plt. Bupati Kukar



Plt. Bupati Kukar Edi Damansyah secara resmi menutup Kongres CIOFF Dunia yang ke 47 yang berlangsung sejak Tanggal 20 hingga 29 Oktober 2017 di Gedung Putri Karang Melenu (PKM), Jumat malam (27/10/2017).Dalam sambutannya Plt Bupati Kukar mengucapkan rasa syukur bahwa kongres dunia ke 47 CIOFF telah berjalan dengan baik, sukses, dan lancar di Kota Tenggarong. “Serangkaian  keputusan organisasi  telah diambil  dan ditetapkan, saya ucapankan selamat kepada Mr Philippe Beussant atas terpilihnya kembali sebagai Presiden CIOFF Dunia Periode 2017- 2021,” kata Edi Damansyah

pelaksanaan kongres dunia CIOFF ini , bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kukar menjadi momentum yang baik bagi Kukar  khususnya dan bagi Indonesia umumnya, untuk menyampaikan kepada publik untuk bergerak secara bersama dalam upaya menggali, menumbuhkembangkan  dan melestarikan warisan budaya luhur yang dimiliki dimanapun berada.Melalui kerjasama dengan CIOFF Idonesia, Pemerintah Kab Kukar juga akan menyelenggarakan  Festival Kesenian  Rakyat Internasional berkenaan dengan Upacara Adat Erau yang bernama Erau Adat Kutai dan Internasional  Folk Arts Festival.

“ Melalui festival ini, kami berkeinganan  agar dunia mengenal  tradisi adat Kesultanan Kutai yang sudah berlangsung sejak abad 13, serta berupaya membangun sikap saling menghormati dalam pergaulan budaya antar bangsa sejalan dengan misi perdamaian dunia melalui program budaya yang diusung oleh CIOFF,”ujar Edi.

Lebih lanjut ia mengatakan, Kabupaten Kukar memang bukan daerah metropolitan, tetapi Pemda Kukar berupaya melakukan pembangunan daerah  sesuai dengan kemampuan keuangan daerah dengan tetap memperhatikan kearifan lokal yang dimiliki. “ Kami berharap ditengah padatnya kegiatan kongres dunia CIOFF ini, peserta kongres masih dapat menikmati suasana  kota kecil, cita rasa kuliner daerah, hangatnya suhu udara, berbagai kerajinan daerah serta  seni budaya daerah yang telah disajikan. “pungkasnya.Penutupan Kongres Dunia ke 47 CIOFF ditandai dengan penyerahan bendera CIOFF oleh Priseden CIOFF Mr Philippe Beussant kepada Plt Bupati Kukar Edi Damansyah serta penyerahan cindera mata berupa kalung manik serta senjata khas Kutai yaitu mandau oleh Plt Bupati kepada salah satu Panitia kongres Dunia ke 47 CIOFF.





Opening Ceremony Kongres CIOFF Dunia Ke 47


Berlangsung di gedung Putri Karang Melenu (PKM), Tenggarong seberang, berlangsung pembukaan Kongres CIOFF (International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts) Dunia yang ke 47, yang hadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) H Marli.Dalam sambutannya, Sekda Kukar  mengungkapkan rasa senang dan bangga, bahwa selain penyelenggaraan Erau Adat Kutai dan Internasional Folk Arts Festival, CIOFF Indonesia kembali menggandeng pemkab Kukar untuk menjadi tuan rumah kongres dunia CIOFF.

“Kami sangat bangga dan bersyukur menjadi tuan rumah pelaksanaan kongres CIOFF Dunia ke-47. Ini merupakan sejarah pertama kali di Indonesia. Tentunya ini sejalan dengan semangat pemerintah kabupaten dalam pelaksanaan misi melestarikan dan mengembangkan budaya daerah,”.Dari kegiatan kongres CIOFF, ia berharap peserta kongres akan lebih mengenal Kutai Kartanegara yang memiliki 3 (tiga) poros budaya, yaitu budaya kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang sangat kental terlihat saat upacara Adat Erau disandingkan dengan festival kesenian rakyat internasional bekerjasama dengan CIOFF Indonesia.

