Statistik

Hit hari ini : 85
Total Hits : 314,452
Pengunjung Hari Ini : 27
Pengunjung Online : 4
Total pengunjung : 74,058

Flag Counter

Home Berita dan artikel

Berita dan artikel

<< First < Previous 1 2 3 ... 24 Next > Last >>

PELEPASAN 10.500 LAMPION CATAT REKOR MURI

Dalam memperingati Hari Ulang Tahun kota Tenggarong yang ke 232 tahun, sebagai acara Puncak dan Pemungkas  Pesta lampion  digelar dan  sukses pecahkan rekor MURI, pada Sabtu (18/10/2014) malam.

 

Sebanyak 10.500 lampu lampion dilepas ke udara tepatnya didepan Kantor Bupati Kutai Kartanegara   Langit malam itu di kota Raja, Tenggarong dipenuhi cahaya lampion dan menjadi daya tarik bagi masyarakat. Bupati Kukar Hj Rita Widyasari bersama Sekkab Kukar Edi Damansyah dan unsur FKPD setempat secara simbolis melepas lampion bersama-sama menandai pembukaan festival lampion.

 

Pelepasan lampion disusul pula seluruh komunitas yangmemadati halaman Kantor Bupati. Kegiatan pelepasan lampion diikuti sebanyak 8.531 orang dari berbagai komunitas yang ambil bagian dari sejarah pencapaian rekor MURI.

 



Pelepasan puluhan ribu lampion itu sekaligus untuk memecahkan rekor MURI yang sebelumnya juga diraih Kota Tenggarong dengan menerbangkan 5.300 lampionpada tahun 2013. Langit Tenggarong malam itu terlihat sangat indah dan menawan karena dihiasi warna-warni lampion yang diterbangkan dari halaman kantor Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), tepat pada pukul 19.30 WITA.



Lampion-lampion tersebut diterbangkan secara bersamaan oleh berbagai elemen masyarakat dan komunitas yang ada di Tenggarong , serta paguyuban seni, mahasiswa  dan Pelajar



Festival Lampion yang didukung oleh Bank Kaltim cabang Tenggarong tersebut, merupakan bagian dari kegiatan Festival Kota Raja (FKR) yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kutai Kartanegara (Kukar).



Bupati Kukar, Rita Widyasari mengaku sangat gembira dengan pelaksanaan pesta lampion tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada Bank Kalitim yang telah mendukung kegiatan ini, serta juga kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang telah mempersiapkannya dengan baik.

SEMINAR KESENIAN TARSUL.

Bertempat di Aula Kedaton Kutai kartanegara, pada kamis 16/10/2014 berlangsung seminar tentang adat istiadat Kutai, dan Budaya Tarsul, yang menghadirkan  narasumber dari kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H Adji Azuar Poeger, seniman Kutai Budi Warga, Adi Kuswara  dan Akademisi Unikarta  Awang Rifani sebagai mederator. Pada sesi pertama seminar mengupas tentang adat istiadat Kutai yang di paparkan oleh H Adji Azuar Poeger, dan pada sesi kedua di bahas tentang Kesenian Tarsul yang di paparkan oleh seniman Kutai yaitu Budi Warga atau yang sering di panggil D Marangan, berikut penjelasannya

Tarsul Adalah Salah Satu Sastera Tutur Yang Terdapat Di Kabupaten Kutai Kartanegara Secara Umum Tarsul Merupakan Seni yang Mengedepankan Kemampuan Mengolah Sya'ir Berupa Pantun a a a a Atau a b a b. Namun Seni Tarsul Dipertunjukan Dengan Irama Tertentu Yang Dalam Perkembangan Dapat Diiringi Dengan Alat Musik Berupa Gambus Dan Ketipung

Seni tarsul dibedakan atas tema yang dilantunkan, sampai saat ini sya'ir dari seni tarsul terus berkembang sesuai dengan pergeseran nilai budaya keterkinian. Secara tradisi tarsul biasa dilantunkan saat acara perkawinan ( saat melamar, ngantar tanda, akad nikah, sampai acara resepsi ), khataman al-quran, khitanan, moral ( nasihat ).                            