Kedua, Kukar memiliki budaya melayu Kutai yang masih bertahan hingga saat ini. Dan ketiga, Kukar kaya dengan budaya pedalaman yang berasal dari berbagai etnis Dayak yang terus memelihara tradisi dan budayanya. “Kukar juga kaya akan keragaman satwa liar khas Klimantan, dengan memiliki tempat untuk wisata petualangan terutama di kawasan hutan tropis dan pedalaman,” ujarnya.

Sekda Kukar Marli juga, meminta kepada semua peserta kongres dapat menikmati keindahan alam wisata yang dimiliki Kutai Kartanegara. “Saya berharap pelaksanaan kongres ini dapat berjalan dengan lancar, dan nyaman selama berada di kota Tenggarong, serta dapat menikmati berbagai kuliner dan kerajinan daerah, serta obyek wisata lainnya,” harap Marli.

Sementara itu Presiden CIOFF Dunia Mr. Phillipe Beusant usai membuka Kongres Dunia CIOFF, mengapresiasi atas sambutan dan dukungan tuan rumah penyelenggaraan CIOFF Indonesia khususnya Kutai Kartanegara. “CIOFF ini merupakan organisasi Internasional yang bekerjasama dengan UNISCO di bawah naungan PBB. CIOFF melakukan kegiatan setiap tahun untuk menjembatani hubungan pemerintah Indonesia dengan negara lain di samping membawa misi perdamaian dunia,” katanya.

Setelah menyampaikan sambutannya, Mr. Phillipe Beusant juga memperkenalkan jajaran tim CIOFF Dunia termasuk perkenalan 50 negara dengan 120 peserta Kongres CIOFF berlangsung meriah.  Pembukaan kongres CIOFF diakhiri dengan penampilan tarian khas dayak, mengundang rasa penasaran para peserta CIOFF secara langsung melihat keragaman budaya Indonesia begitu tampil memukau.


Kunjungan Sekjen Info Publik Kemenlu RI Ke Dispar Kukar Dalam Rangka Sosialisasi Program BSBI


Dalam rangka Sosialisasi Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI), Jumat (13/10/2017). Sekretaris Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negari (Kemenlu) RI Aziz Nurwahyudi bersama Tim berkunjung ke di Kantor Dinas Pariwisata (Dispar).

Dalam kunjungan itu, rombongan Kemenlu disambut Kepala Dinas Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP bersama pejabat setempat serta undangan lainnya dari tiga Sanggar tari di Kukar yakni Tari Gubang, Pokan Takaq dan Lembaga Seni Budaya Kumala. Dalam pertemuan itu Sekjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI Aziz Nurwahyudi mengatatakan maksud kedatangannya ke Kukar adalah untuk mensosialisasikan program BSBI pada 2018 mendatang.

“Kedatangan kami ke sini, menyampaikan program BSBI dimana ada 12 pemuda dari seluruh dunia akan belajar seni tari dan musik tradisional Kutai di sanggar tari yang nantinya ditunjuk oleh tim dari Kemenlu,” kata Aziz. Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kukar Dra. Sri Wahyuni. MPP menyambut baik atas kedatangan tim Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Kemenlu RI di Kukar.“Program BSBI ini sejalan dengan niat kita untuk memajukan pariwisata dan seni budaya di Kukar. Ini merupakan peluang yang luar biasa untuk membuka jendela dunia, mengenalkan Indonesia melalui Kukar yang selama ini sering digaungkan Pemkab melalui Festival Erau,” ujarnya.

Tidak hanya itu, program BSBI Kemenlu ini juga akan berdampak positif terhadap keberadaan sanggar tari tradisi di Kukar semakin tumbuh berkembang dengan kunjungan para mahasiswa mancanegara bertukar ilmu seni sehingga dapat memperkenalkan budaya dan seni daerah Kutai. “Senang sekali rasanya, daerah kita akan dikunjungi 12 orang mahasiswa mancanegara dalam program BSBI Kemenlu RI. Semoga kehadiran mereka nanti akan menambah daya tarik bagi wisatawan mancanegara lainya berkunjung ke Kutai Kartanegara,”. iketahui, ke 12 pemuda mancanegara termasuk satu diantaranya dari Indonesia dijadwalkan akan berada di Kukar pada Maret hingga Juni 2018 mendatang. Mereka akan belajar mengenai tradisi, kearifan lokal dan mengenal kehidupan sosial masyarakat selama 3 bulan penuh yang semuanya dibiayai oleh negara melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Setelah melakukan pertemuan Tim mengunjungi Sanggar seni yang ada di Tenggarong dan nantinya sanggar seni ini kan diseleksi dan bagi yang lolos akan mendapatkan beasiswa dari Kemenlu RI.






Tenggarong Kutai Carnival Menampilkan Tema Kostum Sampe’


Masih dalam rangkaian Festival Kota Raja VI dalam rangka memeriahkan HUT Kota Tenggarong ke 235 , Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara kembali menggelar Tenggarong Kutai Carnaval ( TKC) pada Sabtu siang (07/10) yang bertemakan Sampe, Sampe sendiri merupakan alat musik suku Dayak Kalimantan, serta 4 lainnya seperti Buah Bolok, Pesut, Sumpit dan Hudoq.Kepala Dispar Kukar Sri Wahyuni mengatakan sebagai event tahunan, TKC  tetap dilaksanakan meskipun dengan kondisi terbatas. Menurutnya untuk TKC tahun ini diikuti 32 peserta yang terdiri dari 28 orang talent dewasa, dan 4 orang talent anak-anak. “Mereka akan memamerkan berbagai tema dan lima orang peserta nantinya akan menampilkan desain baru untuk karnapal kostum pada tema Sampe dan Sumpit hari ini. Selebih peserta lagi nanti akan memakai kostum karnaval yang pernah ditampilkan pada tahun sebelumnya, tapi akan lebih di modifikasi lagi oleh management atau talent-talent dari TKC itu sendiri,” ujarnya. Menurut nya sebagai event tahunan, TKC tidak dapat dipisahkan dengan  Festival Kota Raja (FKR). “Walupun dengan format yang berbeda paling tidak mereka punya ruang memperkenalkan diri untuk beraktualisasi dalam event seperti ini,”


Lebih lanjut dikatakannya, selain memfasilitasi pelaku seni tradisi, Dispar juga memfasilitasi pelatih seni kontemporer. Melalui gelar seni ini masyarakat dapat melihat serta menikmati pertunjukkan karya- karya kreative dari management TKC. Diantaranya,  bagaimana cara membuat kostum dari kearifan lokal,  misalnya pada tahun ini bertemakan Sampe dan Sumpit.“Ini merupakan tantangan ide yang sangat bagus, dengan  tema- tema yang diangkat khas dari alat musik khas suku Dayak. Kami berharap kedepan TKC tidak hanya tampil di moment–moment FKR, tapi mempersilahkan juga bagi institusi atau lembaga pemerintah ataupun swasta yang mengundang management TKC.


Para Talen TKC memulai performance di panggung hiburan Tenggarong Fair dan secara perlahan melakukan Karnaval dijalan, masyarakat sangat antusias melihat pagelaran ini dengan sesekali berfoto bersama Talent, Carnival ini berakhir di halaman Kedaton Kutai Kartanegara.

Wakil Bupati Kukar Buka FKR VI 2017


Dalam rangka memperingati  Hari Jadi Kota Tenggarong ke 235 Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Pariwisata menggelar  Festival Kota Raja VI yang dirangkai dengan Tenggarong Fair.

Dalam sambutan tertulis  Bupati Kutai Kartanegara yang dibacakan Wakil Bupati  Edi Damansyah menyambut baik terselenggaranya Festival Kota Raja VI, dan ia berharap agar warga Kutai Kartanegara menjaga dan memiliki Kota Raja tercinta ini, dengan memberikan karya-karya terbaik, Kreatif, Inovatif bagi bagi segala sektor bagi daerah.Menurutnya kita patut bangga meski Tenggarong Fair baru pertama dilaksanakan, namun sudah diperkaya dengan kegiatan workshop pengembangan Kapasitas pelaku UMKM dan Usaha Ekonomi Kreatif.