Bentuk sya'ir tarsul merupakan karya sastera pantun seperti yang disebutkan diatas, dan pada umumnya terdiri dari empat baris atau dalam satu kuplet. Pada jamannya tarsul selalu disajikan setiap ada hajatan seperti acara perkawinan, khatam al-quran, khitanan sambut tamu.... Juga akan mendiami rumah baru.                                                     

Biasanya sebelum melakanankan pertunjukan tarsul, seniman tarsul mempersiapkan syair tarsul sesuai dengan permintaan. pelaksanaan seni tarsul ini sebaiknya dilakukan oleh dua orang ( laki-laki dan perempuan ) di awali dengan pertasulan laki-laki kemudian desambut dengan petarsul perempuan secara bergantian. posisi petarsul fleksibel saja tidak ada tempat khusus.

Pakaian Petarsul

pakaian bagi seorang petarsul sebenarnya biasa saja, karena tarsul memang salah satu seni sastra tutur masarakat kutai. namun ketika tarsul merupakan bagian acara resmi, memang diperlukan kostum resmi agar tarsul memang salah satu cabang seni yang memiliki ciri khas tertentu. pada jaman dulu pakaian resmi petarsul pria antara lain : bagian kepala memakai kopiah. berbaju kurung atau beskap, celana panjang khas melayu, kemudian memakai kain sarung dilipat dua yang melingkari pinggang sampai kebatas lutut.

untuk petarsul wanita bagian kepala rambut digelung di atas agak dilingkari tegak ke atas kepala menyerupai stupa dan agak miring ke belakang kepala, kostum yang digunakan bisa berupa kebaya kutai  ( baju cina ) dengan selendang di bahu, atau beskap yang disebut dengan ta;wo

ada beberapa hal yang harus dipenuhi seorang petarsul, selain suara khas dan merdu, seorang petarsul juga harus mampu menciptakan syair tarsul sesuai tema acara, tarsul bukan hanya semacam hiburan, tetapi tarsul lebih mempunyai kekuatan dalam membangun semangat serta mewujudkan sikap dan tekad untuk mencapai tujuan si pemesan. untuk mencapai target tentunya si petarsul harus memiliki wawasan yang luas serta beradaptasi dengan dinamika perubahan jaman. itulah kunci seorang petarsul.

nah, ketika tarsul menjadi sebuah lomba, ada dua hal yang perlu diperhatikan peserta lomba, pertama adalah kemampuan untuk mengolah vokal, sehingga iramanya mampu menyentuh para pendengar, yang kedua adalah kemampuan mengolah sya'ir, karena harus sesuai dengan tema yang ditentukan. tentunya perlu petarsul yang mampu mengamati kenyataan kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam masarakat, baik masalah sosial, politik, ekonomi, teknologi, moral dan budaya serta hal-hal lainya.

secara tugas tarsul berfungsi sebagai media yang cukup segnifikan dalam mnyalurkan nilai-nilai sosial, agama, adat istiadat, dan yang lebih menarik adalah sebagai media yang efektif untuk control sosial.

Festival Sepekan Kampung Koetai “ Ilustrasi Kehidupan Orang Kutai Jaman Dahulu”

Untuk menarik kunjungan penonton di festival Kampong Kutai pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten kutai kartanegara  menyuguhkan  simulasi  kehidupan masyarakat Kutai pada jaman dahulu, dengan menempatkan orang – orang  sebagai  masyarakat asli kutai yang mendiami rumah tersebut,berbagai macam kegiatan yang dilakukan disetiap rumah tersebut.

Dengan memakai pakaian khas kutai masyarakat kampong kutai terlihat beraktivistas didalam maupun dihalaman rumah, adanya yang memasak didapur , menimba air  disungai, bermain olah raga tradisional, menumbuk beras buat pupur dingin, dan kegiatan lainnya.

Simulasi kampong kutai ini berlangsung selama satu minggu penuh dengan dirangkai kegiatan festival seni nusantara dimana grup atau paguyuban yang ada di kutai kartanegara dapat menampilkan keseniannya masing – masing. Dimulai pukul 15.00 wita kemudian dilanjutkan pada malam hari pukul 20.00 wita sampai selesai.

KadisBudpar Prov. Kaltim Mengunjungi Festival Kampong Kutai

Setelah menghadiri pembukaan pameran manik – manik di museum mulawarman tenggarong HM. Aswin selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur mengunjungi Festival Kampong Kutai yang berada di halaman parkir Skate park Tenggrong.  Setibanya di kampong kutai beliau langsung turun dari mobil dan langsung melihat – lihat dan mengabadikan dengan kamera pribadinya rumah khas kutai yang di suguhkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong yang ke-232.