Semantara itu Kepala Dinas Pariwisata Sri Wahyuni dalam laporannya mengatakan FKR VI digelar mulai mulai 30 September hingga 8 Oktober 2017 yang pusatkan di Lapangan Basket Stadion Rondong Remang Tenggarong,  selain menghadirkan Tenggarong Fair juga diisi Pameran Produk Lokal dan Bazar serta setiap harinya dimeriahkan dengan berbagai hiburan seni dan budaya. “diantaranya peragaan Busana Batik, Zumba Party, Pemutaran Film Indie, Festival Tari Jepen, Pentas Musik, Lomba Gasing, Reggea Party serta workshop UKM, selain itu juga dimeriahkan dengan penampilan Tenggarong Kutai Carnival (TKC) yang di laksanakan pada hari sabtu(07/10) start di Panggung Hiburan Tenggarong Fair finis di Halaman Kedaton Kutai Kartanegara, sedangkan pada malam penutupan FKR VI akan dimeriahkan dengan penampilan Artis Dangdut Anna Zivana dan Wandie Mario.Pembukaan acara FKR VI ditandai dengan pemukulan Rebana oleh Wakil Bupati Kukar, bersama Kepala Dinas Pariwisata Sri Wahyuni, Dandim 0906 dan Camat Tenggarong, dan dilanjutkan dengan peninjauan pameran produk lokal dari UMKM.




Pemenang Lomba Foto Eksotika Erau 2017


Setelah melalui proses penilaian dewan juri terhadap puluhan foto yang masuk nominasi lomba Foto Eksotika Erau 2017, yang dilaksanakan pada hari Jumat 29/9/2017 diruang rapat Dinas Pariwisata juri yang terdiri dari Arbain Rambey yang merupakan Photograper Profesional , Fachmi Rachman Editor Tribun Kaltim, serta Kepala Dinas Pariwisata Dra. Sri Wahyuni. MPP. hasil penjurian menentukan pemenang lomba foto Eksotika  Erau 2017, Juara I berhasil diraih Fandi Oktadiansyah  lewat foto berjudul “Tari Kipas Korea Selatan ”. Sedangkan Juara II diraih Chandra AP untuk foto bertajuk “Tari Datun Udoq” dan Juara III diraih Ibnu Abbas Rachman untuk karya foto berjudul “The Art Of a Hudoq Dancing”.

Dewan juri juga memilih foto karya Dwi Rizky Murdana  yang berjudul “Persiapan Mengulur Naga” sebagai Foto Terunik Lomba Foto  Eksotika Erau 2017 Sementara Foto Terfavorit diraih Agung Yorinda  Prasetya yang berjudul “Imut” memperoleh jempol atau tanda suka terbanyak di Facebook Visiting Kutai Kartanegara yakni sebanyak 637 dukungan. Secara keseluruhan ada 465 foto yang dikirimkan 107  fotografer dalam Lomba Foto Eksotika Erau 2017. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62 foto karya 44 peserta masuk nominasi.Kadispar Kukar Sri Wahyuni mengatakan tidak mudah dalam penilaian lomba foto kali ini karena banyaknya fotografer yang turut serta tahun ini. “Ada 62 foto karya 44 peserta yang masuk nominasi Kemudian seluruh foto yang masuk nominasi ditampilkan di Facebook Visiting Kutai Kartanegara untuk pemilihan foto favorit dari tanggal 21 Juli hingga 21 Agustus 2017.” ucap Sri Wahyuni. Untuk penyerahan hadiah para pemenang  dilakukan pada saat penutupan pelaksanaan Festival Kota Raja VI  (FKR) 2017, Adapun besaran hadiah uang pembinaan bagi pemenang, yakni sebesar Rp 5 juta untuk Juara I, Rp4 juta bagi Juara II, Rp 3 juta bagi Juara III. Kemudian untuk Foto Terfavorit bakal mendapatkan uang tunai sebesar Rp 3 juta, dan untuk Foto Terunik berhak mendapatkan uang tunai sebesar Rp3 juta.