Setelah selesai melihat rumah khas kutai HM. Aswin disuguhi makanan khas Kutai antara lain Pija, nasi bekepor, gangan keladi, pirik cabek ikan dan lain – lain, tanpa basa basi langsung menyantap makanan tersebut yang kelihatannya sangat enak dimakan dan mengingatkan beliau akan jaman dahulu sewaktu muda. Setelah itu beliau juga disuguhi makanan hubi rebus, hubi bakar, pisang bakar yang di campur dengan gula merah. Canda tawa mewarnai kunjungan beliau yang merupakan ciri khas kutai.

HM. Aswin mengatakan “ sangat mengapresiasi event Kampong Kutai ini karena selain dapat melestarikan budaya daerah juga dapat memberikan wisata alam khas kutai jaman dahulu”. Tak lupa juga beliau sampaikan semoga rumah khas kutai ini akan di pasang juga pada saat kegiatan Kemilau Seni Nusantara yang di selenggarakan di Samarinda.

Molah Gula Habang ( Membuat Gula Merah)

Selasa  pagi, 14 Oktober 2014 merupakan hari ke dua kegiatan Festival Kampong Kutai di Halaman Skate Park Tenggarong, terlihat 9 (Sembilan ) rumah khas kutai dari jaman ke jaman  bejejer rapi  menghadap jalan raya ibu Kota Kutai Kartanegara, dimulai dengan rumah yang terbuat dari kulit kayu kemudian terbuat dari daun nipah hingga mencerminkan kehidupan kutai jaman sekarang yaitu rumah kayu  Nampak asap mengepul disamping  rumah bahari berdinding kayu tersebut Nampak seseorang sedang menyalakan tungku masak, rupanya orang tersebut sedang  membuat “ Gula Habang” atau yang biasa disebut gula merah.

Gula habang merupakan air pohon aren yang disadap kemudian diambil airnya yang disebut juga air benda yaitu air yang diambil langsung dari pohon aren. Air benda tersebut jika ingin dijadikan gula habang harus dimasak dengan panci yang besar dan api dengan suhu yang cukup panas sehingga air yang dimasak akan baik. Adapun peralatannya antara lain dadeh yang terbuat dari kayu, panci atau sogon yang besar , tungku masak dengan bara dari kayu pohon rambutan dan kayu lebak dikarenakan bara yang dihasilkan dari kayu tersebut sangat baik untuk memanaskan panci sehingga air aren dapat dengan mendidih secara cepat dan rata.

Hampir satu jam lebih air aren dimasak terlihat didihan mengepul menandakan air aren sudah masak kemudian diaduk sampai mengental, untuk mengetahui bahwa air aren itu sudah masak sehingga menjadi gula merah dengan memasukkan sedikit gula merah yang mendidih kedalam mangkuk kecil yang berisikan air apabila gula tersebut sudah matang maka gula tersebut akan mengeras jika terkena air yang ada didalam mangkuk. Setelah dilihat benar – benar matang maka bisa langsung dibentuk untuk menjadi gula yaitu dimasukkan kedalam wadah yang sudah berbentuk menyerupai mangkuk yang bernama lesong. Untuk membekukan atau mengeras ditunggu sekitar satu jam sehingga gula tersebut siap untuk dimakan atau di olah sebagai bahan makanan.

Bapak atau busu Yusran  Mengatakan “ membuat gula habang dibutuhkan kesabaran karena untuk memasaknya harus selalu ditunggu dan diaduk supaya gula habang ketika dimasak tidak hangus dan bisa masak merata “. Sehari hari beliau bisa memasak gula habang sampai 15 liter air aren dan menghasilkan kurang lebih 20 – 30 gula habang didalam wadah yang disebut lesong, 1 gula habang di hargai Rp. 12,000,- . pada jaman dahulu gula habang ini menjadi ladang perekonomian masyarakat Kutai untuk menghidupi kebutuhan sehari – hari.

Nganyam Bo ( Alat Menjaring Ikan )

Sepekan Festival Kampong Kutai  , Berbagai macam kegiatan telah dilakukan salah satunya kamis ini diisi dengan kegiatan masyarakat khas kutai yakni “Nganyam  Bo” atau membuat  alat untuk menjaring  ikan disungai. Masyarakat kutai kartanegara pada jaman dahulu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dengan bekerja sebagai nelayan . masyarakat kutai sebagian besar tingggal di pinggir – pinggir sungai mahakam. Rute penangkapan ikan di anak – anak sungai sangat banyak  karena habitat ikan, air dan makanan ikan yang masih alami.