Merebahkan Tiang Ayu Sebagai Tanda Berakhir Nya Erau Adat Kutai 2017


Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura secara resmi mengakhiri pelaksanaan pesta Erau Adat Kutai dan The5  International Folk Art Festival (EIFAF) 2017, pada Senin (31/7) pagi kemarinlewat upacara merebahkan Ayu. Upacara adat yang berlangsung khidmat dan sederhana itu digelar di ruang Stingkil Keraton Kutai Kartanegara atau Museum Mulawarman, Tenggarong.Prosesi merebahkan Ayu itu dilakukan 6 orang yaitu putra Sultan Kutai, HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adinigrat, HAP Soeryo Adinata, HAP Soerya Manggala, dan HAP Soerya Kesuma serta 2 keluarga Keraton Kesultanan Kutai, HAP Aryo Adi Putro dan HAP Ario Putro Ami Djoyo. Sementara Putra Mahkota HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adinigrat bertugas menyambut ujung/kepala tiang Ayu. Proses tersebut disaksikan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XX HAM Salehoeddin II bersama para kerabat keraton.Setelah tiang Ayu rebah, dilanjutkan dengan pemberian tempong tawar oleh pimpinan Dewa belian pertama-tama kepada tiang Ayu, Sultan Kutai lalu Putra Mahkota serta kerabat keraton lainnya. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat yang dipimpin oleh seorang kerabat Keraton, sebagai tanda rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa Erau berlangsung sukses.Usai melaksanakan upacara merebahkan Ayu, seluruh kerabat keraton mulai dari panitia, petugas adat, Belian dan Dewa hingga pasukan Kesultanan, menghaturkan sembah dan menyalami Sultan Kutai bersama keempat putranya.Acara tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Kukar Edi Damansyah, Ketua DPRD Kukar Salehuddin”Dengan dilaksanakannya merebahkan Ayu, maka Erau Adat Kukar resmi berakhir,” ujar HAP Puger yang mewakili Sultan Kutai. Menurutnya kita bersyukur karena pelaksanaan Erau tahun ini berjalan lancar dan sukses. Ia juga berterimakasih kepada pihak yang telah membantu dan mendukung terselenggaranya Erau tersebut, terutama Pemkab Kukar serta seluruh masyarakat Tenggarong dan masyarakat Kukar pada umumnya. ”Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah mendukung pesta adat Erau ini,” pungkasnya




Ribuan Masyakat Ikuti Ngulur Naga Dan Belimbur Erau 2017


Prosesi mengulur Naga dan Belimbur adalah satu ritual yang disakralkan dalam upacara Adat Erau. Pada ritual ini, rombongan utusan Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura mengarak sepasang replika naga untuk dilepaskan di Kutai Lama, tempat asal muasal legenda sang naga tersebut. Prosesi Mengulur Naga dan Belimbur, menjadi tradisi penutup seluruh rangkaian pelaksanaan Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2017 di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Acara tersebut dipusatkan di halaman Museum Mulawarman, Tenggarong, Minggu (30/7).Antusiasme warga pun cukup tinggi meramaikan acara tersebut, mereka datang berduyun-duyun ke museum untuk menyaksikan prosesi itu sekaligus ikut belimbur. Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari dihadapan kerabat kesultanan dan tamu undangan mengatakan, Festival Erau memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, dan Erau menjadi gerbang wisata untuk mengenal Indonesia.


Dalam prosesi itu berlangsung aman dan lancar. Ribuan masyarakat dengan sabar menunggu pelaksanaan prosesi, hingga belimbur dimulakan sekitar pukul 11.30 Wita. Saat air tuli tiba dari Kutai Lama, Kecamatan Anggana. Kesadaran warga ini berkat imbauan berkali-kali dilakukan pihak kesultanan melalui pengeras suara. meminta agar warga tidak menyiram, sebelum seluruh prosesi berakhir. Selain itu, imbauan lain dilarang menyiram dengan air kotor, tidak gunakan air dibungkus plastik dan ketika seseorang disiram tak boleh marah. Menurut  Bupati Kukar Rita Widyasari mengatakan "Upacara Mengulur Naga telah menjadi icon dari upacara Erau Adat Kutai yang dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat di Kalimantan Timur, tetapi juga secara nasional, terlebih Erau Adat Kutai telah menjadi festival budaya terpopuler di tanah air pada Anugerah Pesona Indonesia 2016 lalu," prosesi mengulur naga, tidak hanya diikuti oleh masyarakat Kukar, tetapi menjadi kehormatan bagi Kukar yang dihadiri oleh beberapa Duta Besar serta peserta Festival Kesenian Rakyat Internasional V dalam rangka Erau Adat Kutai 2017 dari 8 (delapan) negara. "Seni dan budaya adalah bahasa universal yang dapat dimengerti secara bersama-sama oleh siapa saja dan darimana pun asalnya. Pelaksanaan Erau Adat Kutai ini juga tidak lain untuk mengangkat adat luhur dikenal oleh masyarakat dunia. Jendela untuk memberi ruang masyarakat internasional mengenal Indonesia melalui Erau Adat Kutai serta untuk mengenal dan memajukan pariwisata di Kutai Kartanegara," ujar Rita.Ditambahkan Rita, upacara mengulur naga menjadi momen spesial bagi masyarakat yang selain dapat menyaksikan secara langsung prosesinya, juga karena prosesi belimbur memilki makna pembersihan diri dari pengaruh jahat yang dapat diikuti oleh seluruh masyarakat secara langsung."Acara belimbur ini ditunggu-tunggu masyarakat, semua orang akan membiarkan dirinya basah, menerima siraman air, dan orang yang disiram tidak boleh marah. Gunakan air yang bersih dan menyiram sewajarnya serta jaga keamanan dan ketertiban selama prosesi belimbur, jadilah contoh dan panutan bagi masyarakat dari luar sesuai dengan adabnya," tambah Rita. Prosesi belimbur tersebut turut dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XX H. Adji Mohamad Salehoedin II, Kerabat Kesultanan, Special Envoy Of President Seychelles for ASEAN, Mr. Nico Barito, Minister of Tourism Seychelles, Mr. allain St Ange, Ambassadorof Poland, Mr. Igor Kaczmarczyk, Ambassador of Slovakia, Mr. MichailSlivovic, Deputy Ambassador Bulgaria, Ms. Alexandrina Guigova, and Deputy Ambassador Mozambique, Ms. Clara Sengo, All Directors and EIFAF 2017 Participants  serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar



Jepang Hebohkan EIFAF 2017


Penampilan pentas seni yang dilaksanakan dilapangan Stadion Rondong Demang pada tanggal 28 Juli 2017 yang masih menampilkan tiga Negara peserta Folklore Jepang, Thailand  dan Bulgaria serta dua peserta Indonesia. Ini salah satu rankaian dari Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017.  

Penampilan yang pertama tuan rumah sendiri yang tampil yaitu Sanggar Tari LSBK, dilanjutkan penampilan dari peserta Jepang, lalu tuan rumah lagi dari Sanggar Tari Temengang Lian lala dari peserta lagi yaitu Thailand dan Bulgaria.

Penampilan dari Negara Jepang mampu memukau dan membuat penonton terhipnotis dengan penampilan yang sisuguhi dari Negara Jepang, apalagi saat gendang di tabukan dengan kencang dan sekuat tenaga secara bergantian membuat merinding mendengarnya. Serta tepuk tangan penonton pun tidak ketinggalan, mereka sangat – sangat menyambut meriah penampilan dari Negara Jepang.


Kemeriahan Mamanda Di EIFAF 2017


Kesenian Mamanda ikut serta meramaikan Erau Adat Kutai & 5Th International Folk Arts Festival Tahun 2017, Kesenian Mamanda tampil di lapangan parkir Stadion Rondong Demang pada kamis malam tanggal 27 Juli 2017 pukul 20.00 - 22.00 WITA. Hadir pada penampilan kesenian Mamanda ini yaitu Wakil Bupati Kukar Drs. Edi Damansyah,M.,Si, para Kepala Seksi Dinas Pariwisata Kab. Kutai Kartanegara dan masyarakat luar dan dalam Tenggarong.

Penampilan Kesenian Mamanda kali ini berjudul “Dendam Cinta Berselimut Angin”.  Ceritan ini menceritakan di sebuah Desa kerajaan Panji Berseri, terjadi percintaan antara pemuda kerajaan dengan seorang gadis desa yang cantik jelita yang bernama Bulan. Dikala itu mereka saling mencintai tanpa sepengetahuan orang tua. Dan pada saat yang sama ada seorang pemuda biasa bernama Alif yang ingin mendapatkan cinta Bulan. Sungguh tak diduga cintanya pun ditolak dengan nada yang sombong karena dia sudah memiliki seorang kekasih yang bernama Pangeran Kusuma Jaya Putra Mahkota Kerajaan Panji Berseri, Alif pun tidak tinggal diam, dia mendatangi seorang dukun untuk membunuh pangerah sehingga dia bias memiliki Bulan.


Pangeran pun akhirnya jatuh sakit, dan kembali keistana, setiba dikerajaan raja dan permaisuri sangat terkejut melihat putranya yang datang dengan keadaan sakit, raja pun memerintahkan kepada pahlawan untuk mencari seseorang yang bias mengobati pangeran. Pahlawan pun tiba dikerajaan dengan seseorang mengobati pangeran. Pangerang diobati oleh petapa tua yang konon bias mengobati orang sakit dengan cara belian. Dan Alif pun ditangkap dan dibawa kekerajaan Panji Berseri untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap pangeran.