Bapak  Samli warga jahab asli orang Kalimantan yang lahir diBongan Kabupaten Kutai Barat menunjukkan tata cara pembuatan Bo atau alat menjaring Ikan , adapun alat yang diperlukan yaitu bambu muda yang berukuran kurang lebih 20 cm, kayu rotan, pisau raut, batu asahan.

Dimulai dengan mengasah pisau anyaman kemudian Busu Samli sapaan orang tetua jaman dahulu mulai meraut rotan sebagai bahan untuk mengikat anyaman atau bahasa kutainya bisa disebut nyirat  kemudian meraut bambu yang telah dipotong beberapa bagian dengan diukur alat yang disebut pendaris supaya diameter bambu yang diraut sama , diperlukan kehati-hatian pada saat meraut dikarenakan pisau yang tajam bisa saja melukai jari – jari tangan. Beberapa bambu telah beliau raut kemudian masuk pada tahap anyaman dimana bambu – bambu tersebut disusun dengan jarang dan dibentuk lingkaran seperti gendang, dengan mengelilingi Bengko Bo yang berbentuk pintu untuk masukknya ikan.

Keahlian Nganyam Bo diperoleh Pak Samli dari turun - temurun yang diajarkan oleh orang tuanya. Sejak kecil sudah diajarkan untuk membuat Bo sebagai jaring untuk menangkap ikan disungai, beliau berharap tradisi nganyam bo tidak ditinggalkan untuk menangkap ikan karena bisa menjadi daya tarik wisata asli daerah pedalaman masyarakat Kutai untuk menangkap ikan disungai. Beliau menyesalkan banyaknya nelayan jaman sekarang maunya instan menangkap ikan dengan cara meracun dan menyetrum ikan disungai tanpa memikirkan dampaknya bagi kehidupan anak cucu mereka mendatang. “ saya berpesan bagi pemerintah untuk memperhatikan dan melarang keras bagi nelayan yang menggunakan setrum dan meracun disungai untuk menangkap ikan karena bisa merugikan bagi kita semua, tentunya kita masih ingin melihat ikan – ikan yang timbul dipermukaan sungai dengan keberhasilan alat bahari  untuk menangkap ikan terisi dengan penuh” ungkapnya dengan penuh semangat

Pentas Seni Nusantara Meriahkan Festival Kampung Kutai

Pada Selasa Malam 14/10/2014 pertunjukan Pentas Seni Nusantara kembali hadir dihalaman Skate Park Timbau Tenggarong yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai kartanegara, tampak penuh penonton yang mengunjungi Pentas ini terlihat terisi penuhnya bangku yang disiapkan oleh panitia dan persiapan – persiapan peserta yang akan menampilkan kesenian daerahnya diantaranya Kesenian Yayasan Gubang, Pembina Seni Budaya Dayak Kenyah, KKSS, Tingkilan Senduru, Kelompok Karya Darma, Nusa Tenggara Barat.

Riuh penonton mulai terasa pada saat tampilan pertama yang disuguhkan oleh kelompok Seni yayasan Gubang yang membawakan tarian bertema “Mandik Kawa “ yang berarti symbol tentang pemaknaan sebuah kebebasan, dalam tatanan aturan bermasyarakat yang tidak boleh salah menafsirkan arti kebebasan itu , baik itu individu, kelompok, atau masyarakat itu sendiri. Dengan kekuatan symbol serta kedalaman filosofi lewat property mandik kawa yaitu kurungan ayam, bahwa sebagai bangsa berbudaya , beragama jangan pernah lupakan kodrat etika aturan yang ada.

Dengan musik yang mempunyai ciri khas kutai dan tarian yang atraktif yang disuguhkan penari Gubang membuat penonton semakin bersemangat, kostum yang cerah serta make up yang tebal terlihat penari pria maupun wanita kelihatan menarik dan membuat banyak penonton yang ingin berfoto.

PSBDK Membawakan tari Bangen Tawai Tarian ini ditarikan oleh enam orang gadis cantik mereka menari sebagai rasa syukur mereka kepada tuhan yang maha esa karna telah memberikan berkat yang berlimpah – limpah kepada mereka. Dan berharap kedepannya mereka mendapatkan berkat yang lebih baik.

KKSS menarikan Tari Ganrang Bulo , Tari Ganrang Bulo Adalah tarian Daerah Sulawesi Selatan tepatnya dikabupaten Gowa , Merupakan kesenian rakyat makasar yang menggabungkan unsure music tarian dan dialog kritis yang kocak yang menceritakan tentang keceriaan anak – anak dalam bermain dengan kelincahan dalam memainkan alunan bamboo.

Kesenian Tradisional Gendang Bleq  ( Gema Nusantara ) kesenian ini terlahir dari adat suku sasak Lombok yang merupakan kesenian warisan dari nenek moyang yang seara turun-temurun yang harus dilestarikan dan dikembangkan oleh Suku Sasak Lombok. Dengan sebuah alat tradisi Gendang Bleq yang merupakan filosofi . gendang bleq artinya gendang besar yang merupakan tugas besar yang harus kita pikul bersama dan tanggung jawab dalam membangun persaudaraan dalam hidup bermasyarakat.

Kesenian tingkilan  Senduru  menarikan Tarian Tabuhan keham dan tari A’Ggung Pongkol sedangkan kelompok karya darma menampilkan suguhan tingkilan, Tarsul dan bedendang merupakan peserta terakhir yang menghibur rakyat Kutai kartanegara . Rencananya Festival Seni Nusantara ini akan diselenggarakan selama satu pekan bersamaan dengan Festival Kampong Kutai .

Pembukaan Seminar Adat Kutai Dan Budaya Tarsul

 Bertempat di Aula Kedaton kutai Kartanegara, pada hari Kamis 16 Oktober 2014, telah di laksanakan Pembukaan seminar Adat Kutai Dan Budaya Tarsul dengan mengambil tema “  Melalui Seminar Adat Istiadat Budaya Keraton dan Budaya Tarsul Kita Tanamkan Rasa Memiliki Kepada Masyarakat Guna Memperkaya dan Memperkokoh Budaya Bangsa, seminar tersebut dihadiri oleh tokoh – tokoh seniman dan ketua – ketua sanggar atau kelompok seni Tenggarong, acara ini di awali dengan pembacaan doa dan di lanjutkan dengan penampilan seni tari Topeng Kemindu.

 Dalam laporannya Ketua panitia HM. Saidar mengatakan seminar budaya adat istiadat keraton dan budaya tarsul bertujuan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang adat istiadat keraton dan tarsul.

dalam Seminar ini menghadirkan narasumber dari kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura H Adji Azuar Poeger, seniman Kutai Budi Warga, Adi Kuswara  dan Akademisi Unikarta  Awang Rifani sebagai mederator.

Acara ini dibuka langsung oleh kerabat Kedaton  Kutai Kartanegara Ing  Martadipura HAP Hario Hadinata . dalam sambutannya mengatakan adat istiadat budaya keraton dan budaya tarsul pada masa sekarang sudah mulai diperkenalkan di masyarakat seperti di even Erau, baik seni tari, upacara adat keraton dan budaya tarsul. “Dengan adanya perkenalan budaya yang diperli-hatkan kepada masyarakat akan memberikan pengetahuan tentang budaya keraton dan budaya tarsul yang ada, hal tersebut merupakan tekad kita bersama bagaimana untuk melestarikan budaya keraton dan budaya tarsul ini, apalagi di zaman saat ini bagi generasi muda sangat penting untuk mengetahui budaya jangan sampai tidak tahu tentang budaya sendiri,”

 Ia menambahkan sebagai lang-kah awal untuk melestarikan bu-daya keraton dan budaya tarsul agar bisa memiliki cara pandang yang sama dalam melakukan  pe-mulihan pariwisata dan dalam membangun pariwisata yang ber-kelanjutan agar pengembangan se-ni budaya khususnya budaya kera-ton dan budaya tarsul dapat men-jadi daya tarik dan nilai jual.

Ia berharap siapapun dan dalam posisi punya kewajiban untuk menjaga, merawat, melestarikan, mengapresiasikan budaya keraton dan budaya tarsul.

Kegunaan Manik – Manik


Manik Sebagai Sarana Upacara Adat (Tari Ritual)

Manik – manik sering juga dianggap mempunyai kekuatan positif yang harus dihadirkan pada suasana kritis, misalnya pada upacara adat. Manik – manik dianggap demikian karena bentuknya yang bulat sebagai lambang kesempurnaan, atau juga karena motifnya yang manggambarkan suatu lambang kekuatan, misalnya bentuk kangkang sebagai lambang roh leluhur yang melindungi. Ritual kaharingan pada masyarakat Dayak, seringkali didominasi oleh gerakan – gerakan dinamis berupa tarian sakral, dan pada saat tarian dilaksanakan manik – manik ini dikenakan.

Manik Sebagai Sarana Perdukunan atau Pengobatan

Kondis sakit diyakini oleh masyarakat tradisional sebagai akibat dari gangguan roh jahat. Karena keyakinan tersebut, sistem pengobatan tradisional harus melibatkan kekuatan positif yang lebih besar. Individu tertentu seperti belian, saman, damang, pemimpin adat, dukun, orang pintar, dan sebagainya dianggap sebagai pihak yang memiliki kekuatan dan otoritas untuk melawan kekutan jahat. Kenyataannya pada beberapa etnis, tokoh individu tersebut melaksanakan tugasnya sebagai agen penyembuhan dengan selalu menggunakan manik – manik sebagai sasarannya.

Manik Sebagai Lambang Status Sosial

Kelangkaan dan nilai tinggi yang dimiliki manik – manik pada jaman dahulu, menjadikan pemiliknya merasa lebih tinggi derajatnya. kepemilikkannya pun hanya orang – orang tertentu saja yang memungkinkan, yakni mereka yang memiliki kemampuan finansial tinggi atau para hartawan. Pemakainya tentu saja dimaksudkan untuk membedakan individu pemakaiannya dengan kebanyakan. Bahkan terkadang digunakan untuk menunjukkan status dibidang keagamaan.

Manik Sebagai Bekal Kubur (Kematian)

Pada umumnya, sebagian besar masyarakat memandang bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupn, melainkan hanya wujud pergantian alam, di alam lain roh masih terus memiliki hubungan dengan sanak keluarga baik bersifat melindingi/menolong maupun bersifat mengganggu. Umumnya kematian dianggap sesuatu yang menakutkan karena saat kritis tersebut selalu diliputi oleh roh jahat. Agar perjalanan setelah kematian menjadi nyaman di alam lain, perlu kiranya kepada si mati diberi pembekalan berupa manik.

Manik Sebagai Penghias Peralatan Rumah Tangga

Peralatan rumah tangga yang dianggap lebih bagus dari pada yang dimiliki orang lain, pemiliknya meras lebih bangga dan status sosialnya terangkat lebih tinggi. Peralatan tersebut biasanya punya keistimewaan tertentu seperti kelangkaan, keindahan, keunikan atau kemahalannya.






 


Ragam Fungsi Manik


Manik Sebagai Mas Kawin

Manik – manik sebagai suatu karya budaya yang memiliki berbagai unsur antar lain bahan yang digunakan dan bentuk fisik yang tangible dan mitos/kepercayaan dan nilai tertentu lainnya yang bersifat intangible. Dari unsur tersebut manik – manik dipandang sebagai sesuatu yang bernilai tinggi/berharga, oleh karena itu manik – manik yang berharga tersebut dapat dijadikan sebagai alat tukar atau Mas Kawin, dan pada beberapa kelompok marsyarakat tertentu digunakan sebagai Mas Kawin sebagaimana yang terjadi di masyarakat Kalimantan Tengah.

Manik Sebagai Jimat

Pembuatan manik dengan ritual dan bahan serta bentuk – bentuk tertentu pada sebagian etnis juga diyakini sebagian masyarakat mempunyai kekuatan magis yang dapat melindungi atau menjaga warga masyarakat atau pemiliknya dari gangguan roh jahat atau makhluk halus. Gangguan roh jahat dan gangguan dari alam gaib buatan manusia dapat mengancam gangguan terhadap tempat tinggal, lahan pertanian, wilayah dan gangguan terhadap alam pikiran manusia. Manik sebagai penolak bala biasanya dipakai saat upacara, atau diletakkan begitu saja dalam rumah, lumbung padi, wilayah pertanian, dan lain sebagainya. Penyang dari Dayak Meratus dan Dayak Ngaju merupakan salah satu rangkaian manik – manik yang digunakan untuk penolak bala, dikenakan oleh pemuka adat kelompok masyarakat tersebut.

Manik Sebagai Benda Pakaian Perhiasan

Keindahan bahan bentuk fisik manik – manik merupakan ungkapan artistik yang dituangkan oleh seseorang dalam dua dimensi atau tiga dimensi. Secara material (bahan), keindahan manik – manik juga didapat dalam bahan alami, berupa kilau bebatuan mulia dan motif – motif alam batu setengah mulia. Namun keindahan juga dapat dihasilkan dari warna proses pembuatan butir – butir manik serta dari penataan untaian manik membentuk konfigurasi tertentu, seperti Sa’sawak manik (ikat pinggang) dari Kalimantan Barat


.